Sabtu, 27 Oktober 2012

Cacao Pop

     Sesudah dua minggu bekerja, akhirnya muncul majalah khusus bernama Momoko Maiko ~Cacao Pop~, majalah yang penuh denganku yang memodelkan Cacao Pop. Senang, sih, tapi malu juga, ya... Hng, oh, ya! Sebentar lagi akan datang libur musim panas, aku juga pasti libur kerja! Yay! Aku harus segera bertanya pada Aru-kun! Aku ingin dia jalan-jalan denganku... tapi tunggu! Aku meyakini hal ini dengan sangat! Aru-kun... bukan.... cinta pertamaku! Aku yakin sekali! Tapi,... kalau dilihat mereka benar-benar mirip... aku yakin akan hal itu juga... kalau harus memilih... maka... "Momo-chan!!!" "Aru-kun???!". "Mulai minggu