Namaku Sakura Hanazono, saat ini aku terus melihat ke arah jam dinding di kamarku... aku melihat saat ini jam 11.30. Mulai besok, tanggal 1 Januari... aku bukan anak SD lagi, aku adalah anak SMP... aku tak boleh cengeng ataupun terlalu ragu lagi... Tapi setiap kali aku berpikir begitu, muncullah pikiran jahat menghantuiku, "Nasibmu akan sama seperti saat SD, kamu takkan punya teman seorangpun, kamu akan menjadi anak yang bodoh, kamu akan mendapat nilai yang tidak memuaskan...". Pikiran itu terus menghantuiku... benar-benar menyedihkan... akhirnya kuputuskan untuk memejamkan mata sebentar saja. Dan saat aku membuka mata kembali pandanganku ke arah jam dinding... ternyata waktu begitu cepat berlalu, sekarang sudah jam 11.58 pm. Hanya sisa 2 menit lagi saja sudah tahun baru... aku semakin tidak siap. Pikiran negatifku mulai muncul lagi, "Kamu akan menjadi orang yang rendah, semuanya mengharapkan kematianmu! Enyah saja kau!". Kepalaku semakin pusing, entah dari mana pikiran itu muncul, tapi kepala dan hatiku semakin sakit mendengarnya. Aku mulai meneteskan air mata dan bertanya entah pada siapa, "Apa salahku hingga seperti ini? Kenapa aku dibenci? Benarkah orang-orang ingin aku lenyap?". Pikiranku semakin menjadi-jadi, pertanyaan itu semakin menumpuk, akupun mulai tak tahan lagi dengan pikiranku sendiri. Tanpa pikir panjang, aku membuka jendela dan meloncat keluar dari jendela, dan aku pun terjatuh. Sekarang aku malah tersenyum dan berkata, "Sekarang, semuanya pasti bahagia... aku rela mati demi kebahagiaan orang-orang... ayah, ibu, aku akan menyusul kalian...". Tapi saat aku hampir membentur anah, muncullah suara di dalam pikiranku, "Jangan! Kenapa kau melakukan hal ini!! Kumohon berhentilah!". Aku tetap tersenyum dan bebisik, "Semua sudah terlambat...". Akupun membentur tanah dan tak sadarkan diri. Di tahun baru pukul 00.00, aku telah tewas di sini melepas kepenatan dan keputus asaan...
Tapi, tiba-tiba aku membuka mata, dan langsung bertanya, "Di mana ini?"... aku melihat seorang penyihir tua yang membawa jam tua yang sudah jelek. Dia tertawa kecil dan mendekatiku, "Ini alam penyihir. Di mana orang yang tewas dengan karena pikiran negatif dihidupkan kembali," kata nenek itu. Aku terkejut dan berkata pelan, "Ini...mustahil... jangan-jangan...."
Bersambung...
Senin, 31 Desember 2012
♥ ♥ Sweet School! ♥ ♥
Kawaii Gakuen, sekolah berisi anak seleb atau anak kaya yang sangat imut. Sekolah ini sering sekali masuk majalah dan TV maupun koran. "Hicchan!", seru Chinatsu, sang ketua osis. "Ko...Kotomiya-sama!", balas Hinata, asistennya. "Huuh... lihat Kaho nggak?", tanya Chinatsu yang kelihatannya ngos-ngosan. "Kaho? Kaho Aisa?", tanya Hinata balik. "Ya... yah pokoknya gitulah!", jawab Chinatsu dengan muka sedikit blushing. "Oh, dia ke ruang guru tadi, dia laporan soal murid baru...", jawab Hinata sambil membalik-balik map berisi dokumen osis. "Eh, baiklah! Terima kasih Hicchan!", kata Chinatsu sambil berjalan lagi. "Tunggu!", seru Hinata sambil menarik Chinatsu kembali. Firasat buruk Chinatsu kembali menghantuinya, spontan dia berkata, "Aku ingin ke toilet!!". Hinata menghela nafas dan berkomentar dengan tegas sambil menjewer Chinatsu, "Jangan coba-coba kabur atau kulaporkan ketua yayasan agar kepopuleranmu menurun drastis!". Chinatsu dipenuhi ketakutan akan ancaman dari Hinata, dan terpaksa dia bertanya, "Baiklah, ada apa?"."Ini! Dari kepala sekolah untuk ketua! Wakil, Asisten, Sekretaris, dan sebagainya nggak boleh kerjakan ini!", jawab Hinata. Chinatsu menghela nafas dan mulai bercucuran keringat dingin. "Tidak!! Aku harus mengurus murid baru dulu!!", pikir Chinatsu untuk dijadikan sebagai alasan. Tapi Hinata langsung meletakkan semuanya di tangan Chinatsu dan menepuk pipi kiri Chinatsu, "Jangan khawatir, masalah lain akan kuselesaikan bersama Wakil Ketua. Ketua kerja itu saja, ya," kata Hinata sambil tersenyum. Mendadak Chinatsu berdebar, "A....Ada apa ini?", pikir Chinatsu gugup. Chinatsu melihat Hinata yang sudah berjalan ke arah lain.
-Hinata Side-
Haah.... kalian pasti kenal aku dari cerita Orange Sweet Blush itu kan? Ketua memang membuatku repot, aku jadi terpaksa ini itu, tapi yaah... nurut aja, deh... Tapi saat ini, aku harus menemui wakil ketua osis, Kaho Aisa. Dia orangnya cool banget dan pemalu. Huh, repot, kan? Ketua ngerepotin dan wakil ketua yang nggak beres, dua-duanya bikin kesal. Tapi aku harus bersabar untuk menghadapi mereka, kan? Pastinya, deh. "Ah! Aisa!!", seruku saat melihat Aisa. Dia memang cantik, sih, tapi nggak populer (nggak terlalu). "Sa... Satsuki-san?", katanya pelan. Dia dikelilingi oleh 2 murid baru yang akan menuju ke ruang osis. Salah satu dari murid itu imut sekali, kalau nggak salah namanya... Mori Hinata? Ahh!! Hinata Mari!! Yap, dia juga terlihat ramah dan pintar. Dia tersenyum dan menghampiriku, "Senior Satsuki!". Eh, jelas-jelas aku terkejut, dong! Siapa yang senior! aku baru kelas 2 tahu!! Ah... karena marah aku tanya saja, "Memangnya kamu kelas be-ra...". "Kelas 1!", jawabnya sambl tersenyum. Padahal aku kan belum selesai tanya!! Aisa menarikku dan bertanya dengan suara pelan, "Ada apa?". Aku menjadi kesal dan menarik kembali tanganku, "Nggak apa-apa, kok. Selamat tinggal!" kataku kesal. "Ck, dasar... Satsuki bodoh!", geram Aisa. Biar saja, aku lebih pintar dari kamu kok. Dasar Wakil sombong, kapan kamu dibebaskan dari osis?
-Kaho Side-
Hiih, asisten yang sombong banget!! Aku benci! tapi aku kan harus jaga citra... apa boleh buatlah, amarah harus kurendam dalam hati, tapi jangan sampai jadi dendam... haha, lupakan sudah! Tiba-tiba ada yang menepuk punggungku, karena kaget pastinya aku singkirkan tangannya dan menoleh ke arahnya. Ternyata dia adalah...... adalah..... a....d....a...l...a...h.... adalah.....!!
Bersambung....
-Hinata Side-
Haah.... kalian pasti kenal aku dari cerita Orange Sweet Blush itu kan? Ketua memang membuatku repot, aku jadi terpaksa ini itu, tapi yaah... nurut aja, deh... Tapi saat ini, aku harus menemui wakil ketua osis, Kaho Aisa. Dia orangnya cool banget dan pemalu. Huh, repot, kan? Ketua ngerepotin dan wakil ketua yang nggak beres, dua-duanya bikin kesal. Tapi aku harus bersabar untuk menghadapi mereka, kan? Pastinya, deh. "Ah! Aisa!!", seruku saat melihat Aisa. Dia memang cantik, sih, tapi nggak populer (nggak terlalu). "Sa... Satsuki-san?", katanya pelan. Dia dikelilingi oleh 2 murid baru yang akan menuju ke ruang osis. Salah satu dari murid itu imut sekali, kalau nggak salah namanya... Mori Hinata? Ahh!! Hinata Mari!! Yap, dia juga terlihat ramah dan pintar. Dia tersenyum dan menghampiriku, "Senior Satsuki!". Eh, jelas-jelas aku terkejut, dong! Siapa yang senior! aku baru kelas 2 tahu!! Ah... karena marah aku tanya saja, "Memangnya kamu kelas be-ra...". "Kelas 1!", jawabnya sambl tersenyum. Padahal aku kan belum selesai tanya!! Aisa menarikku dan bertanya dengan suara pelan, "Ada apa?". Aku menjadi kesal dan menarik kembali tanganku, "Nggak apa-apa, kok. Selamat tinggal!" kataku kesal. "Ck, dasar... Satsuki bodoh!", geram Aisa. Biar saja, aku lebih pintar dari kamu kok. Dasar Wakil sombong, kapan kamu dibebaskan dari osis?
-Kaho Side-
Hiih, asisten yang sombong banget!! Aku benci! tapi aku kan harus jaga citra... apa boleh buatlah, amarah harus kurendam dalam hati, tapi jangan sampai jadi dendam... haha, lupakan sudah! Tiba-tiba ada yang menepuk punggungku, karena kaget pastinya aku singkirkan tangannya dan menoleh ke arahnya. Ternyata dia adalah...... adalah..... a....d....a...l...a...h.... adalah.....!!
Bersambung....
Minggu, 25 November 2012
Story of Fantasy&Love
"Pokoknya kamu pasti kulindungi! Jadi jangan khawatir!", kata Moriyama-kun. Aku jadi semakin berdebar-debar. "A, anu... Moriyama-kun...", kataku dengan pelan karena malu. "Ya?", "Ah, nggak ada apa-apa, kok! Aku cuma nggak sengaja manggil nama Moriyama-kun saja!", balasku. "Baiklah, kita pergi ke tempat ini, yuk! Ini buat pemula, lho!", kata Moriyama-kun sambil menunjuk salah satu tempat di peta. Nama tempat itu adalah Vláda Požáru. "Apa artinya?", tanyaku. "Kerajaan Api!", jawabnya sambil senyum-senyum. "Eeeeh!!? Kenapa nggak yang lain aja!?", seruku panik. "Soalnya ini buat pemula level 0-3, sih!", balas Moriyama-kun santai. Apa boleh buat, aku terpaksa menurut... payah banget, sih! Tiba-tiba ruangan sekitar berubah menjadi tempat seperti istana api. "Inori, awas!", kata Moriyama-kun sambil menggendongku dengan cepat lalu berlari dengan cepat. "Eh, ada apa?", tanyaku. "Lihat saja sendiri! Ada yang akan menyerang kita!", balas Moriyama-kun sambil menurunkanku. "Eh, i...itu? Cara menyerangnya gimana?", tanyaku lagi. "Saat ini kamu belum punya senjata, tapi bisa menggunakan sihir. Pikirkan saja sihir yang kamu mau!", kata Moriyama-kun sambil menggandengku. "Oh, baiklah! Aku sudah dapat jurusnya!", seruku karena aku sudah mendapat ide jurus. "Inori, di belakang!", seru Moriyama-kun lagi. Aku segera menoleh dan menyerang, "Heilagt vatn!", seruku. Muncullah air yang menyembur, dan 5 musuh telah mati. Di depanku ada tulisan, "Level Up! Skill Up!"
Rasanya senang setengah mati, Moriyama-kun juga ikut senang. "Baguslah Inori...", katanya sambil memelukku. "Aaa... Mo, moriyama-kun...", bisikku karena malu. Seketika ruangan kembali menjadi seperti awal. "Sekarang uang kita 20.000, kita bisa beli barang, deh!", kata Moriyama-kun. "Setelah ini kita ke mana? Ke tempat berikutnya?", tanyaku sambil berjalan mendekati Moriyama-kun. "Tetap di Vláda Požáru, kan levelmu belum 3," jawab Moriyama-kun. Aku sebal... "Ngg... kalau sudah level 3 ke mana?", tanyaku lagi. "Tak perlu buru-buru, kita habiskan natal di sini, tak mungkin selesai secepat itu!", balas Moriyama-kun sambil tertawa geli. "Eh... aku kan nanya kalau sudah ngapain!? Yang kutanya, kan itu!", balasku kesal. "Kalau sudah ya... ke tempat berikutnya, dong!", balas Moriyama-kun sambil mencubit pipiku. "Aaaww!! Sakit, nih! Ngapain, sih!", seruku karena kesakitan. "Habis pipimu imut, sih...", balas Moriyama-kun sambil menggandengku supaya jalan lebih cepat. Mukaku kembali memerah, perkataan Moriyama-kun sangat manis bagiku. "Moriyama-kun... punya orang tua?", tanyaku karena Moriyama-kun tidak cemas soal apapun di sini. "Tidak, tak ada satupun orang yang peduli padaku, kecuali kakak. Kadang-kadang kakak juga tak mau memperhatikanku. Jadinya, aku membuat dunia virtual ini untuk menghilangkan rasa kesepianku...", jawab Moriyama-kun. Aku mengangguk, "Aku juga tidak punya orang tua, kakak atau adik. Jadi setiap hari aku selalu sendiri. Tapi sejak Moriyama-kun menyapaku, aku jadi tak sendirian lagi...", kataku sambil tersenyum. Moriyama-kun ikut tersenyum dan membalas, "Aku juga... aku tahu aku nggak sendiri, aku masih punya Inori. Makanya, aku selalu melihatmu mulai dari awal kamu datang. Sejak kamu datang, yang terbayang di pikiranku cuma kamu... kamu satu-satunya gadis yang kusukai...". Aku kembali berdebar dan mukaku kembali memerah. Baru kali ini aku mendengar ada yang suka padaku... "Moriyama-kun... terima kasih... sudah menyukaiku...", balasku sambil tersenyum ke arah Moriyama-kun. Aku sendiri bingung, mengapa rasanya aku senang sekali seperti saat keluargaku masih lengkap lima orang. "A...apa itu artinya....", pikir Moriyama-kun. "Sepertinya sejak kemarin.... aku juga jadi menyukai Moriyama-kun...", ucapku pelan. "Ah, be...begitu, ya... kalau begitu...", balas Moriyama-kun sambil menyentuh daguku. Muka Moriyama-kun semakin mendekati mukaku, mukaku kembali memerah. "Tutup matamu...", kata Moriyama-kun sambil makin mendekat. Angin yang dihembuskan saat Moriyama-kun bicara terkena bibirku. Aku menurut menutup mata saja. Dan tinggal 1 senti lagi bibir kami bersentuhan ada orang yang datang, karena kaget kami terjungkir ke bawah jurang. "Uwaa!!", seru Moriyama-kun sambil memelukku karena takut aku terjatuh duluan. Moriyama-kun melindungi kepalaku agar kepalaku tidak terluka. Bagaimana kalau Moriyama-kun yang terluka?!
Bersambung....
Caramel Girl-the dark side of the soul that has been cracked
Mayu Ishibashi, gadis berkepribadian ganda yang menjadi penyanyi terkenal dunia. Dia dibuang oleh ayahnya yang sudah kawin lagi dengan perempuan kaya yang sangat cantik, sekarang Mayu diasuh oleh manajernya sendiri. Manajernya sangat menyukai Mayu, ia mengasuh Mayu seperti mengasuh anaknya sendiri. Mayu juga menganggap manajernya adalah ibunya sendiri. Mayu juga sangat menyayangi manajernya dan bersikap baik dan lembut ketika bersama manajernya. Mayu memiliki sifat yandere yang ditampilkannya saat bersama orang lain, dan sifat baik saat berhadapan dengan manajernya. Tapi terkadang, Mayu menampilkan sifat yang benar-benar jahat sehingga membuat orang takut. Mayu sangat suka menyanyi sehingga suatu hari ia mendapat stress karena terlalu banyak berlatih. Mayu ambruk saat latihan vokal, ia terus memegangi kepalanya yang terasa sangat pusing. "Uuh..... Ada apa dengan kepalaku? Kenapa terasa pusing sekali? Tubuhku juga terasa sangat berat... apa yang terjadi?", pikir Mayu yang masih diangkut oleh para staff yang dipanggil oleh manajernya. Mayu yang tak kuat menahan rasa sakit itu langsung pingsan. Saat pingsan, ada seorang staff yang melihat bayangan Mayu yang tersenyum lebar sambil membawa kapak, dan di kapaknya, menetes darah yang banyak. Di dalam hati Mayu terdengar suara tawa yang seperti suaranya, "Hihihi...". Mayu membuka matanya dalam mimpi dan melihat ada cermin di depannya, Mayu berdiri dan menyentuh cermin itu, tiba-tiba muncul sosok seseorang yang membawa kapak berlumuran darah, dan orang itu sangat mirip dengan Mayu. Mayu menjadi terkejut dan langsung bertanya dengan ketakutan, "Si, siapa kamu?". Orang yang terpantul di cermin itu menjawab, "Akulah kamu, akulah sifat jahatmu yang selama ini sudah membuat orang sebanyak itu ketakutan. Mereka selalu merasa kamu menyebalkan, karena kesal maka muncullah aku, sifat jahatmu. Aku sengaja membebanimu sehingga kamu pingsan, dengan begitu kita bisa bicara di sini tanpa gangguan. Karena kesal akan kelambananmu, kesabaranku sudah habis sekarang... jadi....". Sosok itu keluar dari cermin dan Mayu semakin ketakutan, gadis itu mengarahkan kapaknya yang berlumuran darah, darah dari kapak itu menetes hingga mengenai kepala Mayu. Tetesan darah itu mulai mengalir ke tangan Mayu, dan Mayu kembali melihat ke gadis itu. Gadis itu sudah mengarahkan kapak ke kepala Mayu. Karena takut, Mayu berteriak, "Kyaaaaa!!!". Tapi gadis itu tak menghentikan ayunan kapaknya, justru semakin cepat, Mayu menangis karena ketakutan, Mayu ingin berlari, tapi kakinya seperti dicengkram oleh tangan yang begitu kuat. Tapi Mayu terus menerus melangkah mundur dengan langkah berat, sehingga pada akhirnya ia kelelahan dan terjatuh, sementara gadis itu berlari dengan ringan dan cepat. Mayu semakin gemetaran, Mayu tidak ingin mati sebelum mensukseskan agency milik manajernya. "Tunggu! Sebelum kamu membunuhku, tolong beri aku kesempatan sekali saja untuk mensukseskan manajerku? Kumohon! Aku berjanji tak akan lama! Jadi tolonglah aku!", seru Mayu sambil menangis memohon, "Huh, keinginan kita sama karena kita adalah orang yang sama! Makanya itu, biar aku saja yang melakukannya! Biar kamu istirahat dengan tenang di sini!1", balas gadis itu sambil mengayunkan kapak ke kepala Mayu. Hanya 1 mili lagi saja Mayu sudah mati, tapi gadis itu sengaja menghentikannya. Mayu melihat gadis itu, dia mengangkat kapaknya kembali. Mayu bertanya, "A... ada apa? Ke, kenapa kamu berhenti?". Gadis itu menatap Mayu dengan tajam, Mayu menjadi kembali ketakutan. "Kalau aku yang melakukannya, semuanya pasti tidak suka, dan kalau kupikir balik...", balas gadis itu, tapi dia tidak mau meneruskan ucapannya. Mayupun ikut diam, Mayu merasa bersalah setelah mendengar itu. Mayu selalu berpikir bahwa, 'tidak ada satupun orang yang terluka karena aku, semuanya pasti menyukai aku'. Tapi sekarang Mayu sadar, ia sudah melukai banyak orang. Mayu berdiri dan mengambil boneka kecil yang selalu ada di kantung rok Mayu. "I...ini untukmu, aku minta maaf sudah melukaimu... aku sudah menyadari, aku sangat berdosa... dulu aku merasa membenci ayah dan membuatmu bangkit. Tapi akhirnya aku tahu, kamu tidak ingin terlahir sepertiku!", kata Mayu sambil menyerahkan boneka itu. Kapak yang dipegang gadis itu jatuh, gadis itu meneteskan air matanya yang tidak diperlihatkan sama sekali tadi. Mayu menjadi heran, boneka yang ia berikan tiba-tiba hilang seperti debu yang ditiup. "Hahaha, aku tak pernah mengira jalan ceritanya menjadi begini... Akulah Mayu, dirimu. Aku terlahir karena rasa dendammu pada ayah yang sudah membuangmu. Tapi aku tak menyesal terlahir sebagai dirimu, karena aku juga menyayangi manajer... dan kamu. Sebenarnya aku tak ingin membunuhmu, tapi demdammu yang mengarahkanku. Makanya aku menghentikan ayunan kapakku mati-matian. Terima kasih sudah membangkitkanku, aku tak akan muncul lagi..." kata gadis itu sambil mengambil pisau kecil di kantung rok-nya sambil mengarahkan ke jantungnya. Mata Mayu terbelalak, Mayu tidak mau gadis itu mati, tapi kaki Mayu masih terasa dipegang erat oleh makhluk aneh. "Tu....Tunggu! Tunggu!!!", seru Mayu sambil mengarahkan tangannya ke arah gadis yang sebentar lagi mati itu. "Selamat tinggal... diriku...", kata gadis itu lagi sambil tersenyum ramah. "Tidak! Jangaan!!", seru Mayu lagi, Mayu berusaha lari, tapi sudah terlambat pisau itu sudah menancap ke jantung gadis itu, gadis itu kembali tersenyum ke arah Mayu dan perlahan mendekat. Mayu menangis jadi-jadian, Mayu sangat menyesal. "Sudahlah... sekarang, kamu tak punya beban lagi, kan... berbahagialah...", kata gadis itu sambil menolong Mayu berdiri. Mayu segera memeluk gadis itu, "Walaupun berpisah, tetaplah ada dalam diriku... aku akan sangat merindukanmu...", kata Mayu sambil menangis dan tetap memeluk gadis itu. "Terima kasih sudah menerimaku... Mayu...", balas gadis itu sambil tetap tersenyum. Perlahan gadis itu menghilang dan terus menghilang. Hingga pada akhirnya, gadis itu hilang seluruhnya. Mayu menangis semakin menjadi-jadi, Mayu tak rela salah satu sisinya pergi. Sekarang Mayu sudah tidak dapat lagi berbuat jahat.
"Mayu! Mayu! Ah!", panggil seseorang. Mayu mulai membuka matanya, dia melihat sekelilingnya. "Ini di mana?", tanya Mayu. "Ini di rumah sakit... syukurlah kamu sudah sadar...", jawab seseorang. Mayu melihat ke arah suara yang menjawabnya tadi. "Ma...manajer!", seru Mayu sambil bangun dari tempat tidurnya. "Iya... ini aku...", balas manajer sambil memeluk Mayu dengan lembut. Mayu jadi teringat akan sisi gelapnya, "Walaupun aku berbuat jahat, dia tak mungkin bisa kembali...". Waktu terus berputar dan tak mungkin bisa kembali... Semua yang sudah terjadi tak mungkin kembali selamanya meskipun satu kali saja. Oleh karena itu, penyesalan selalu datang terlambat untuk selamanya...
Caramel Girl-the dark side of the soul that has been cracked
*END*
Sabtu, 24 November 2012
Cacao Pop
Sudah 3 hari setelah hari sial itu, dan yang kupahami sekarang adalah... waktu benar-benar terulangi. Seharusnya aku bisa bebas dari kerja model, tapi gara-gara Aru-kun datang, segalanya jadi kacau balau, deh! Aru-kun betul-betul bawa sial. Hari ini ada pekerjaan menjadi aktris pengganti. Huh... sudah gitu mana lawan mainnya Aru-kun lagi. Apalagi dramanya rate Ecchi!! Aku nggak mau!! "Momo-chan, dramanya sudah mau dimulai, hari ini gladi resik, lho!", panggil Aru-kun sambil memukulkan naskah skenario yang digulung ke kepalaku. Jelas saja aku mengamuk dan menendang Aru-kun, nggak salah, kan?
Huh, gladi resik hari ini harus dianggap seperti saat drama betulan, habis di-shoot kamera, sih. Saat peran di mana aku menyatakan cinta pada Aru-kun adalah penyesalan seumur hidupku. "Aku suka padamu Hiro-kun.... sudah lama aku menyukaimu, tapi aku malu mengungkapkannya...", kataku, tapi ini dalam drama, ini skenario. Namaku adalah Motosuki Aruha, Aru-kun adalah Hiro Kagawa. "Aruha-san, sebenarnya aku juga... sejak lama suka padamu, tapi kukira kamu sudah mengerti", balas Hiro-kun alias Aru-kun. Di skenario berikutnya, aku menangis senang karena diterima, aku pakai obat air mata, deh... "Maukah kamu menjadi istriku Aruha-san?", tanya Hiro-kun. Aku terkejut, itu tak ada di skenario! Aru-kun hanya mengarang-ngarang cerita itu sendiri! Gi, gimana, nih! Produser juga nggak ada! Akhirnya aku kebingungan dan terus diam. Sementara Aru-kun mendekatiku sambil menyentuh pipiku. "Heii, Aru-kun! Mana ada skenario beginian hah!!?", bisikku dengan kesal. "Sst... kamu harus menghayati tiap peran dalam drama, kalau begini kamu tak perlu pakai obat air mata, kan!", balas Aru-kun dengan berbisik juga. Tapi aku tetap tak mau, aku menolak dengan keras dan membantah berkali-kali. Sampai akhirnya Aru-kun memelukku dengan erat sampai aku tak bisa bergerak. "Aruha-san, kalau kamu menyukaiku setulus hati, mengapa kamu tak mau ada di dekatku?", tanya Aru-kun dengan penuh penghayatan. "Ka, karena Hiro-kun terlalu cepat berkata ingin menikah, aku jadi gugup, kan!", balasku sambil menjauh sedikit-sedikit dari Aru-kun. Aru-kun kembali mendekatiku dengan cepat dan menggendongku ke kamar untuk Shoot drama. "Di sini kita hanya berduaan, kan... jangan malu, ya...", katanya lagi sambil membaringkan aku di tempat tidur. "Aru-kun, ini bagian akhir cerita!", bisikku lagi. "Lewatkan saja bagian membosankan itu oke... bagian klimaks adalah adegan yang paling seru.", balasnya sambil menyentuh pipiku lagi. "Aruha-san, di mana kamu membeli baju gothic yang manis ini? Sepertinya aku terpesona melihatnya...", kata Hiro-kun sambil memegang ujung rokku. "Ah, baju ini.... rahasia, dong! Hiro-kun nggak mungkin membeli ini, kan. Hahaha!", balasku sesuai skenario. "Ah, kamu benar, ya Aruha-san! Hahaha!! Aku kan bukan lolicon!", balas Hiro-kun sambil tertawa. Dalam hatiku aku berpikir 'Bukan Lolicon Apanya?!' saking kesalnya diriku padanya. "Aruha-san, boleh aku menciummu?", tanya Hiro-kun sambil menaikkan tubuhnya di atasku. Spontan aku berteriak, "Hyaaaaaaaa!!!!". Semuanya langsung melongo, mereka yang tadi menikmati drama ini (dasar mesum!) menjadi tercengang karena aku berteriak, termasuk Aru-kun. "Huh, sudah! Aku berhenti dari drama ini! Jadi, hush hush! Menyingkirlah Aru-kun mesum!", kataku dengan kesal sekali. "Tak bisa begitu, dong! Dramanya harus selesai sekarang! Kamu mau diganti siapa? Kamu mau aku sama cewek lain?", tanya Aru-kun sambil mencubit pipiku. "Eh, eeh! Biar saja, kok! Aku nggak peduli!", seruku sambil memukul tangan Aru-kun yang mencubitku. "Kalau kamu berhenti aku juga berhenti! Kenapa kamu nggak mengerti perasaanku?!", balas Aru-kun dengan muka agak kesal. Tiba-tiba jantungku berdebar dengan kencang, "A... apa yang harus kupahami?", tanyaku dengan muka sok cuek. "Aku... sebenarnya sudah menyukaimu sejak pertama bertemu! Tapi kenapa kamu masih begini juga!", seru Aru-kun. Mukaku menjadi merah padam dan aku menjadi gemetaran. Aru-kun menutup mataku dengan tangannya lalu menciumku dengan paksa. "Aru-kun... Aru-kun... ternyata... punya sifat liar begini, ya... baiklah...", pikirku sambil menikmati ciuman dari Aru-kun. Setelah beberapa menit diam Aru-kun melepaskan tangannya dan mendekati telingaku. "Momo-chan, maukah kamu menjadi pacarku?", bisiknya dengan pelan sekali. Aku hanya diam sambil memiringkan kepala ke arah yang berlawana dengan Aru-kun. Aru-kun melurusan kepalaku dan menggigit leherku dengan keras. "Uwaaaaaaaa!!!", jeritku karena kesakitan, dan spontan aku menampar Aru-kun. Gi, gimana, nih...
Bersambung...
Huh, gladi resik hari ini harus dianggap seperti saat drama betulan, habis di-shoot kamera, sih. Saat peran di mana aku menyatakan cinta pada Aru-kun adalah penyesalan seumur hidupku. "Aku suka padamu Hiro-kun.... sudah lama aku menyukaimu, tapi aku malu mengungkapkannya...", kataku, tapi ini dalam drama, ini skenario. Namaku adalah Motosuki Aruha, Aru-kun adalah Hiro Kagawa. "Aruha-san, sebenarnya aku juga... sejak lama suka padamu, tapi kukira kamu sudah mengerti", balas Hiro-kun alias Aru-kun. Di skenario berikutnya, aku menangis senang karena diterima, aku pakai obat air mata, deh... "Maukah kamu menjadi istriku Aruha-san?", tanya Hiro-kun. Aku terkejut, itu tak ada di skenario! Aru-kun hanya mengarang-ngarang cerita itu sendiri! Gi, gimana, nih! Produser juga nggak ada! Akhirnya aku kebingungan dan terus diam. Sementara Aru-kun mendekatiku sambil menyentuh pipiku. "Heii, Aru-kun! Mana ada skenario beginian hah!!?", bisikku dengan kesal. "Sst... kamu harus menghayati tiap peran dalam drama, kalau begini kamu tak perlu pakai obat air mata, kan!", balas Aru-kun dengan berbisik juga. Tapi aku tetap tak mau, aku menolak dengan keras dan membantah berkali-kali. Sampai akhirnya Aru-kun memelukku dengan erat sampai aku tak bisa bergerak. "Aruha-san, kalau kamu menyukaiku setulus hati, mengapa kamu tak mau ada di dekatku?", tanya Aru-kun dengan penuh penghayatan. "Ka, karena Hiro-kun terlalu cepat berkata ingin menikah, aku jadi gugup, kan!", balasku sambil menjauh sedikit-sedikit dari Aru-kun. Aru-kun kembali mendekatiku dengan cepat dan menggendongku ke kamar untuk Shoot drama. "Di sini kita hanya berduaan, kan... jangan malu, ya...", katanya lagi sambil membaringkan aku di tempat tidur. "Aru-kun, ini bagian akhir cerita!", bisikku lagi. "Lewatkan saja bagian membosankan itu oke... bagian klimaks adalah adegan yang paling seru.", balasnya sambil menyentuh pipiku lagi. "Aruha-san, di mana kamu membeli baju gothic yang manis ini? Sepertinya aku terpesona melihatnya...", kata Hiro-kun sambil memegang ujung rokku. "Ah, baju ini.... rahasia, dong! Hiro-kun nggak mungkin membeli ini, kan. Hahaha!", balasku sesuai skenario. "Ah, kamu benar, ya Aruha-san! Hahaha!! Aku kan bukan lolicon!", balas Hiro-kun sambil tertawa. Dalam hatiku aku berpikir 'Bukan Lolicon Apanya?!' saking kesalnya diriku padanya. "Aruha-san, boleh aku menciummu?", tanya Hiro-kun sambil menaikkan tubuhnya di atasku. Spontan aku berteriak, "Hyaaaaaaaa!!!!". Semuanya langsung melongo, mereka yang tadi menikmati drama ini (dasar mesum!) menjadi tercengang karena aku berteriak, termasuk Aru-kun. "Huh, sudah! Aku berhenti dari drama ini! Jadi, hush hush! Menyingkirlah Aru-kun mesum!", kataku dengan kesal sekali. "Tak bisa begitu, dong! Dramanya harus selesai sekarang! Kamu mau diganti siapa? Kamu mau aku sama cewek lain?", tanya Aru-kun sambil mencubit pipiku. "Eh, eeh! Biar saja, kok! Aku nggak peduli!", seruku sambil memukul tangan Aru-kun yang mencubitku. "Kalau kamu berhenti aku juga berhenti! Kenapa kamu nggak mengerti perasaanku?!", balas Aru-kun dengan muka agak kesal. Tiba-tiba jantungku berdebar dengan kencang, "A... apa yang harus kupahami?", tanyaku dengan muka sok cuek. "Aku... sebenarnya sudah menyukaimu sejak pertama bertemu! Tapi kenapa kamu masih begini juga!", seru Aru-kun. Mukaku menjadi merah padam dan aku menjadi gemetaran. Aru-kun menutup mataku dengan tangannya lalu menciumku dengan paksa. "Aru-kun... Aru-kun... ternyata... punya sifat liar begini, ya... baiklah...", pikirku sambil menikmati ciuman dari Aru-kun. Setelah beberapa menit diam Aru-kun melepaskan tangannya dan mendekati telingaku. "Momo-chan, maukah kamu menjadi pacarku?", bisiknya dengan pelan sekali. Aku hanya diam sambil memiringkan kepala ke arah yang berlawana dengan Aru-kun. Aru-kun melurusan kepalaku dan menggigit leherku dengan keras. "Uwaaaaaaaa!!!", jeritku karena kesakitan, dan spontan aku menampar Aru-kun. Gi, gimana, nih...
Bersambung...
Story of Fantasy&Love
Matahari pagi yang bersinar, langit biru muda yang indah, burung-burung yang riang berkicau... semuanya karena kehebatan Tuhan. Dan berkat-Nya aku ditunjukkan seseorang yang tanpa kebetulan menjadi tetanggaku dan sekelas denganku. Apa yang kuinginkan terkabul, kecuali satu... yaitu... keberanianku untuk menyapanya!!! Huweee!! Kalau begini gimana caranya mau akrab? Sementara dia populer banget, aku yang murid baru mana kenal orang-orang sekitar!? Makanya, di sekolah aku memunculkan sifat YANDERE-ku yang kalau di rumah berubah menjadi TSUNDERE. Jadi intinya, kenyataan sudah kubalik... nggak mungkin bisa menyapa orang. Lagipula aku adalah anak super pendiam yang masih diasingkan oleh anak-anak lain, setiap pagi aku ada di sekolah paling pagi, aku jadi terus menerus sendirian. Tapi, karena tidak menyolok, tidak ada yang mengenalku, termasuk guru dan kepala sekolah, dasar gila! Masa murid sendiri yang namanya gampang, "Inori Yuzuri", hiiih!!!!! Haah... apa aku segitu tidak menyoloknya?
Bulan Desember tanggal 19... Ah... sebentar lagi natal, ya... walaupun sudah 3 bulan lewat, aku tetap sendiri, ya... Tapi di tengah kemurunganku ada seseorang yang memanggilku, "Inori!". Aku sangat kaget hingga menoleh, dan aku melihat seorang laki-laki yang memanggil nama kecilku. "Eh... Moriyama-kun...", pikirku dengan muka yang memerah seperti tomat. "Ya, kamu! Ayo, jangan menunduk, lihat mata orang yang ngajak bicara!", kata laki-laki itu sambil menyentuh daguku dan menaikkan wajahku. Mukaku semakin memerah melihatnya. "A, anu... ada a, apa...?", tanyaku dengan gagap dan malu-malu. "Hm... ikut aku, deh!", katanya sambil menggandeng tanganku dan menngajakku lari. "Namaku Tsuhiro Moriyama, kalau kamu kenal aku kamu juga pasti kenal kakakku, Tsuhiro Tatsuyo," katanya sambil tersenyum kepadaku. Padahal aku suka pada Tatsuyo, tapi kenapa aku malah berdebar hingga mau meledak di depan Moriyama-kun?? Apakah hatiku berbeda dengan pikiranku? Atau mungkin karena mereka memang kembar jadi mirip? Aaaakh!! Hatiku jadi kacau balau! Lupakan saja, deh! Oh, ya... kalau kupikir-pikir lagi, Moriyama-kun nggak populer dan sama sekali tak ada yang pernah dengar namanya, jadi dia juga tak pernah digosipkan... Apakah benar... Moriyama-kun juga nggak menyolok? Padahal adik kembarnya Tatsuya-kun. "Moriyama-kun... punya berapa teman?", tanyaku penasaran. "Yah... gimana, ya... mungkin belum ada?", jawabnya dengan muka merah. Aku tertawa kecil karena merasa aneh. "Apakah kakakmu mau menemani Moriyama-kun?", tanyaku lagi. "Tidak, akhir-akhir ini kakak berkata kalau dia sedang menyukai seseorang yang katanya tidak akan disukai orang lain...", jawabnya lagi sambil menghentikan langkahnya di depan sebuah pintu yang cukup tinggi. "Eh, memangnya Moriyama-kun nggak suka seseorang?", tanyaku untuk ketiga kalinya. "Ya iya, dong! Menginjak masa remaja rasa suka pasti muncul!", jawabnya dengan malu-malu. "Eh... tapi ngomong-ngomong... pintu apa ini?", tanyaku lagi. "Pintu ini... ng, masuk saja, deh!", jawabnya sambil terus menggandeng tanganku. "Eh, tapi kalau ada bahaya gimana?", tanyaku dengan ragu dan takut. "Tenang saja, kita kan bersama!", jawabnya sambil tersenyum menyemangati. "Baiklah!", jawabku dengan senyum tulus, Moriyama-kun memang sangat baik... "Yak, begitu turun kita lompat!", kata Moriyama-kun sambil mulai membuka pintu. Aku penasaran pada kata "turun" dan "lompat". Sehingga aku bertanya, "A, apa maksudmu?!". "Karena hanya aku yang tahu isi pintu ini, jadi ikutilah perintahku!", jawabnya sambil menarik tanganku dan benar benar jatuh. Aku semakin ketakutan, tapi Moriyama-kun mengerti dan dia memelukku. "Moriyama-kun...", pikirku saat itu, jantungku tak berhenti berdebar. Hingga akhirnya kami sampai di bawah. Aku yang tadi ketakutan menjadi lega sekali, tapi anehnya, bajuku langsung berganti, tapi Moriyama-kun tidak. "A, ada apa ini!!?", seruku sambil melihat sekeliling. "Ini adalah dunia virtual 2 dimensi, Guilty Crown, kita akan bisa kembali kalau sudah mendapatkan mahkota kerajaan Guilty. Sebelum mendapatkannya, kita tak bisa kembali. Dan sekali kamu mati di sini asalkan masih punya skill dan level yang melebihi 5, maka kamu akan bangkit, tapi level atau skill-mu akan berkurang. Tapi jika tidak ada sisa skill dan levelmu belum mencapai 5 saat mati, maka kamu takkan bisa kembali ke dunia nyata. Kalau aku, sih, beda! Kan aku yang pegang kuncinya!", jawab Moriyama-kun panjang lebar. "A, apaan!? Kamu nggak bilang kalau jadi kayak gini!!", seruku dalam hati, aku tak ingin image-ku rusak di depan orang, terutama cowok. "Yak, GAME START!!". "Eh, apa ini? Pilih tempat pertama?", tanyaku karena ada layar besar di depan kami. "Yah... maksudnya kamu disuruh memilih tempat untuk dihampiri pertama kali. Bisa beli tapi uang kosong...", kata Moriyama-kun. Aku semakin kecewa. Game apaan, niiiih!!! Game sial sepanjang sejarah!!!
Bersambung <><><><><>
Siiplah! Tunggu, ya, lanjutannya!
Bulan Desember tanggal 19... Ah... sebentar lagi natal, ya... walaupun sudah 3 bulan lewat, aku tetap sendiri, ya... Tapi di tengah kemurunganku ada seseorang yang memanggilku, "Inori!". Aku sangat kaget hingga menoleh, dan aku melihat seorang laki-laki yang memanggil nama kecilku. "Eh... Moriyama-kun...", pikirku dengan muka yang memerah seperti tomat. "Ya, kamu! Ayo, jangan menunduk, lihat mata orang yang ngajak bicara!", kata laki-laki itu sambil menyentuh daguku dan menaikkan wajahku. Mukaku semakin memerah melihatnya. "A, anu... ada a, apa...?", tanyaku dengan gagap dan malu-malu. "Hm... ikut aku, deh!", katanya sambil menggandeng tanganku dan menngajakku lari. "Namaku Tsuhiro Moriyama, kalau kamu kenal aku kamu juga pasti kenal kakakku, Tsuhiro Tatsuyo," katanya sambil tersenyum kepadaku. Padahal aku suka pada Tatsuyo, tapi kenapa aku malah berdebar hingga mau meledak di depan Moriyama-kun?? Apakah hatiku berbeda dengan pikiranku? Atau mungkin karena mereka memang kembar jadi mirip? Aaaakh!! Hatiku jadi kacau balau! Lupakan saja, deh! Oh, ya... kalau kupikir-pikir lagi, Moriyama-kun nggak populer dan sama sekali tak ada yang pernah dengar namanya, jadi dia juga tak pernah digosipkan... Apakah benar... Moriyama-kun juga nggak menyolok? Padahal adik kembarnya Tatsuya-kun. "Moriyama-kun... punya berapa teman?", tanyaku penasaran. "Yah... gimana, ya... mungkin belum ada?", jawabnya dengan muka merah. Aku tertawa kecil karena merasa aneh. "Apakah kakakmu mau menemani Moriyama-kun?", tanyaku lagi. "Tidak, akhir-akhir ini kakak berkata kalau dia sedang menyukai seseorang yang katanya tidak akan disukai orang lain...", jawabnya lagi sambil menghentikan langkahnya di depan sebuah pintu yang cukup tinggi. "Eh, memangnya Moriyama-kun nggak suka seseorang?", tanyaku untuk ketiga kalinya. "Ya iya, dong! Menginjak masa remaja rasa suka pasti muncul!", jawabnya dengan malu-malu. "Eh... tapi ngomong-ngomong... pintu apa ini?", tanyaku lagi. "Pintu ini... ng, masuk saja, deh!", jawabnya sambil terus menggandeng tanganku. "Eh, tapi kalau ada bahaya gimana?", tanyaku dengan ragu dan takut. "Tenang saja, kita kan bersama!", jawabnya sambil tersenyum menyemangati. "Baiklah!", jawabku dengan senyum tulus, Moriyama-kun memang sangat baik... "Yak, begitu turun kita lompat!", kata Moriyama-kun sambil mulai membuka pintu. Aku penasaran pada kata "turun" dan "lompat". Sehingga aku bertanya, "A, apa maksudmu?!". "Karena hanya aku yang tahu isi pintu ini, jadi ikutilah perintahku!", jawabnya sambil menarik tanganku dan benar benar jatuh. Aku semakin ketakutan, tapi Moriyama-kun mengerti dan dia memelukku. "Moriyama-kun...", pikirku saat itu, jantungku tak berhenti berdebar. Hingga akhirnya kami sampai di bawah. Aku yang tadi ketakutan menjadi lega sekali, tapi anehnya, bajuku langsung berganti, tapi Moriyama-kun tidak. "A, ada apa ini!!?", seruku sambil melihat sekeliling. "Ini adalah dunia virtual 2 dimensi, Guilty Crown, kita akan bisa kembali kalau sudah mendapatkan mahkota kerajaan Guilty. Sebelum mendapatkannya, kita tak bisa kembali. Dan sekali kamu mati di sini asalkan masih punya skill dan level yang melebihi 5, maka kamu akan bangkit, tapi level atau skill-mu akan berkurang. Tapi jika tidak ada sisa skill dan levelmu belum mencapai 5 saat mati, maka kamu takkan bisa kembali ke dunia nyata. Kalau aku, sih, beda! Kan aku yang pegang kuncinya!", jawab Moriyama-kun panjang lebar. "A, apaan!? Kamu nggak bilang kalau jadi kayak gini!!", seruku dalam hati, aku tak ingin image-ku rusak di depan orang, terutama cowok. "Yak, GAME START!!". "Eh, apa ini? Pilih tempat pertama?", tanyaku karena ada layar besar di depan kami. "Yah... maksudnya kamu disuruh memilih tempat untuk dihampiri pertama kali. Bisa beli tapi uang kosong...", kata Moriyama-kun. Aku semakin kecewa. Game apaan, niiiih!!! Game sial sepanjang sejarah!!!
Bersambung <><><><><>
Siiplah! Tunggu, ya, lanjutannya!
Jumat, 23 November 2012
The Girl Who Cursed by the Church
Berjam-jam aku menunggunya hingga sore hari, tapi Murasama tidak datang juga. Apakah Murasama lupa padaku? Kembali aku menunggunya dan saat kulihat jam sekarang sudah jam 12 malam, sebentar lagi esok hari. Akhirnya aku memutuskan untuk menyerah dan kembali bekerja sendiri di sini. Tapi tiba-tiba pintu terbuka. "Ryu... Ryuko...", katanya sambil menepuk pundakku. "Oh... Murasama...",jawabku sambil menoleh kecil. "Maafkan aku Ryuko! Aku kira jam temunya pukul 12 seperti kemarin...", kata Murasama dengan ragu. "Baiklah... maaf aku sudah memaksamu kemari, kamu boleh pulang, kok," balasku putus asa. "Ti, tidak! Ryuko... kamu lupa kita sudah berteman? Bukannya kemarin kamu yang menyuruhku kemari?!", seru Murasama sambil menahan aku yang ingin keluar dari Galeri tempat temu. "Ya, ya! Aku mengajakmu dan ingin kita berteman! Tapi kamu harus bisa menjaga perasaan orang lain, dong! Apa kamu kira seorang teman bisa selalu bersabar untuk temannya yang tidak tahu diri?! Cukup sudah! Kamu nggak ada artinya di depanku! Kamu bukan siapa-siapa bagiku! Seharusnya kamu juga terkutuk agar tahu rasanya penderitaanku yang seperti ini!! Aku benci kamu!!!", bentakku dengan keras. Gara-gara Murasama hatiku jadi kacau! Aku menyesal sudah mengenal Murasama. "Ryuko... kamu kira aku adalah orang yang sempura yang bisa menjinakkan kamu? Itu mustahil! Tapi walaupun begitu, aku tetap sayang padamu... ternyata, surat yang kamu berikan kemarin tidak majur... apa yang kuinginkan tidak bisa terkabulkan!", kata Murasama dengan nada berat. "Memangnya apa yang kamu tulis di sana?!", seruku lagi dengan nada sombong. "Aku ingin kita menjadi sahabat sejati selamanya!", jawabnya dengan lirih, yang kutahu... hati Murasama juga sakit sepertiku. "Maafkan aku Murasama! Aku bukan sahabat yang sesuai denganmu! Kita berbeda! Sangat berbeda! Aku tak bisa keluar dari tempat ini... tempat ini adalah sumber jiwaku. Kalau aku keluar dari Kyoukai ga Hinan ini aku akan sesak nafas, kemungkinan aku juga akan mati...", kataku sambil mendekati Murasama. Murasama yang melihatku mulai mendekat segera mempercepat langkahnya dan memelukku dengan erat. "Ryuko, aku juga minta maaf... aku sudah tak menepati janjiku dan malah berkata kasar padamu... aku menyesal... tapi satu hal yang tak kusesali... bertemu denganmu...", kata Murasama sambil memelukku. Aku yang berada dalam pelukan Murasama secara tidak sadar meneteskan air mata yang mulai membasahi pipiku. Aku ingin melepas Murasama agar tak membebaninya, tapi karena keputusankulah Murasama menjadi terluka. "Murasama, aku minta maaf! Sangat minta maaf! Maaf karena aku sudah membuatmu terluka... aku juga menyesal...", kataku dengan pelan sambil menangis. Murasama tersenyum dan mengelus kepalaku, lalu ia berkata kepadaku, "Aku sudah melepaskan dendamku pada gadis itu. Yang kuinginkan sekarang adalah menjadi temanmu... jadi, maukah kamu menjadi temanku, Ryuko?". Aku hanya mengangguk pelan.
Selanjutnya, yang akan menantiku pasti adalah hal yang indah... asalkan, ada Murasama di sisiku...
Aku pasti baik-baik saja! Jadi tenang saja dan jangan pernah ragu menghadapi masa depan, karena dari sanalah muncul kebaikan yang menantimu...
Bersambung...
Gomen bentar! >_< Aku capek, siih!!
I Talk True! ~Orange sweet blush~
Namaku Chinatsu Kotomiyu, anak SMP kelas 3, sama seperti Hinata, tapi aku adalah ketua osis, Hinata bukan. Dan satu lagi, aku lebih populer karena aku seorang anggota osis. Hukum di sekolah ini adalah, "Anggota osis harus dihormati dan disegani, anggota osis adalah anggota yang populernya takkan kalah!". Huh, jadi anggota osis itu merepotkan sekali! Harus ini itu... Huuh! Sekolah ini jarang meliburkan anggota osis dan justru meliburkan para guru! Iiiiiiiiiikh!!!! Kesaal!!! Sekali-sekali aku ingin kabur! Tapi aku takut mempermalikan sekolah ini! Hiks hiks hiks... tolong aku... ah!! Hinata! Aku mau minta Hinata menggantikanku setiap hari Senin sampai Kamis... jadi aku cuma Jum'at sampai Minggu! Berhasil, saatnya untuk minta tolong pada Hinata...
Aku segera berlari ke arah Hinata dan menyapanya, "Hai, Hina-tan!". "Koto-sama?!", seru Hinata yang terkejut. Aku hanya membalas dengan senyuman. "A, ada apa?", tanya Hinata sambil mundur satu langkah. "Hahaha! Aku hanya ingin kamu menggantikan aku setiap Senin sampai Kamis. Jangan ragu-ragu gitu dong! Yak, sudah, kok! Itu saja! Makasih Hina~", kataku sambil menyerahkan dokumen-dokumen osis yang kubawa tadi. "Eh! Tunggu! Koto-sama!!", seru Hinata aku pura-pura tak dengar, aku justru berlari menjauh dengan cepat. "Koto-sama sialan!", pikir Hinata dengan kesal. Hahaha... memangnya aku begitu, ya? Yah... biar saja, deh! Sekarang aku bisa santai! Yap, biar saja Hinata menjadi anggota osis sementara, biarlah itu terjadi, ya, kan! Siip!! Yak... yang kukatakan ini benar, kan? Tentu saja! Aku juga mengatakan hal yang benar pada Hinata! Tapi Hinata yang kesal datang menghampiriku dan berteriak, "Koto-sama!!". Dia berteriak dengan keras dan nada kesal. "A, ada apa?", tanyaku sambil menoleh ke arahnya. "Ini kukembalikan! Aku nggak mau!!", jawab Hinata sambil mengembalikan dokumen-dokumen osis yang kuberi tadi. "Eh? Kenapa? Bukannya Hinata mau menjadi paling populer? Ketua osis paling populer, lho!", kataku sambil menggenggam tangan Hinata yang kecil. "Soalnya... aku... aku nggak pintar juga nggak tanggung jawab! Aku berbeda dengan Koto-sama! Aku ingin populer tanpa bantuan jabatan-jabatan aneh seperti ini!", jawab Hinata sambil melepaskan tangannya dan berjalan menjauh. Aku melihat sisi kesepian dalam diri Hinata, aku berjalan mendekati Hinata dan berkata, "Hina-tan... tak ada yang kurang darimu menurutku! Yang kurang hanyalah rasa percaya diri akan keinginanmu sendiri. Jadi Hina-tan... percayalah pada dirimu dan jangan pernah menyerah! Aku akan mendukungmu! Hina-tan yang percaya diri dan tak kenal menyerah... itulah Hina-tan yang kukenal dan kupercaya selama ini!". Hinata yang mendengarnya mulai menangis, "Koto-sama... maafkan aku, aku berbeda dari yang Koto-sama pikirkan, diriku yang selama ini selalu merasa tidak punya tekad yang merantai hidupku... tak ada apapun yang mewarnai diriku yang selama ini kesepian. Jadi, aku tak mungkin jadi ketua osis seperti yang Koto-sama katakan!", balas Hina sambil terus meneteskan air mata. "Meskipun begitu... aku tidak akan menyerah. Aku ingin Hina-tan menjadi sahabatku seperti layaknya Takara-kun. Kamu tak peduli dia lelaki atau perempuan, apa rahasianya selama ini, dan asal-usulnya. Aku ingin menjadi orang yang selalu ada di sisimu. Karena aku adalah ketua osis!", kataku lagi dengan tegas. Hinata tetap tidak menoleh ke arahku melainkan pergi menjauh. Tapi harapanku tidak akan runtuh, aku pasti akan membuka hati Hinata untuk mengenal tujan hidupnya. Aku tidak akan menyerah pada Hinata! Ini juga untuk aku bisa istirahat, sih... hehehe...
Bersambung...
Aku segera berlari ke arah Hinata dan menyapanya, "Hai, Hina-tan!". "Koto-sama?!", seru Hinata yang terkejut. Aku hanya membalas dengan senyuman. "A, ada apa?", tanya Hinata sambil mundur satu langkah. "Hahaha! Aku hanya ingin kamu menggantikan aku setiap Senin sampai Kamis. Jangan ragu-ragu gitu dong! Yak, sudah, kok! Itu saja! Makasih Hina~", kataku sambil menyerahkan dokumen-dokumen osis yang kubawa tadi. "Eh! Tunggu! Koto-sama!!", seru Hinata aku pura-pura tak dengar, aku justru berlari menjauh dengan cepat. "Koto-sama sialan!", pikir Hinata dengan kesal. Hahaha... memangnya aku begitu, ya? Yah... biar saja, deh! Sekarang aku bisa santai! Yap, biar saja Hinata menjadi anggota osis sementara, biarlah itu terjadi, ya, kan! Siip!! Yak... yang kukatakan ini benar, kan? Tentu saja! Aku juga mengatakan hal yang benar pada Hinata! Tapi Hinata yang kesal datang menghampiriku dan berteriak, "Koto-sama!!". Dia berteriak dengan keras dan nada kesal. "A, ada apa?", tanyaku sambil menoleh ke arahnya. "Ini kukembalikan! Aku nggak mau!!", jawab Hinata sambil mengembalikan dokumen-dokumen osis yang kuberi tadi. "Eh? Kenapa? Bukannya Hinata mau menjadi paling populer? Ketua osis paling populer, lho!", kataku sambil menggenggam tangan Hinata yang kecil. "Soalnya... aku... aku nggak pintar juga nggak tanggung jawab! Aku berbeda dengan Koto-sama! Aku ingin populer tanpa bantuan jabatan-jabatan aneh seperti ini!", jawab Hinata sambil melepaskan tangannya dan berjalan menjauh. Aku melihat sisi kesepian dalam diri Hinata, aku berjalan mendekati Hinata dan berkata, "Hina-tan... tak ada yang kurang darimu menurutku! Yang kurang hanyalah rasa percaya diri akan keinginanmu sendiri. Jadi Hina-tan... percayalah pada dirimu dan jangan pernah menyerah! Aku akan mendukungmu! Hina-tan yang percaya diri dan tak kenal menyerah... itulah Hina-tan yang kukenal dan kupercaya selama ini!". Hinata yang mendengarnya mulai menangis, "Koto-sama... maafkan aku, aku berbeda dari yang Koto-sama pikirkan, diriku yang selama ini selalu merasa tidak punya tekad yang merantai hidupku... tak ada apapun yang mewarnai diriku yang selama ini kesepian. Jadi, aku tak mungkin jadi ketua osis seperti yang Koto-sama katakan!", balas Hina sambil terus meneteskan air mata. "Meskipun begitu... aku tidak akan menyerah. Aku ingin Hina-tan menjadi sahabatku seperti layaknya Takara-kun. Kamu tak peduli dia lelaki atau perempuan, apa rahasianya selama ini, dan asal-usulnya. Aku ingin menjadi orang yang selalu ada di sisimu. Karena aku adalah ketua osis!", kataku lagi dengan tegas. Hinata tetap tidak menoleh ke arahku melainkan pergi menjauh. Tapi harapanku tidak akan runtuh, aku pasti akan membuka hati Hinata untuk mengenal tujan hidupnya. Aku tidak akan menyerah pada Hinata! Ini juga untuk aku bisa istirahat, sih... hehehe...
Bersambung...
The Girl Who Cursed by the Curch
Jam 12 malampun akhirnya tiba. Gadis itu benar-benar melakukan apa yang kuperintahkan. "Fuh, dasar payah. Aku sengaja tak bilang letaknya ada di mana karena kupikir kau tahu. Bego!", pikirku sambil terus memandang ke arah bola kaca besar yang merekam semua yang permohonannya dikabulkan. "Hu-uh, ya sudahlah! Paling-paling manteranya kehilangan setengah dari satu khasiatnya. Biar, deh... apa urusanku? Tonton saja...", lanjutku sambil mengambil satu buku pengetahuan dari rak buku rahasia milik gereja ini. Hanya pengurus saja yang tahu dan boleh membaca buku-buku di rak ini. "Yap, benar sekali, efeknya akan hilang setengah. Jadi...". Tok tok tok! "Pe... permisi... boleh aku masuk ke dalam?", "Ya, tentu saja, silakan masuk." "Ah, ma... maaf mengganggu di tengah malam begini... so, so... soalnya a, aku... aku ka... kabur.... kabur dari ru...rumah..." jelas gadis itu dengan gagap dan ragu-ragu. "Baiklah! Apa masalahmu?", tanyaku sambil menyatakan seperti menantang. Gadis itu tambah takut, tubuhnya terus menerus gemetar, aku yang melihatnya merasa itu tidak seru.
"A... aku... aku ingin bisa... menjadi kuat dan mengalahkan gadis yang disukai oleh Hiroki Shibusawa! Dia membuat Shibusawa-kun menjadi terluka sebelum aku...", kata gadis itu dengan mantap dan keras. "Yah... aku mengerti. Sebutkan namamu, aku pasti bisa membantumu!", kataku sambil membelai kepala anak itu. "Namaku Murasama Konno, aku suka pada Shibusawa-kun... tapi saat aku ingin menyatakan perasaanku dia sudah tidak ada! Aku tahu, itu pasti perbuatan gadis itu! Harumi Inori!", jawab gadis itu sambil menangis. Aku menghela nafas dan mengambil sabuah amplop dan satu lembar kertas beserta penanya. "Tulislah apa yang kamu inginkan di kertas ini, aku takkan melihatnya! Sesudah menulis, masukkan kertas itu ke dalam amplop ini lalu genggam sampai kamu tidur, kemanapun kamu mau pergi bawalah kertas ini dalam tempat yang kau ketahui sendiri saja!", kataku sambil menyerahkan pena, kertas, dan amplop itu. "Eh? Memang apa yang akan terjadi?", tanya gadis itu sambil menggenggam pena yang kuberikan. "Benda yang kuberikan punya kekuatan magis, jadi kalau ada permohonan, tulis di kertas itu. Dan yang akan dikabulkan hanya satu permohonan," jelasku sambil tersenyum. Gadis itu ikut tersenyum, "Terima kasih banyak... aku akan selalu mengingat kebaikanmu...", katanya sambil memelukku. Aku yang larut dalam kehangatan pelukannya tak mungkin bisa mengambil harga dirinya. Ini adalah pertama kalinya seumur hidupku untuk merasakan kehangatan pelukan seseorang. "Mulai sekarang, bagiku kau adalah pengurus gereja ini juga... karena di kitab suci pasal 9999 ayat 7000 berkata, "Siapa yang sudah melembutkan hati para penjaga, maka ia adalah pengurus gereja ini. Dan mulai sekarang ia terkutuk dan takkan lolos dari kutukan itu.". Aku menyuruhnya untuk segera menuliskan permohonannya dan membaca mantera yang sudah ada. Aku akan tulus memberimu segalanya... mulai sekarang kita adalah sahabat sejati. "Jangan lupa datang, ya!", seruku pada Murasama sambil memberinya surat yang sudah ditulisnya tadi. "Baiklah, aku nggak akan lupa! Besok aku pasti datang, Ryuko-chan! Sampai besok!", balasnya sambil membuka pintu yang paling berat sepanjang sejarah. Setelah Murasama jauh di luar, aku tertawa kecil, "Terima kasih sudah membuatku bahagia, kuambil kelemahanmu untuk selamanya!".
Bersambung....
Gomenne sebentar, mau lanjut cerita lain tak? Bahasanya harus formal sih... -_-
Sabtu, 17 November 2012
Cacao Pop
Di rumah kediamanku yang tenang, sunyi, dan sepi, aku hanya tinggal sendiri. Aku mengerti, waktu sekarang terulangi menjadi waktu itu. Aku hanya bisa merenung, tak ada yang bisa kulakukan. Ponsel pun tak ada lagi padaku. Aku ingin membelinya dan aku memasukkan tanganku ke kantung bajuku yang bukan yukata. "Eh?!", seruku yang telah mendapati suatu benda yang seperti ponselku di kantung bajuku. Aku segera mengambilnya, dan ternyata itu adalah ponselku! "Me, mengapa bisa??", pikirku sambil membuka ponselku. "E-mail kedua orang itu juga ada...", pikirku lagi, wajahku semakin memerah. "A, apa yang sebenarnya terjadi?", pikirku lagi sambil menggenggam ponsel itu erat-erat. "Momo-chan!" seru seseorang sambil memencet bel rumahku. Aku berpikir itu adalah Kak Yume, aku tidak ingin dia kemari, tapi... Akhirnya aku membuka pintu rumahku dan mempersilahkannya masuk, tapi ternyata bukan Kak Yume melainkan Aru-kun, aku pura-pura tak tahu dan bertanya, "Maaf, siapa, ya?". Dia hanya tertawa dan menepuk kepalaku, lalu Aru-kun menjawab, "Namaku Aruto, panggil saja Aru-kun!". "A...Aruto-san saja, deh...", balasku sambil memalingkan pandangan karena malu melihat senyumnya yang cemerlang. "Nggak boleh! Aru-kun!", balasnya sambil menyentuh kedua pipiku dan mengarahkan wajahku ke atas. Mukaku langsung memerah padam, "Uwa! Uwaaaaaaaa!!!", seruku dalam hati karena panik, melihat muka Aru-kun dari dekat memang membuatku berdebar. Aru-kun membisikkan padaku secara tiba-tiba disaat aku panik, karena kaget Aru-kun mendekat ke telingaku aku langsung menoleh secara spontan. Tanpa sengaja, bibir kamu jadi bersentuhan secara tidak disengaja sama sekali!!! Mukaku memerah secara langsung, tapi Aru-kun malah diam saja dan tak terlihat panik, aku merasa heran akan hal itu. "Sadarlah Aru-kuuuuuuuun!!!!!", tangisku dalam hati, rasanya jadi lemas karena melihat Aru-kun yang tenang-tenang saja. "Apa yang kalian lakukan di depan... eh? Mo, Momo-chan?", kata seseorang lagi yang muncul mendadak di depan rumahku yang sunyi ini. Alangkah kagetnya begitu tahu bahwa orang itu adalah Kak Yume. Aku segera memukul Aru-kun, tapi ternyata Aru-kun pingsan dengan muka yang sangat merah dari tadi! Menyebalkaan!!! Kubunuh kau Aru-kun! "Ka, kak Yume! Ini bukan seperti yang kau lihat! Ka, ka... kami... kami tidak...", kataku dengan gugup. "Lalu siapa cowok rendah itu? Kenapa dia berani menyentuhmu, hah?!", seru Kak Yume sambil menarik kerah baju Aru-kun bagian belakang lalu hendak melemparnya. Aku langsung menghentikannya dan berseru, "Hentikan, kak! Dia adalah kakak dari temanku, dia hanya teman kerja dari ayahku dan ingin berbicara sesuatu!". Demi si sial itu, aku terpaksa melakukannya! Akhirnya Kak Yume percaya dan menyeretnya masuk ke kamarku untuk istirahat sebentar, awalnya aku tak mau Aru-kun ditidurkan di kasurku, aku tak mau bantal dan selimutku jadi korban iler orang ini, tapi nanti kami ketahuan kalau bukan rekan kerja.... BAHAYA! Apa yang akan terjadi dalam keseharianku mulai dari ciuman pertama itu, ya... [HIKS]
#Bersambung#
Yup, cerita ini lanjutan yang itu, jadi gambarnya sama, mohon maklum, ya!
Minori
Minggu, 04 November 2012
The Girl Who Cursed by the Curch
Esok harinya, aku melihat dari luar jendela, laki-laki itu menyatakan perasaannya pada gadis yang disukainya. Dan diterima. Hahaha! Konyol! Bisa-bisanya dia percaya pada mantra itu, sebenarnya... mantra yang kuberikan kemarin hanya jampi-jampi palsu. Yang asli ada di tanganku. Sebenarnya, gadis yang dia tembak adalah klonku. Yang asli sedang berjalan ke gereja ini. Dia, laki-laki itu akan berkencan dengan klonku dan dia akan... hihihi...
Beberapa jam kemudian, terjadi kecelakaan di sebuah stasiun. Salah satu korbannya adalah lelaki yang meminta mantra palsu itu padaku. Dia dibawa ke rumah sakit terdekat yang sudah tidak laku, kabarnya, rumah sakit itu berhantu dan dulunya adalah kuburan. Lelaki itu tidak sadar kalau saat dia tidur, ada yang menemaninya. Yaitu, hantu yang sudah lebih dulu menempati rumah sakit itu. Hihihi...
Beberapa hari setelah hal itu terjadi, gadis asli yang disukainya sampai kemari. Kemarin, ia melakukan perjalanan dari Kyoto sampai kemari. "Aku masuk...", katanya dengan keras sambil membuka pintu terberat sepanjang sejarah. "Silakan...", balasku dengan sinis. Gadis itu mengambil buku di rak yang paling dekat pintu lalu membukanya. "Cih, apaan nih? Buku mantra? Hahaha!! Membosankan!", ejek gadis itu sambil membanting buku mantra yang suci bagiku. Aku heran, mengapa lelaki yang datang kemarin menyukai gadis ini.
Maaf sebentar! Gomenne...
BERSAMBUNG
Beberapa jam kemudian, terjadi kecelakaan di sebuah stasiun. Salah satu korbannya adalah lelaki yang meminta mantra palsu itu padaku. Dia dibawa ke rumah sakit terdekat yang sudah tidak laku, kabarnya, rumah sakit itu berhantu dan dulunya adalah kuburan. Lelaki itu tidak sadar kalau saat dia tidur, ada yang menemaninya. Yaitu, hantu yang sudah lebih dulu menempati rumah sakit itu. Hihihi...
Beberapa hari setelah hal itu terjadi, gadis asli yang disukainya sampai kemari. Kemarin, ia melakukan perjalanan dari Kyoto sampai kemari. "Aku masuk...", katanya dengan keras sambil membuka pintu terberat sepanjang sejarah. "Silakan...", balasku dengan sinis. Gadis itu mengambil buku di rak yang paling dekat pintu lalu membukanya. "Cih, apaan nih? Buku mantra? Hahaha!! Membosankan!", ejek gadis itu sambil membanting buku mantra yang suci bagiku. Aku heran, mengapa lelaki yang datang kemarin menyukai gadis ini.
Maaf sebentar! Gomenne...
BERSAMBUNG
Minggu, 28 Oktober 2012
Cacao Pop
![]() |
| Add caption |
Percakapan: Aku: Halo, dengan Aru-kun?
Aruto: Ah, iya... ada apa Momo-chan?
Aku: Ng... sebelumnya, aku ingin mengucapkan terima kasih sudah memberiku ponsel ini... aku senang...
Aruto: Sejak kapan? Tadi kamu beli ponsel, ya? Gimana caranya tahu nomorku?
Aku: Lho? Aru-kun... yang memberi aku ponsel, ka...
tuut tuut tuut... "Sial! Sambungannya putus!", gerutuku. "Lho? Kisaragi Minato? Siapa?", tanyaku sambil menatapi ponselku. "Coba saja kukirimi SMS...", pikirku sambil menekan tombol 'OK'.
Masih seperempat, soalnya capek... maaf, ya...
(TBCNTND)
Sabtu, 27 Oktober 2012
The Darkness Witch World
Kai segera membalikkan badannya ke arah Akami dan berkata dengan pelan, "Aku nggak marah, kok!". Akami merasa sedikit sedih tapi juga merasa senang. "Begitu, ya? Baguslah!", kata Akami sambil tersenyum sedikit lega. "Ah, disini bosan juga, ya~... mau keluar nggak? Hei!", tanya Kai, tapi Akami sudah menghilang entah ke mana. "Lho? A...Akami?", tanya Kai lagi. "Padahal tadi dia disini... pintu juga hanya kubuka sedikit... dia kemana?", pikir Kai yang berusaha mengingat. Kai memutuskan pergi keluar rumah untuk mencari Akami, tapi tiba-tiba ada banyak permen dan kue jatuh dari langit, membuat Kai menjadi sangat kaget. "U, uwa! Dari mana asal benda mengerikan ini, sih?!", tanya Kai yang masih menghindari segala yang jatuh dari langit. Mendadak terdengarlah suara seorang gadis yang tidak lembut dan bersemangat, "Wah... maaf, ya! Aku nggak sengaja menjatuhkannya!". Kai merasa kesal, dia yang kerepotan hanya diberi kata "maaf", Kai segera menegur gadis itu, "Woi! Nggak sopan banget, sih! Kalau salah seperti ini nggak bisa cuma diberi kata maaf! Kamu harus membayar apa yang sudah kamu perbuat!". Gadis itu turun dari benda melayang yang didudukinya, yaitu sapu terbang. "Ah... apa yang harus kubayar?", tanya gadis itu. "Bantu aku mencari gadis kecil bernama 'Akami Hiruka'! Cari sampai ketemu! Tidak peduli sudah pagi atau malam! Yang penting... CARI!!!!", seru Kai yang masih marah besar. "Baik! Aku mengertiii!", balas gadis itu yang sebenarnya ketakutan. Kai merasa sedikit heran, Kaipun memanggil kembali gadis itu, "Tunggu! Apa kamu tahu ciri-ciri Akami Hiruka?". "Tentu saja! Kami satu akademi, lho...", jawab gadis itu dengan bangganya. "Idih!", pikir Kai. "Hiruka... hoi, Hiruka!", seru gadis itu sambil menoleh ke segala arah. "Lho? Ini, kan... bulatan yang ada di baju Hiruka...", pikir gadis itu sambil memungut bola kaca yang disebutnya bulatan. Gadis itu segera berlari ke arah Kai, tapi karena Kai juga mencari, maka gadis penyihir itu kehilangan jejak Kai. "Eh? Aku dimana, ya?", tanya gadis itu pada dirinya sendiri. "Jangan-jangan aku... te, ter... tersesat...", kata gadis itu yang mulai merasa panik. Dia sangat bingung harus bagaimana.
Sementara itu, Kai yang masih mencari Hiruka menemukan bulu sayap seorang iblis. "Eh? Ini milik Akami, kan? Kenapa bisa lepas?", pikir Kai yang masih memegang bulu itu. "A, Akami! Kamu di mana?", tanya Kai sambil berteriak. Tiba-tiba ada seorang gadis kecil yang jatuh, dan ternyata itulah Akami yang kehilangan dua benda. Kai melihatnya dan menangkapnya. "Kenapa bisa...?", pikir Kai setelah menangkap Akami. "Kai?", panggil Akami dengan suara yang sangat pelan. "Akami??".
to be continued
Sementara itu, Kai yang masih mencari Hiruka menemukan bulu sayap seorang iblis. "Eh? Ini milik Akami, kan? Kenapa bisa lepas?", pikir Kai yang masih memegang bulu itu. "A, Akami! Kamu di mana?", tanya Kai sambil berteriak. Tiba-tiba ada seorang gadis kecil yang jatuh, dan ternyata itulah Akami yang kehilangan dua benda. Kai melihatnya dan menangkapnya. "Kenapa bisa...?", pikir Kai setelah menangkap Akami. "Kai?", panggil Akami dengan suara yang sangat pelan. "Akami??".
to be continued
Cacao Pop
Sesudah dua minggu bekerja, akhirnya muncul majalah khusus bernama Momoko Maiko ~Cacao Pop~, majalah yang penuh denganku yang memodelkan Cacao Pop. Senang, sih, tapi malu juga, ya... Hng, oh, ya! Sebentar lagi akan datang libur musim panas, aku juga pasti libur kerja! Yay! Aku harus segera bertanya pada Aru-kun! Aku ingin dia jalan-jalan denganku... tapi tunggu! Aku meyakini hal ini dengan sangat! Aru-kun... bukan.... cinta pertamaku! Aku yakin sekali! Tapi,... kalau dilihat mereka benar-benar mirip... aku yakin akan hal itu juga... kalau harus memilih... maka... "Momo-chan!!!" "Aru-kun???!". "Mulai minggu depan, jadwal kita akan semakin padat lho!", "A, apa!? Minggu depan kan mulai liburan musim panas! Dasar sialan!", seruku karena marah pada direktur menyebalkan yang suka memadatkan jadwal. "Tenanglah Momo-chan, kita kerja bersama, kok!", kata Aru-kun sambil memelukku dari belakang untuk menenangkanku. Mukaku langsung merah padam, aku merasa malu sekali dan akhirnya berteriak, "Aku lebih nggak tenang lagi tahu!!!!!", sambil menghantam kepalaku dengan dagu Aru-kun. "Auuu!", seru Aru-kun sambil menangis saking sakitnya. "Rasakan! Dasar mata keranjang!", kataku sambil berjalan keluar. "Tunggu, Momo-chan!", seru Aru-kun, tapi aku pura-pura tidak dengar, aku terus berjalan ke arah kamar mandi dan mengerol rambutku. "Aru-kun bodoh! Dasar mata keranjang! Cih!", pikirku sambil meneruskan mengerol rambut.
Setelah selesai mengerol rambut, aku datang ke kameramen yang biasa memotretku, lalu aku berkata, "Pak kameramen, kenapa jadwalnya dipadatkan, sih? Aku kan mau liburan!". Kameramen hanya diam dan meneruskan mengedit gambar di komputer milik direktur. "Woi! Dengarkan aku, dong!", seruku yang kesal karena tidak diperhatikan. Kameramen itu hanya membalas, "Direktur...". Aku masih sangat kesal, terasa ingin memukulnya, tapi aku menenangkan diri dan pergi ke ruangan Pak direktur. "Pak!", seruku sdengan nada kasar. "Siapa, ya? Oh, Momo-chan, ya... Ada apa?", tanya direktur. "Aku... pro-tes! Kenapa musim panas jadwal dipadatkan dan tidak diliburkan??! Kenapa!!", seruku sambil meneriakannya di telinga direktur. "Hng, agar membedakan agency ini dengan agency lain mungkin... agency lain kebanyakan libur di musin panas, saat musim dingin, mereka membuat foto palsu edisi musim panas. Aku ingin agency ini jujur dan benar-benar terkenal dengan cara halal. Makanya, aku meliburkannya saat musim gugur, cuma setengah bulan, sih...", jawab direktur. "Oh...", kataku dengan tanpa ekspresi maupun nada. Aku paham sekarang, kenapa agency ini tidak mau libur... agency yang tidak populer ini... berusaha keras, mencapai apa yang dapat mereka capai sampai maksimal. "Terima kasih direktur! Aku ingin menjadi lebih baik lagi!", kataku sambil tersenyum tulus. Lalu aku berlari menuju toilet lagi dan memakai bando yang dibelikan direktur untukku. Setelah itu aku langsung berlari ke arah kamar ganti Aru-kun dan mengetuk pintu. "Aru-kun, mulai hari ini aku akan serius bekerja! Jadi, tolong bantu aku, ya!", kataku di depan pintu lalu berjalan pergi untuk pulang.
Di rumah, aku menjhit beberapa baju lolita yang cocok dipakai untuk pemotretan dan baju santai untuk musim panas. "Hehe... asyik juga bersantai di rumah seperti ini...", pikirku sambil tertawa-tawa sendiri. Kalau dipikir-pikir, aku nggak pernah santai sambil menjahit seperti ini, rasanya lega... "Ah~ aku mau ponsel! Kalau punya ponsel akan kupamerkan semua ini pada Aru-kun...", keluhku sambil berguling di kasur untuk bersantai sedikit. "Tabunganku berapa, ya??", tanyaku sambil membuka tabunganku. "Ah! 300.000 yen! Hebat! Aku bisa beli, deh!",seruku karena bangga.
Esoknya, aku pergi sendiri ke toko ponsel untuk anak SD-SMP. Di sana tidak sampai 100.000 yen. "Ada yang bagus nggak, ya?", pikirku yang sebenarnya agak ragu. Saat di dalam, aku melihat isi tokonya, dan banyak ponsel bagus. "Wah, indahnyaa! Jadi binung mau pilih yang mana...", pikirku sambil menolah-noleh ke segala arah. "Selamat datang... Momo-chan?". "Eh?! Aru-kun?" "....ah, ada apa kesini?", tanya Aru-kun. Aku terkejut karena melihat Aru-kun yang menjual ponsel-ponsel imut ini. "Tentu saja beli ponsel, dong!", jawabku. "Oh... ponsel... bukan permen yang hilang, kan? Bagus, deh...", kata Aru-kun sambil membuka sebuah lemari dan melihat isinya. "Di situ ada apa, sih?", tanyaku sambil mendekati Aru-kun. "Ini untukmu, gratis! Dan masih baru, di dalamnya juga ada nomorku," kata Aru-kun sambil memberikan ponsel yang indah dan bertuliskan Momo-chan. "Aru-kun... te... terima..kasih!", kataku sambil tersenyum. "Iya-iya. Sudah, sana!", balas Aru-kun sambil mengelus kepalaku. Aku mengangguk dan berlari keluar sambil menggenggam ponsel itu erat-erat.
Rasanya senang sekali... aku menyukai Aru-kun!
(T*B*C*N*I*U*)
Setelah selesai mengerol rambut, aku datang ke kameramen yang biasa memotretku, lalu aku berkata, "Pak kameramen, kenapa jadwalnya dipadatkan, sih? Aku kan mau liburan!". Kameramen hanya diam dan meneruskan mengedit gambar di komputer milik direktur. "Woi! Dengarkan aku, dong!", seruku yang kesal karena tidak diperhatikan. Kameramen itu hanya membalas, "Direktur...". Aku masih sangat kesal, terasa ingin memukulnya, tapi aku menenangkan diri dan pergi ke ruangan Pak direktur. "Pak!", seruku sdengan nada kasar. "Siapa, ya? Oh, Momo-chan, ya... Ada apa?", tanya direktur. "Aku... pro-tes! Kenapa musim panas jadwal dipadatkan dan tidak diliburkan??! Kenapa!!", seruku sambil meneriakannya di telinga direktur. "Hng, agar membedakan agency ini dengan agency lain mungkin... agency lain kebanyakan libur di musin panas, saat musim dingin, mereka membuat foto palsu edisi musim panas. Aku ingin agency ini jujur dan benar-benar terkenal dengan cara halal. Makanya, aku meliburkannya saat musim gugur, cuma setengah bulan, sih...", jawab direktur. "Oh...", kataku dengan tanpa ekspresi maupun nada. Aku paham sekarang, kenapa agency ini tidak mau libur... agency yang tidak populer ini... berusaha keras, mencapai apa yang dapat mereka capai sampai maksimal. "Terima kasih direktur! Aku ingin menjadi lebih baik lagi!", kataku sambil tersenyum tulus. Lalu aku berlari menuju toilet lagi dan memakai bando yang dibelikan direktur untukku. Setelah itu aku langsung berlari ke arah kamar ganti Aru-kun dan mengetuk pintu. "Aru-kun, mulai hari ini aku akan serius bekerja! Jadi, tolong bantu aku, ya!", kataku di depan pintu lalu berjalan pergi untuk pulang.
Di rumah, aku menjhit beberapa baju lolita yang cocok dipakai untuk pemotretan dan baju santai untuk musim panas. "Hehe... asyik juga bersantai di rumah seperti ini...", pikirku sambil tertawa-tawa sendiri. Kalau dipikir-pikir, aku nggak pernah santai sambil menjahit seperti ini, rasanya lega... "Ah~ aku mau ponsel! Kalau punya ponsel akan kupamerkan semua ini pada Aru-kun...", keluhku sambil berguling di kasur untuk bersantai sedikit. "Tabunganku berapa, ya??", tanyaku sambil membuka tabunganku. "Ah! 300.000 yen! Hebat! Aku bisa beli, deh!",seruku karena bangga.
Esoknya, aku pergi sendiri ke toko ponsel untuk anak SD-SMP. Di sana tidak sampai 100.000 yen. "Ada yang bagus nggak, ya?", pikirku yang sebenarnya agak ragu. Saat di dalam, aku melihat isi tokonya, dan banyak ponsel bagus. "Wah, indahnyaa! Jadi binung mau pilih yang mana...", pikirku sambil menolah-noleh ke segala arah. "Selamat datang... Momo-chan?". "Eh?! Aru-kun?" "....ah, ada apa kesini?", tanya Aru-kun. Aku terkejut karena melihat Aru-kun yang menjual ponsel-ponsel imut ini. "Tentu saja beli ponsel, dong!", jawabku. "Oh... ponsel... bukan permen yang hilang, kan? Bagus, deh...", kata Aru-kun sambil membuka sebuah lemari dan melihat isinya. "Di situ ada apa, sih?", tanyaku sambil mendekati Aru-kun. "Ini untukmu, gratis! Dan masih baru, di dalamnya juga ada nomorku," kata Aru-kun sambil memberikan ponsel yang indah dan bertuliskan Momo-chan. "Aru-kun... te... terima..kasih!", kataku sambil tersenyum. "Iya-iya. Sudah, sana!", balas Aru-kun sambil mengelus kepalaku. Aku mengangguk dan berlari keluar sambil menggenggam ponsel itu erat-erat.
Rasanya senang sekali... aku menyukai Aru-kun!
(T*B*C*N*I*U*)
Jumat, 26 Oktober 2012
Sky and Earth
"Aku bilang 'BERISIK!!' dasar tuli!", jawab gadis itu. "A... apa?! Tuli? Jangan salahkan aku, dong! Suaramu yang terlalu pelan tahu!", seru Kaori yang mulai panas. "Puh, sesukamu sajalah!", balas gadis itu sambil membuang muka dan berjalan ke arah lain. "Huuh!". Kaori mencoba berdiri dan berjalan, taoi tiba-taba saja Kaori terjatuh, pikiran Kaori menjadi kosong. Dan saat Kaori hampir sampai di bawah, Keluar dua sayap dari punggung Kaori. "Apa ini?", pikir Kaori bingung. "Sayap?! Ke, keren...", lanjut Kaori. "Ini... kok rasanya ada yang basah di bawah, ya?", pikir Kaori lagi. Kaoripun melihat ke bawah. "Sungai susu? Hebat!", seru Kaori antusias. "Ck, berlebihan banget, sih! Seperti nggak tahu sungai susu saja!" "Eh? Ka, kamu lagi!? Ngapain mandi di sungai susu, sih!? Mengganggu pemandangan saja!", balas Kaori pada gadis yang ditemuinya tadi. "Apaan? Jadi maksudmu aku dilarang? Ini teritori malaikat tahu, bukan iblis biru!", kata gadis itu dengan sedikit berteriak. "Enak saja! Aku ini juga malaikat baru tahu!", balas Kaori sambil menjambak rambut gadis itu. "Aduduh! Sakit! Aku kan nggak ngapa-ngapain! Begitu kok bisa jadi malaikat!?", seru gadis itu yang masih kesakitan. "Apaa!!!? Dasar menyabalkan! Kamu kan nggak thu seberapa malang nasibku saat masih hidup! Kamu juga nggak tahu apapun dariku, kan!!!???", balas Kaori yang airmatanya mulai menetes ke sungai itu. "Aku tahu, kok! Namamu Kaori Nezumi, kan... umur 15 tahun kelas 3 SMP. Pernah ditindas karena menyukai seorng teman yang populer, 2 hari yang lalu ditembak oleh pak Hayama Ichiro, ponselmu rusak karena tidak membalas SMS pak Hayama, kamu merasa berdebar-debar saat mengingat Pak Hayama, takut menyukai seseorang lagi. Benar, kan?", kata gadis itu. Kaori syok mendengarnya, "Kenapa? Kenapa kamu bisa mengetahuinya?", tanya Kaori sambil menangis. "Kamu lupa? Atau tak tahu? Aku ini...", kata gadis itu sambil melangkah keluar dari sungai susu. "Malaikat... yang dalam kata lain... asisten Tuhan. Mengerti, kan? Huh, konyol! Kalau kamu benar malaikat seharusnya kamu mengerti, kan...", lanjut gadis itu sambil berjalan melangkahi Kaori. Kaori ambruk dan terus kepikiran kata-kata gadis itu.
bersambung......
bersambung......
Cacao Pop
Namaku adalah Momoko Maiko, siswi kelas 6 SD. Aku baru pertama kali merasa suka pada lelaki, biasanya aku jarang melihat laki-laki secara tak sengaja. Kumohon! Bisa nggak kalian mendukungku? Aku butuh dukungan, niiih... Tapi apa kami sudah terhubung oleh benang merah, ya? Aah... senang juga, sih... tapi dia SMP atau SMA? Buu...seandainya aku tahu, aku pasti sudah menemuinya! Tapi wajahnya, sih masih ingat. "Ah, Maiko!", seru sahabatku, Shizui Miharu yang tiba-tiba memanggilku. "Shi, Shizui? Ada apa??!", balasku. "Majalah barunya sudah terbit lhoo!! Baca bareng, yuk!", jawabnya dengan suara keras. "Waa! Hebat! Ayo cepat buka!", seruku yang masih kehebohan. "Eh, apa nih? 'Mencari model gadis manis yang segar dan cool kelas 5-7 untuk model Cacao Pop'. Waaaah!!! Kayaknya asyik! Coba, yuk, Maiko!", "Ngg... Aku cuma temani kamu saja, ya... aku nggak mungkin bisa menang!". "Aah, nggak percaya diri banget, sih! Nggak seru, kan!", "Ayolah! Aku nggak suka jadi terkenal! Aku lemah sama wartawan! Kalau terjadi skandal, kan repot!", seruku yang sedang berjuang mati-matian untuk menahan masuk majalah. "Iya, deh! Temenin lho! Audisinya besok minggu jam setengah delapan pagi. Oke, deh~", kata sahabatku.
Akhirnya pada hari H. Tiba-tiba saja aku mendengar percakapan antara direktur Cacao Pop dengan anggotanya. "Ng? Ada apa, ya?" pikirku sambil terus menatapi mereka. " Coba cari anak gadis yang berambut merah muda kemari!" "Baik bos!". "Ekh! Mereka mencari anak gadis berambut merah muda? Kan susah mencarinya...", pikirku lagi. Saat itu aku sedang pikun-pikunnya! Aku lupa kalau warna rambutku merah muda!!! Duh, aku ini benar-benar bodoh! Memalukan! Dan, jadinya kedua tanganku ditngkap, aku diseret ke dirktur Cacao Pop, aku sempat bingung, aku baru menyadari kalau rambutku merah muda begitu sampai di direktur. "Wah, wah... benar-benar manis, ya... Imut! Siapa namamu?", tanya direktur itu. "Mo, momoko Maiko, kelas 6...", jawabku yang sedikit merasa gugup karena merasa akan ditetapkan sebagai.... "Momo-chan yang akan jadi MODEL-nya!!". Tuh, kan... Menyedihkan banget, sih! Aku nggak mau.... Huwaaang! Tapi karena berulang kali dipaksa akhirnya aku terpaksa setuju. "Kali ini pemotretan dengan baju ini, besok yang ini...", kataku pada direktur itu. "Tidak Momo-chan, kamu akan bekerja bersama dengan model cowok 3 kali dan sendiri 2 kali! Jadi hari ini Momo-chan disiapkan 5 baju, besok urusan nanti!", kata direktur sambil menunjukkan jadwal pemotretan padaku. "Model cowok? Siapa?", tanyaku. "Kirika Aruto, anak kelas 3 SMP. Anaknya cakep, baik, imut..." "Idih!", seruku dalam hati karena merasa sedikit jijik. "Selamat pagi! Ah, model barunya ini, ya? Masih kecil, ya...", kata seorang lelaki yang tiba-tiba masuk dan langsung mendekatiku. "APA?!", seruku dengan kesal. "Tapi, imut, ya... kok aku merasa kita pernah bertemu, ya?", kata cowok itu. Tiba-tiba mukaku menjadi merah, jantungku berdebar dengan keras. "I...imut? Aku imut? Tu, tunggu... rasanya aku pernah lihat mukanya, deh...", pikirku sambil menyentuh kedua pipiku. "Kalian berdua ngapain, sih? Ayo cepat kita mulai!", kata direktur yang sudah menyiapkan kameramen profesional.
Saat pemotretan berlangsung... "Uwaa... Aku nggak nyangka kalau iklannya sedikit H(if you know what i mean). Adegan percintaan murid SD dan SMP??! Gyaaaa!!! Jangan sampai jadi apa-apa! Oh, iya! berarti orang yang sedang pemotretan denganku ini... Kirika Aruto?", pikirku yang kalang kabut sendiri. "Momo-chan dekatkan mukamu dengan Aru-kun!", seru sang kameramen. "Oh, namamu Momo, ya? Persis nama adikku.". "Eh, ma, masa?", tanyaku. "Sudahlah, saat ini kita harus fokus pada pekerjaan! Dekatkan mukamu!", bisik Aruto yang menyentuh kedua pipiku dengan lembut. Gi, gimana, niih!!? Kyaaa....!!! Tolong aku, dong!
~B*R*S*M*B*N*~
The Girl Who Cursed by the Church
Selamat datang di Kyokai ga Hinan, tempat suci yang keji. Tidak semua orang bisa selamat di sini, semua tergantung kesucian yang ada di dirinya saja. Puh! Lama-lama terasa menggelikan, kan? Namaku Ryuko Haru, sudah 5 tahun aku berada di gereja ini. Akan kujelaskan lagi, gereja ini memungkinkan 2 hal bagi orang yang masuk ke dalamnya, yaitu; memperoleh 'Hidup Kekal' atau 'Mati terkurung di sini'. Sudah 5 tahun beralu, banyak orang yang memperoleh hidup kekal, tapi beda denganku... aku memiliki sebuah rubik kotak yang beraneka warna, itu yang menjadi kunci bagiku agar dapat menguasai gereja ini. Dan berkat rubik itu, aku tidak mendapat kedua kutukan karena masuk ke gereja ini. Gereja ini adalah gereja pengutuk yang memiliki banyak kegunaan, gereja ini juga sangat terkenal karena kegunaannya itu, tetapi gereja ini memakai kekuatan sihir dan roh jahat, gereja ini dibuat untuk mengasingkan Tuhan dan menarik orang-orang agar menari di sana bersama para penyihir yang mendirikan gereja ini dulu. Gereja ini seperti kue yang memiliki aroma mencolok yang mampu menarik apapun kemari, sangat mudah, kan? Semua yang kemari harus membawa imbalan untuk upah bantuan dariku. "Dan, jangan lupa... 'Terima kasih', ya!". Karena bantuan dariku tidak bisa dibayar hanya dengan uang, jadi mereka harus membayar dengan sesuatu yang paling berharga baginya, semakin banyak orang datang, maka semakin banyak pula benda berharga yang kumiliki, dan tentunya setiap mendapat kata terimakasih, setengah dari harga diri mereka akan kuambil. Mengasyikkan bukan? Kalau ada seseorang yang ingin konsultasi sekitar setengah jam, maka harga dirinya akan kuambil 45%, jika satu jam 90%, jika lebih lama lagi... harga diri mereka akan habis, mereka takkan punya harga diri lagi. Ufufufu... menarik sekali! Semuanya kuperbolehkan masuk, itu saja sudah mahal... apalagi jika ia meminta pertolongan yang sulit, maka ia akan kehilangan seluruh harga dirinya dan satu hal yang paling berharga darinya. Ia akan menjadi sangat kekurangan, tetapi meski begitu, kalau sejak awal ia tidak memiliki harga diri, itu artinya akan diambil hal yang tidak begitu berharga darinya. Penjelasanku cukup, kan? katakan Tok Tok Tok... maka akan kujawab, "Silakan masuk!" mudah, kan? Tentu saja! Ayo, kita buktikan...sekarang... "Let's start the operation!".
Knok knok, "Silakan masuk...", "Pe, permisi...". Hm, lucunya... tentu saja harus kubalas, "Selamat datang? Apa yang anda inginkan?". Dia menatap ke arah jendela, ia melirik seorang perempuan yang cukup manis. "Oh... baiklah! Saya mengerti... agar permohonanmu terkabul, bacalah mantra ini pukul 12 malam di depan cermin..." "Te, terima kasih banyak!". Fuh... mudah sekali, kan? Aku sudah mendapat setengah dari harga dirinya, tinggal tumbal utama...
Bersambung...
Knok knok, "Silakan masuk...", "Pe, permisi...". Hm, lucunya... tentu saja harus kubalas, "Selamat datang? Apa yang anda inginkan?". Dia menatap ke arah jendela, ia melirik seorang perempuan yang cukup manis. "Oh... baiklah! Saya mengerti... agar permohonanmu terkabul, bacalah mantra ini pukul 12 malam di depan cermin..." "Te, terima kasih banyak!". Fuh... mudah sekali, kan? Aku sudah mendapat setengah dari harga dirinya, tinggal tumbal utama...
Bersambung...
Kamis, 25 Oktober 2012
Sky and Earth
Tiba-tiba, dari kamar Kaori terdengar bunyi-bunyi aneh yang seperti dobrakan, Kaori segera keluar kamar dan melihat ke arah atap, ternyata... di tengah bulan purnama yang utuh itu, terlihat sosok seorang gadis berambut putih yang membawa dua buah pedang yang lumayan kecil di kedua tangannya. Kaori bingung dan terus menatap gadis aneh itu. Gadis itu hanya melirik saja, setelah itu gadis itu melompat dan menghilang. Kaori semakin heran, Kaori mematung untuk sementara.
"Si, siapa, ya?", pikir Kaori yang masih tercengang. Esok harinya, Kaori tidak masuk sekolah, karena saat tidur kemarin, Kaori tidak bisa bangun lagi. Dan ternyata, Kaori sudah diambil dari dunia menuju tempat yang seharusnya, yaitu alam baka... Kaori yang tidak mengerti tiba-tiba terbangun, dan ketika terbangun, ia berhadapan dan bertatapan dengan gadis yang ditemuinya kemarin malam, sebelum ia dipanggil oleh Tuhan. Kaori menjadi kaget setengah mati (aneh, kan sudah mati... -_-). "Gyaaaaa!!!", jerit Kaori yang masih kaget, gadis itu tenang dan tidak berteriak, justru gadis itu mengarahkan pedang kepada Kaori. "Berisik!", kata gadis itu dengan pelan. "E...eh... A,apa? Ng...apa ka, kata...mu... tadi?", tanya Kaori yang tidak mendengar sepatah kata dari gadis aneh berambut putih itu.
Wah, maaf, udah malam. Ini baru setengahnya,kok! Ahaha...
"Si, siapa, ya?", pikir Kaori yang masih tercengang. Esok harinya, Kaori tidak masuk sekolah, karena saat tidur kemarin, Kaori tidak bisa bangun lagi. Dan ternyata, Kaori sudah diambil dari dunia menuju tempat yang seharusnya, yaitu alam baka... Kaori yang tidak mengerti tiba-tiba terbangun, dan ketika terbangun, ia berhadapan dan bertatapan dengan gadis yang ditemuinya kemarin malam, sebelum ia dipanggil oleh Tuhan. Kaori menjadi kaget setengah mati (aneh, kan sudah mati... -_-). "Gyaaaaa!!!", jerit Kaori yang masih kaget, gadis itu tenang dan tidak berteriak, justru gadis itu mengarahkan pedang kepada Kaori. "Berisik!", kata gadis itu dengan pelan. "E...eh... A,apa? Ng...apa ka, kata...mu... tadi?", tanya Kaori yang tidak mendengar sepatah kata dari gadis aneh berambut putih itu.
Wah, maaf, udah malam. Ini baru setengahnya,kok! Ahaha...
Selasa, 23 Oktober 2012
The Darkness Witch World
Akami Hiruka adalah penyihir gelap, meski umurnya masih 11 tahun, dia sangat cerdas, pemberani, dan kuat. Tapi karena masih kecil, staminanya masih cukup lemah. Dan Akami mengendap penyakit leukimia. Meskipun sudah menyadarinya, Akami tetap semangat menjalani kehidupan sehari-harinya, meskipun harus mati atau gugur, Akami tetap senang dan mensyukuri segalanya.
Hari ke 6 menjalani sekolah, sekolah Akami mengadakan event ~The witch helping people~, acara event itu agar tidak membuat bosan warga sekolah. "Ah, soal ini, ya... sejujurnya aku malas, sih, tapi karena tugas sekolah...", pikir Akami yang sebenarnya sudah pernah. Akami merasa, ia akan mendapat pelajaran baru dari tugas kali ini. "Ufh, aku harus membantu berapa orang lagi, ya?", pikir Akami lagi. Di bumi, Akami melihat dari atas sambil melayang-layang di udara. "Ah, ada orang yang kesusahan! Dari sini, bisa terlihat... Namanya Kai Yamada, oke!". Akami segera ke arah orang itu. "Permisi, bisakah saya berbicara dengan anda?", tanya Akami yang pendeknya berbeda dari orang yang bernama Kai itu. "I,iya... Tapi, kamu pendek banget, ya... umur berapa, sih?", tanya Kai. "Yah, umur sekitar 11 tahun ke atas... apakah anda keberatan?", tanya Akami lagi. "Ngg... tidak, kok! Hanya saja,... apakah kamu berani bertanya pada remaja berumur 15 tahun?", tanya Kai yang sebenarnya sedikit keberatan. "Tidak, kok! Kita terhubung karena tugasku di sini sebagai...", jawab Akami. "Sebagai apa?", tanya Kai lagi. "Sebagai seorang pelajar SD, kata pak guru harus cari orang yang kesusahan lalu membantunya. Begitu!", "Kamu SD mana, sih? Kok rasanya ribet banget...", tanya Kai untuk ke tiga kalinya. "Yah, sebenarnya SD luar negeri, sih...", jawab Akami yang sebenarnya bohong besar. "Gitu toh... Makasih sudah mau bantuin aku, ya... kamu ikut aku saja,deh!", kata Kai. "Baik!".
Dan rumah Kai ternyata cukup kecil, tapi sangat nyaman. "Jangan komentar apapun soal rumahku, ya!", kata Kai yang mukanya sedikit memerah. "Eeh? Kenapa? Padahal bagus dan nyaman... sejak dulu, aku ingin memiliki rumah seperti ini... sebab, rumah yang seperti ini adalah impian orangtuaku dulu, aku ingin mewujudkan impian mereka memiliki rumah seperti ini," kata Akami sambil tersenyum senang. Muka Kai tiba-tiba memerah dan tidak menjawab Akami. "Tu, tunggu! Apa aku salah bicara? Jangan marah, dong!", seru Akami yang ingin agar Kai tidak marah.
Agak capek, nih... Sudah dulu, ya... Nanti pasti kulanjutkan, bye-bye!
Mizuki Minori
Senin, 22 Oktober 2012
A Heavenly Angel
Mizukami Takana, adalah anak paling populer di kalangan perempuan maupum laki-laki, sikapnya cool dan cuek. Takana memang selalu terlihat biasa, tapi sebenarnya ia merasa sangat kesepian, ia ingin mempunyai teman meski hanya satu, tapi itu saja sudah membuatnya repot. Akhirnya, Takana menggunakan blog agar mendapat teman meski sedikit, ia memakai nama Mizu. Hanya seminggu, blognya mendapatkan 2 pengunjung setia, nama mereka adalah Daichi dan Kaze. Takana sangat berbunga-bunga, ia merasa bangga akan dirinya.Takana sangat senang mendapat teman meskipun dari dunia maya. Di blog, Kaze memang jarang menulis komentar, tapi begitu berkomentar, Takana menjadi tertawa dan senang sekali. Berbeda dengan Daichi yang cerewet, komentarnya banyak dan panjang, juga seru, tapi sangat biasa bagi Takana. "Mizu-tan, lain kali taruh gambar boneka buatan tanganmu di blog ini, dong! Aku tertarik dari dulu," komentar Daichi yang sangat antusias. Takana cepat menjawab, "Iya, iya... Kapan-kapan, ya... Kaze mau juga nggak?". "Yaah... Terserah, boleh saja, aku nggak tahu apapun, kok," jawab Kaze. Takana merasa sedikit kecewa, Kaze memang dingin, tapi kalau seperti ini juga bisa menyakiti hati orang, tapi Takana menjadi sedikit sadar, kalau ia dapat kecewa karena orang lain, maka orang lain juga dapat sakit hati karena dia. "Tapi kalau menurutmu hasilnya bagus, tunjukkan saja!", "Eh?", pikir Takana yang kaget karena melihat komentar seperti itu. Takana menjadi senang sekali, jantungnya berdebar dan mulutnya tidak sanggup untuk menahan tawa. Dan Takanapun kelepasan tertawa. "Te, terimakasih, ya, Kaze," pikir Takana yang masih tertawa kecil-kecil. "Iya, deh, aku akan membuat yang bagus!", komen Takana. Daichi dan Kaze tidak menjawab, Takana menjadi sedikit merasa sepi. "Apa mereka sudah tidak disini?", pikir Takana yang masih heran. Takana menunggu hingga larut malam, tapi keduanya tidak menjawab. "Yah, mungkin agak nanti... Tunggu saja, deh...", pikir Takana lagi.
Esok harinya, belum ada satupun komentar yang datang, padahal Takana sampai ketiduran di depan komputer untuk menunggu komentar. "Ah, jam segini sudah harus ada di sekolah, aku harus menjaga harga diriku agar menjadi putri di sekolah. Lanjut pakai ponsel saja, deh...", pikir Takana lagi. "Hm, jam segini masih pagi, cek ponsel dulu, deh... Ah!!!", kata Takana yang baru melihat blognya yang menjadi sumber kebanggaannya. "Jangan terlalu mementingkan teman dari dunia maya, ya! Cari teman di dunia nyata, dong!", "Ka, Kaze...??! Kenapa...?", tanya Takana yang membatu karena membaca komentar Kaze. Takana segera mematikan ponselnya dan berlari ke arah sekolahnya. Takana sedikit sedih, ponselnya sengaja tak dibawa. Hari itu Takana sangat lesu saat di sekolah. Takana tidak sadar, sebenarnya orang yang disebut Kaze dan Daichi di dunia maya berada di kelas yang sama dengannya. "Hiruzawa, nggak apa-apa, nih, kamu ngomong kejam begitu?", "Nggak masalah, kalau komentar yang selalu menyenangkan seperti kamu malah jadinya membosankan tahu! Sekali-sekali dia harus dikeraskan!". Takana sebenarnya adalah pendengar yang baik, dan orang yang berterus terang. "Ma, maaf... Apa maksud kalian? Apa kalian...", kata Takana yang penasaran mendengar percakapan dua cowok kelas atas sekolah. "Wow! Takana-chan bicara pada kita! Senangnya!", seru salah seorang lelaki bernama Matsuzawa Takumi, dalam dunia maya dia adalah Daichi. "Bukan apa-apa!", kata lelaki lain yang bernama Hiruzawa Takumi, dalam dunia maya ia disebut Kaze. Takana terus menatap Hiruzawa yang cara bicaranya mirip Kaze. "Ada apa? Mau protes?", tanya Hiruzawa yang kesal akan pandangan mata Takana yang seperti mau marah. "Benar-benar... Tidak sopan!", pikir Takana dengan sangat-sangat kesal. "Sudah-sudah! Hiru, kita keluar, yuk! Ada menu baru kantin hari ini...", potong Matsuzawa yang benci pertengakaran. Takana segera membelakangi dua orang itu dan melihat ke arah jendela. "Ck, menyebalkan! Tidak sopan! Kenapa berkata begitu? Padahal aku sudah sengaja bertanya baik-baik!", pikir Takana dengan kesal.
Wah, pertengkaran teman blog, nih... Gimana, ya??? Ceritanya seru nggak?
Comment, yaah!
Esok harinya, belum ada satupun komentar yang datang, padahal Takana sampai ketiduran di depan komputer untuk menunggu komentar. "Ah, jam segini sudah harus ada di sekolah, aku harus menjaga harga diriku agar menjadi putri di sekolah. Lanjut pakai ponsel saja, deh...", pikir Takana lagi. "Hm, jam segini masih pagi, cek ponsel dulu, deh... Ah!!!", kata Takana yang baru melihat blognya yang menjadi sumber kebanggaannya. "Jangan terlalu mementingkan teman dari dunia maya, ya! Cari teman di dunia nyata, dong!", "Ka, Kaze...??! Kenapa...?", tanya Takana yang membatu karena membaca komentar Kaze. Takana segera mematikan ponselnya dan berlari ke arah sekolahnya. Takana sedikit sedih, ponselnya sengaja tak dibawa. Hari itu Takana sangat lesu saat di sekolah. Takana tidak sadar, sebenarnya orang yang disebut Kaze dan Daichi di dunia maya berada di kelas yang sama dengannya. "Hiruzawa, nggak apa-apa, nih, kamu ngomong kejam begitu?", "Nggak masalah, kalau komentar yang selalu menyenangkan seperti kamu malah jadinya membosankan tahu! Sekali-sekali dia harus dikeraskan!". Takana sebenarnya adalah pendengar yang baik, dan orang yang berterus terang. "Ma, maaf... Apa maksud kalian? Apa kalian...", kata Takana yang penasaran mendengar percakapan dua cowok kelas atas sekolah. "Wow! Takana-chan bicara pada kita! Senangnya!", seru salah seorang lelaki bernama Matsuzawa Takumi, dalam dunia maya dia adalah Daichi. "Bukan apa-apa!", kata lelaki lain yang bernama Hiruzawa Takumi, dalam dunia maya ia disebut Kaze. Takana terus menatap Hiruzawa yang cara bicaranya mirip Kaze. "Ada apa? Mau protes?", tanya Hiruzawa yang kesal akan pandangan mata Takana yang seperti mau marah. "Benar-benar... Tidak sopan!", pikir Takana dengan sangat-sangat kesal. "Sudah-sudah! Hiru, kita keluar, yuk! Ada menu baru kantin hari ini...", potong Matsuzawa yang benci pertengakaran. Takana segera membelakangi dua orang itu dan melihat ke arah jendela. "Ck, menyebalkan! Tidak sopan! Kenapa berkata begitu? Padahal aku sudah sengaja bertanya baik-baik!", pikir Takana dengan kesal.
Wah, pertengkaran teman blog, nih... Gimana, ya??? Ceritanya seru nggak?
Comment, yaah!
Minggu, 21 Oktober 2012
Silver Girl
Aku Kaede Hikaru, kelas 6 SD, suka melakukan hal-hal yang menarik, tapi aku benci hal yang sedang trend sekarang. Hobiku adalah mencari hal-hal baru yang belum ditemukan orang lain, menulis, berkreasi, jalan-jalan, refreshing, mendesain, menjual barang buatan tangan, bercerita, dan masih banyak lagi. Aku memang hanya memiliki 2 teman, dan 1 sahabat, tapi mereka sudah cukup bagiku... Mereka juga benci hal yang sedang nge-trend, lalu mereka benci pada persaturan dan ketidak bebasan. Huuah... Kalau punya teman yang punya hobi atau kesukaan sama, tidak perlu banyak-banyakkan? Yang terpenting hanya kepahaman. "Akii-chan, Yutto-san, Komura-kun, sini!!!", panggilku saat istirahat sekolah. Aku selalu memanggil mereka seperti itu setiap kali aku ingin memanggil mereka.
Aku merasa duniaku cukup hanya dengan ini, aku tak ingin punya teman lebih dari ini, aku tak ingin punya teman dari dunia maya, aku cukup puas hanya dengan mereka... Tapi, aku yakin sekali, kita tak mungkin bersama selamanya. Aku sangat cemas akan hal itu.
Suatu hari, Akii-chan jadi pacar Yutto-san yang selama ini kusukai secara diam-diam. Awalnya, aku merasa kesal pada Akii-chan, ia menjadi mengerti kebiasaan baik maupun buruk Yutto-san, aku merasa mereka keasyikan sendiri. Akhirnya, tinggal aku dan Komura-kun sendiri. "Komura-kun, nggak sedih, kehilangan dua orang teman?", tanyaku yang masih sedih, mataku berkaca-kaca. Komura-kun hanya tersenyum. Dan tiba-tiba ia menjawab, "Tidak! Karena ada Kaede disini, aku nggak sedih!". Aku merasa sedikit terkejut, entah kenapa air mataku kering dan mendadak aku merasa hatiku hangat, denyut jantungku lebih normal, dan nafasku lebih lancar. "Ko, Komura-kun?? A... Aku... eee...ng...", kataku dengan gugup dan terbata-bata. "Kaede, aku menyukaimu... lebih lama dari pada kamu menyukai Yutto! Aku sangat suka kamu! Dan jangan panggil aku Komura-kun, panggil aku Komura!", bisik Komura-kun di telingaku. "Ko... Ko... Komu...Komura......Komura-kun?", kataku yang masih kalang kabut. "Ingat itu, ya!", kata Komura-kun lalu pergi dari tempat kami berdiri tadi. "A, apa ini... bu, bu... bukan mi... mim...mimpi...kan?", pikirku yang masih berdebar dengan kencang karena baru pertama kali ditembak oleh laki-laki. "Ko... Komura... ya? Duuh... malunya!!!", seruku sambil menampar diri sendiri bolak-balik sampai pipiku merah dan bengkak.
Esok harinya, aku sengaja terus menghindari Komura-kun karena malu sekali. Komura-kun memang bingung, tapi aku merasa berat hati, aku yang selama ini menyukai Yutto-san sampai lupa apapun dan kurahasiakan terus dari siapapun bisa diketahui oleh Komura-kun yang sebenarnya menyukaiku sejak lama. Aku bingung... cinta rumit jenis apa iniii???! Duh... rasanya kepala mau pecah, deh... Berhenti mikir, stop sampai di situ saja... aku nggak mau merasakan cinta lagi... Uuh!! Tiba-tiba saja ada yang memanggilku, "Kaede!". Aku merasa mengenal suara itu dengan sangat jelas, aku langsung melarikan diri, tapi tak lama kemudian aku tertangkap juga, dan ternyata benar, orang yang memanggilku tadi adalah Komura-kun, aku tidak heran ataupun syok, karena aku bemar-benar mengerti kalau itu adala Komura-kun. "Ke, kenapa kamu lari... Kaede?", kata Komura-kun yang masih ngos-ngosan. "Maaf, Komura-kun, aku takut untuk mengatakannya... aku... ternyata memang...", kataku dengan pelan. Komura-kun segera menutup mulutku, "Kaede, aku tahu, aku memang bukan pangeran yang kamu impikan, karena aku bukan Yutto... Aku ya aku! Aku tak bisa berubah!", seru Komura-kun yang sudah melepas mulutku. Aku sadar, Komura-kun sudah mengajarkan aku tentang 'Siapakah diriku?', jawabannya adalah, 'Aku ya aku'. Aku hanya diam dan terus menatap ke bawah, tidak sekalipun aku menatap wajah Komura-kun. "Aku, aku tak bisa mengubah perasaanku padamu, jadi... sekali saja, lihatlah aku, Kaede!", lanjut Komura-kun yang berusaha keras untuk membuatku berpaling padanya. "...". Akhirnya, aku menoleh ke arahnya, aku menatap mukanya dengan baik dan menyentuh tangannya yang sangat lembut. Perlahan, kami menjadi semakin dekat dan dekat, aku merasa Komura-kun adalah orang yang sangat berarti bagiku. (Bersambung............)
Gimana? Bagus? Jelek? Comment, ya!
Aku merasa duniaku cukup hanya dengan ini, aku tak ingin punya teman lebih dari ini, aku tak ingin punya teman dari dunia maya, aku cukup puas hanya dengan mereka... Tapi, aku yakin sekali, kita tak mungkin bersama selamanya. Aku sangat cemas akan hal itu.
Suatu hari, Akii-chan jadi pacar Yutto-san yang selama ini kusukai secara diam-diam. Awalnya, aku merasa kesal pada Akii-chan, ia menjadi mengerti kebiasaan baik maupun buruk Yutto-san, aku merasa mereka keasyikan sendiri. Akhirnya, tinggal aku dan Komura-kun sendiri. "Komura-kun, nggak sedih, kehilangan dua orang teman?", tanyaku yang masih sedih, mataku berkaca-kaca. Komura-kun hanya tersenyum. Dan tiba-tiba ia menjawab, "Tidak! Karena ada Kaede disini, aku nggak sedih!". Aku merasa sedikit terkejut, entah kenapa air mataku kering dan mendadak aku merasa hatiku hangat, denyut jantungku lebih normal, dan nafasku lebih lancar. "Ko, Komura-kun?? A... Aku... eee...ng...", kataku dengan gugup dan terbata-bata. "Kaede, aku menyukaimu... lebih lama dari pada kamu menyukai Yutto! Aku sangat suka kamu! Dan jangan panggil aku Komura-kun, panggil aku Komura!", bisik Komura-kun di telingaku. "Ko... Ko... Komu...Komura......Komura-kun?", kataku yang masih kalang kabut. "Ingat itu, ya!", kata Komura-kun lalu pergi dari tempat kami berdiri tadi. "A, apa ini... bu, bu... bukan mi... mim...mimpi...kan?", pikirku yang masih berdebar dengan kencang karena baru pertama kali ditembak oleh laki-laki. "Ko... Komura... ya? Duuh... malunya!!!", seruku sambil menampar diri sendiri bolak-balik sampai pipiku merah dan bengkak.
Esok harinya, aku sengaja terus menghindari Komura-kun karena malu sekali. Komura-kun memang bingung, tapi aku merasa berat hati, aku yang selama ini menyukai Yutto-san sampai lupa apapun dan kurahasiakan terus dari siapapun bisa diketahui oleh Komura-kun yang sebenarnya menyukaiku sejak lama. Aku bingung... cinta rumit jenis apa iniii???! Duh... rasanya kepala mau pecah, deh... Berhenti mikir, stop sampai di situ saja... aku nggak mau merasakan cinta lagi... Uuh!! Tiba-tiba saja ada yang memanggilku, "Kaede!". Aku merasa mengenal suara itu dengan sangat jelas, aku langsung melarikan diri, tapi tak lama kemudian aku tertangkap juga, dan ternyata benar, orang yang memanggilku tadi adalah Komura-kun, aku tidak heran ataupun syok, karena aku bemar-benar mengerti kalau itu adala Komura-kun. "Ke, kenapa kamu lari... Kaede?", kata Komura-kun yang masih ngos-ngosan. "Maaf, Komura-kun, aku takut untuk mengatakannya... aku... ternyata memang...", kataku dengan pelan. Komura-kun segera menutup mulutku, "Kaede, aku tahu, aku memang bukan pangeran yang kamu impikan, karena aku bukan Yutto... Aku ya aku! Aku tak bisa berubah!", seru Komura-kun yang sudah melepas mulutku. Aku sadar, Komura-kun sudah mengajarkan aku tentang 'Siapakah diriku?', jawabannya adalah, 'Aku ya aku'. Aku hanya diam dan terus menatap ke bawah, tidak sekalipun aku menatap wajah Komura-kun. "Aku, aku tak bisa mengubah perasaanku padamu, jadi... sekali saja, lihatlah aku, Kaede!", lanjut Komura-kun yang berusaha keras untuk membuatku berpaling padanya. "...". Akhirnya, aku menoleh ke arahnya, aku menatap mukanya dengan baik dan menyentuh tangannya yang sangat lembut. Perlahan, kami menjadi semakin dekat dan dekat, aku merasa Komura-kun adalah orang yang sangat berarti bagiku. (Bersambung............)
Gimana? Bagus? Jelek? Comment, ya!
Sky and Earth
Nezumi Kaori adalah seorang siswi SMP biasa, tapi entah sejak kapan kehidupan Kaori menjadi berubah drastis. Kaori diangkat menjadi malaikat. Kaori harus menjadi sosok yang jauh berbeda dari seorang manusia biasa, tapi repotnya lagi, Kaori tidak boleh mengatakan kepada siapapun kecuali para penghuni surga kalau ia adalah seorang malaikat. Kaori yang selalu bahagia tak menganggapnya merepotkan, karena menjadi malaikat adalah kebanggaan. Kaori adalah anak yang tak menyolok sama sekali, tak ada yang mengenalnya, jika ada yang mengenalnya, Kaori hanya akan ditindas. Keluarga Kaori sudah tak ada semua. Yang mengenalnya hanyalah seorang guru laki-laki bernama Ichiro Hayama, guru yang tampan dan juga tidak menyolok seperti Kaori. Tapi keduanya tidak pernah saling bertatap mata. Tanpa diketahui, diam-diam Pak Guru menyukai Kaori, tapi sayangnya, cintanya tak terbalas. Kaori yang tak menyolok dan tak pernah dihampiri itu tidak berani menyukai seseorang sekalipun. Kaori mengalami trauma pada percintaan, ia ditindas karena menyukai seseorang yang akrab dengannya saat SD. Kaori takut kalau ia ditindas dan sekarat seperti dulu lagi.
Suatu ketika, Kaori dipanggil oleh pak guru, Kaori cukup panik. Apakah ia akan ditegur oleh pak guru?
Di taman tempat mereka bertemu, tempat mereka pertama kali bertatap mata, muka dengan muka. Kaori merasa sedikit berdebar begitu melihat pak guru. "Eh, Pak Hayama? Ada apa?", tanya Kaori yang sedikit malu. "Be, begini, Ne... Nezumi... Aku, ng...", jawab pak guru. "Ma, maaf, pak... Aku a, ada urusan... aku nggak bisa bicara dengan pak guru...", kata Kaori mendadak, ia malu debarannya terdengar makin keras. "Tunggu! Dengarkan dulu! Aku... padamu! Pikirkanlah apa kata kosong yang tak kuucapkan!", seru pak guru yang berusaha mencegah kepergian Kaori. "Su... suka?", pikir Kaori yang mukanya memerah. Pak guru langsung berlari pergi dari taman. "Pak guru... padaku? Apa benar suka? A, aku... aku nggak boleh terlalu GR! Nggak mungkin ada yang suka aku! Aku harus melupakannya! Guru kan harusnya sudah punya kekasih! Duuh!!!", pikir Kaori lagi. "Ah, jam segini! Aku harus pulang sekarang!!", batin Kaori yang jantungnya masih berdebar dengan keras. "Apa-apaan, sih, aku ini?! Nggak mungkin suka pak guru! Beda status tau!!!", seru Kaori dalam hati. Pip pip pop! You got a message! "Ah! SMS! Dari siapa, ya? Aku nggak punya nomornya siapa-siapa... Eh, Hayama Ichiro? Pak guru Hayama?", pikir Kaori gugup. "Apa isinya, ya?", tanya Kaori pada dirinya sendiri. Kaori segera membuka pesannya, dan membacanya, "Kaori, jangan lupakan kejadian di taman tadi! Apa kamu sudah menemukan kata-kata kosongnya?". "Gawat! Pak guru mengerikan!!", pikir Kaori panik. "Nggak usah kujawab saja, deh... ahaha!", kata Kaori sambil tertawa bingung. Pippoppip You got a message! "Geeh!!? Lagi??!! Su, sudahlah... Ng, nggak usah kubuka! Biarkan saja! Aku nggak mau peduli!!! Bi, biarkan saja aku!", seru Kaori, dan sejak itu ponsel Kaori tidak pernah lagi menyala.
Seminggu berlalu, ponsel Kaori masih belum bisa menyala, Kaori terus menggunakan laptopnya untuk meng-email sahabat SD-nya dulu. "Apa nggak masalah... Aku tidak membalas perkataan pak guru?", tanya Kaori sambil memeluk ponselnya. "Ah... Pak guru... Aku ingin cepat pelajaran matematika...", lanjut Kaori sambil berguling-guling di kasurnya.
Yaaaa! Bersambung! Akan kulanjutkan kapan kapan, oke? Mizuki siap menerima apapun!!
Suatu ketika, Kaori dipanggil oleh pak guru, Kaori cukup panik. Apakah ia akan ditegur oleh pak guru?
Di taman tempat mereka bertemu, tempat mereka pertama kali bertatap mata, muka dengan muka. Kaori merasa sedikit berdebar begitu melihat pak guru. "Eh, Pak Hayama? Ada apa?", tanya Kaori yang sedikit malu. "Be, begini, Ne... Nezumi... Aku, ng...", jawab pak guru. "Ma, maaf, pak... Aku a, ada urusan... aku nggak bisa bicara dengan pak guru...", kata Kaori mendadak, ia malu debarannya terdengar makin keras. "Tunggu! Dengarkan dulu! Aku... padamu! Pikirkanlah apa kata kosong yang tak kuucapkan!", seru pak guru yang berusaha mencegah kepergian Kaori. "Su... suka?", pikir Kaori yang mukanya memerah. Pak guru langsung berlari pergi dari taman. "Pak guru... padaku? Apa benar suka? A, aku... aku nggak boleh terlalu GR! Nggak mungkin ada yang suka aku! Aku harus melupakannya! Guru kan harusnya sudah punya kekasih! Duuh!!!", pikir Kaori lagi. "Ah, jam segini! Aku harus pulang sekarang!!", batin Kaori yang jantungnya masih berdebar dengan keras. "Apa-apaan, sih, aku ini?! Nggak mungkin suka pak guru! Beda status tau!!!", seru Kaori dalam hati. Pip pip pop! You got a message! "Ah! SMS! Dari siapa, ya? Aku nggak punya nomornya siapa-siapa... Eh, Hayama Ichiro? Pak guru Hayama?", pikir Kaori gugup. "Apa isinya, ya?", tanya Kaori pada dirinya sendiri. Kaori segera membuka pesannya, dan membacanya, "Kaori, jangan lupakan kejadian di taman tadi! Apa kamu sudah menemukan kata-kata kosongnya?". "Gawat! Pak guru mengerikan!!", pikir Kaori panik. "Nggak usah kujawab saja, deh... ahaha!", kata Kaori sambil tertawa bingung. Pippoppip You got a message! "Geeh!!? Lagi??!! Su, sudahlah... Ng, nggak usah kubuka! Biarkan saja! Aku nggak mau peduli!!! Bi, biarkan saja aku!", seru Kaori, dan sejak itu ponsel Kaori tidak pernah lagi menyala.
Seminggu berlalu, ponsel Kaori masih belum bisa menyala, Kaori terus menggunakan laptopnya untuk meng-email sahabat SD-nya dulu. "Apa nggak masalah... Aku tidak membalas perkataan pak guru?", tanya Kaori sambil memeluk ponselnya. "Ah... Pak guru... Aku ingin cepat pelajaran matematika...", lanjut Kaori sambil berguling-guling di kasurnya.
Yaaaa! Bersambung! Akan kulanjutkan kapan kapan, oke? Mizuki siap menerima apapun!!
Rabu, 17 Oktober 2012
Piano Princess
Namaku Ishika Kirigami, anak bangsawan, kerabat Himeka. Aku adalah seorang pemusik muda berbakat yang terkenal, tetapi aku adalah bangsawan buta. Aku mengerti sekali perasaan Himeka, karena dulu aku juga pernah dipaksa bermain piano. Kuharap kamu nggak terlalu merasa dipaksa, ya, Himeka. Karena kalau kamu nggak merasa dipaksa akan jadi lebih baik. Kalau tidak merasakan sesuatu sebagai paksaan, maka kita tidak akan terlalu menderita.
Dulu, aku merasa kalau hanya aku yang dipaksa begini, dipaksa hingga diancam oleh maut. Aku sangat takut dan menyesal, mengapa aku dilahirkan di dunia ini dan dibesarkan tanpa kasih sayang. Aku menangis setiap malam tanpa berhenti. Aku selalu berdoa agar aku dilenyapkan, tapi tidak doaku tidak kunjung terkabul. Suatu hari, aku kembali bermain bermain biola kesayanganku, hatiku kembali damai, kecemasanku hilang, rasa kesal, senang, sedih, semuanya tersalur pada tanganku dan hatiku, aku sudah dapat bernafas dengan lancar lagi. Aku merasa bahagia saat bermain, tapi tiba-tiba, ayah dan ibuku menegurku dan merampas biola itu dari tanganku. Aku merasa tertusuk dan dikhianati oleh orangtuaku sendiri. Padahal, dahulu, mereka sangat bahagia dan senang jika aku bermain biola. Sekarang, mereka malah berkata padaku, "Jangan pernah sekalipun menyentuh biola ini! Dasar iblis bersayap malaikat yang terus membawa kesialan!". Hatiku seperti dirusak, hingga aku syok dan kepalaku terbentur ketika aku hendak menaiki tangga untuk menuju kamar, dan aku langsung melihat seluruh pemandangan yang menjadi gelap, aku bingung hingga tidak tahu harus berbuat apa. Aku kembali menangis sendirian, kepalaku juga sudah sedikit sobek dan darah bercucuran dari kepala dan tanganku. "Kenapa hanya aku yang ditakdirkan begini?", tanyaku saat itu, aku yang masih tak mengerti apapun.
Berbulan-bulan telah berlalu, aku hanya terus menerus berlatih piano hingga tak peduli sekitar, dan lupa segalanya. Tapi hanya satu yang aku ingat, yaitu pengalamanku selama ada biola kesayanganku itu. Aku terus memikirkan di manakah biolaku itu setelah disita oleh orangtuaku. Hal itu terus terngiang-ngiang di kepalaku. "Tuhan, kenapa... kenapa aku saja yang penuh dengan celaka begini? Apakah kelak aku tidak akan punya pekerjaan? Apakah aku akan menjadi terkenal?", pikirku yang masih teringat oleh biola kesayanganku. Aku kembali menangis tanpa suara seperi biasa,hanya saja air mataku bercucuran tanpa berhenti. Aku selalu berpikir, apakah akan ada yang menolongku nanti? Apakah aku akan sukses nanti?
Aku berlatih piano setiap hari sambil dibimbing oleh guru pribadiku. Guru pribadiku adalah orang yang sangat jahat dan keras, tapi beliau adalah orang yang pemuji. Tapi aku belum pernah sekalipun dapat pujian darinya,dan beliau justru menghinaku habis-habisan. Aku merasa segala yang kulakukan sia-sia, dan yang paling parah, aku merasa dipaksa oleh semuanya. Tetapi, aku takkan menyerah untuk satu kata pujian saja! Aku terus berjuang meski tanganku mentendonitis.
Dan suatu hari... "Kirigami-san, kamu berhasil!", puji guruku sambil menepuk kepalaku dengan lembut. Aku merasa sangat senang dan bangga, hatiku seperti dipecahkan dari es musim dingin yang sangaat dingin. Lega sekali rasanya... Aku ingin beliau mengatakannya lagi, tapi setelah seminggu, ia tidak datang kemari dan banyak kabar berkata, "Eh, anak bangsawan Kirigami yang membunuh musisi berbakat bernama Kirio Aru, kan? Dasar malaikat pembawa sial! Menyebalkan! Padahal sudah lama aku suka sama Aru-sama!!", bisik seorang perempuan dari belakang. "Iya... Padahal, ada kemungkinan aku bisa bertunangan dengan Kirio-kun... Harusnya anak itu saja yang mati!", balas perempuan yang lain. "Ah, maaf... aku nggak tahu apapun...", pikirku dengan gelisah. Aku terus menerus merenung di kamar, sudah 3 hari aku tidak makan ataupun minum, aku hanya melamun dan diam saja di kamar. Tiba-tiba ketika aku hendak keluar kamar melalui jendela, ada yang membuka pintu kamarku dan memanggil namaku, "I-chan...". Aku sedikit terkejut, baru kali ini ada yang memanggil nama kecilku. Aku segera menoleh dan melihat seorang gadis yang manis dan lebih muda 2 tahun dariku. "Si, siapa?", tanyaku yang masih terpesona, dan entah kenapa aku bisa melihat lagi... apa ini yang disebut mata hati? "Namaku Himeka. Salam kenal!", jawab gadis itu dengan senyum ramahnya yang menawan. "Hime-chan? Aku... aku kenal...", kataku yang masih terpesona. Himeka mengangguk, ekspresinya terlihat bahagia, aku ikut senang, kecemasanku jadi hilang dan aku jadi merasa tenang. Aku kenapa, ya? Mataku seperti menolak untuk dibuka, tapi hatiku seperti memaksa membuka. Himeka adalah penyelamatku... Aku sangat menyukainya dia seperti adik kandungku. Aku sangat menyayanginya, ia adalah orang paling berharga bagiku.
Oleh karena itu, sekarang, aku ingin menjadi penyelamat bagi Himeka. Aku terus menerus menghibur Himeka, dan dukunganku tersampaikan. "Terima kasih I-chan! Ah, maksudku kakak...", katanya sambil tersenyum. "Berkat kakak,aku jadi mengerti sekarang. Aku akan merasa senang akan semua hal...", lanjutnya. Aku hanya tersenyum lega sambil mengelusnya.
Akhirnya, sekarang kami berdua mengadakan konser musik di Tokyo-Dome. Rasanya senang sekali dan lega, kami mengalami masalah yang serupa... Dan tujuan kami terkabul. Terima kasih atas dukungan kalian. Sampai jumpa!
Yak! Selesaiiii! Capek, nih... komen, ya!
Minorin
Dulu, aku merasa kalau hanya aku yang dipaksa begini, dipaksa hingga diancam oleh maut. Aku sangat takut dan menyesal, mengapa aku dilahirkan di dunia ini dan dibesarkan tanpa kasih sayang. Aku menangis setiap malam tanpa berhenti. Aku selalu berdoa agar aku dilenyapkan, tapi tidak doaku tidak kunjung terkabul. Suatu hari, aku kembali bermain bermain biola kesayanganku, hatiku kembali damai, kecemasanku hilang, rasa kesal, senang, sedih, semuanya tersalur pada tanganku dan hatiku, aku sudah dapat bernafas dengan lancar lagi. Aku merasa bahagia saat bermain, tapi tiba-tiba, ayah dan ibuku menegurku dan merampas biola itu dari tanganku. Aku merasa tertusuk dan dikhianati oleh orangtuaku sendiri. Padahal, dahulu, mereka sangat bahagia dan senang jika aku bermain biola. Sekarang, mereka malah berkata padaku, "Jangan pernah sekalipun menyentuh biola ini! Dasar iblis bersayap malaikat yang terus membawa kesialan!". Hatiku seperti dirusak, hingga aku syok dan kepalaku terbentur ketika aku hendak menaiki tangga untuk menuju kamar, dan aku langsung melihat seluruh pemandangan yang menjadi gelap, aku bingung hingga tidak tahu harus berbuat apa. Aku kembali menangis sendirian, kepalaku juga sudah sedikit sobek dan darah bercucuran dari kepala dan tanganku. "Kenapa hanya aku yang ditakdirkan begini?", tanyaku saat itu, aku yang masih tak mengerti apapun.
Berbulan-bulan telah berlalu, aku hanya terus menerus berlatih piano hingga tak peduli sekitar, dan lupa segalanya. Tapi hanya satu yang aku ingat, yaitu pengalamanku selama ada biola kesayanganku itu. Aku terus memikirkan di manakah biolaku itu setelah disita oleh orangtuaku. Hal itu terus terngiang-ngiang di kepalaku. "Tuhan, kenapa... kenapa aku saja yang penuh dengan celaka begini? Apakah kelak aku tidak akan punya pekerjaan? Apakah aku akan menjadi terkenal?", pikirku yang masih teringat oleh biola kesayanganku. Aku kembali menangis tanpa suara seperi biasa,hanya saja air mataku bercucuran tanpa berhenti. Aku selalu berpikir, apakah akan ada yang menolongku nanti? Apakah aku akan sukses nanti?
Aku berlatih piano setiap hari sambil dibimbing oleh guru pribadiku. Guru pribadiku adalah orang yang sangat jahat dan keras, tapi beliau adalah orang yang pemuji. Tapi aku belum pernah sekalipun dapat pujian darinya,dan beliau justru menghinaku habis-habisan. Aku merasa segala yang kulakukan sia-sia, dan yang paling parah, aku merasa dipaksa oleh semuanya. Tetapi, aku takkan menyerah untuk satu kata pujian saja! Aku terus berjuang meski tanganku mentendonitis.
Dan suatu hari... "Kirigami-san, kamu berhasil!", puji guruku sambil menepuk kepalaku dengan lembut. Aku merasa sangat senang dan bangga, hatiku seperti dipecahkan dari es musim dingin yang sangaat dingin. Lega sekali rasanya... Aku ingin beliau mengatakannya lagi, tapi setelah seminggu, ia tidak datang kemari dan banyak kabar berkata, "Eh, anak bangsawan Kirigami yang membunuh musisi berbakat bernama Kirio Aru, kan? Dasar malaikat pembawa sial! Menyebalkan! Padahal sudah lama aku suka sama Aru-sama!!", bisik seorang perempuan dari belakang. "Iya... Padahal, ada kemungkinan aku bisa bertunangan dengan Kirio-kun... Harusnya anak itu saja yang mati!", balas perempuan yang lain. "Ah, maaf... aku nggak tahu apapun...", pikirku dengan gelisah. Aku terus menerus merenung di kamar, sudah 3 hari aku tidak makan ataupun minum, aku hanya melamun dan diam saja di kamar. Tiba-tiba ketika aku hendak keluar kamar melalui jendela, ada yang membuka pintu kamarku dan memanggil namaku, "I-chan...". Aku sedikit terkejut, baru kali ini ada yang memanggil nama kecilku. Aku segera menoleh dan melihat seorang gadis yang manis dan lebih muda 2 tahun dariku. "Si, siapa?", tanyaku yang masih terpesona, dan entah kenapa aku bisa melihat lagi... apa ini yang disebut mata hati? "Namaku Himeka. Salam kenal!", jawab gadis itu dengan senyum ramahnya yang menawan. "Hime-chan? Aku... aku kenal...", kataku yang masih terpesona. Himeka mengangguk, ekspresinya terlihat bahagia, aku ikut senang, kecemasanku jadi hilang dan aku jadi merasa tenang. Aku kenapa, ya? Mataku seperti menolak untuk dibuka, tapi hatiku seperti memaksa membuka. Himeka adalah penyelamatku... Aku sangat menyukainya dia seperti adik kandungku. Aku sangat menyayanginya, ia adalah orang paling berharga bagiku.
Oleh karena itu, sekarang, aku ingin menjadi penyelamat bagi Himeka. Aku terus menerus menghibur Himeka, dan dukunganku tersampaikan. "Terima kasih I-chan! Ah, maksudku kakak...", katanya sambil tersenyum. "Berkat kakak,aku jadi mengerti sekarang. Aku akan merasa senang akan semua hal...", lanjutnya. Aku hanya tersenyum lega sambil mengelusnya.
Akhirnya, sekarang kami berdua mengadakan konser musik di Tokyo-Dome. Rasanya senang sekali dan lega, kami mengalami masalah yang serupa... Dan tujuan kami terkabul. Terima kasih atas dukungan kalian. Sampai jumpa!
Yak! Selesaiiii! Capek, nih... komen, ya!
Minorin
Langganan:
Komentar (Atom)









.full.264714.jpg)








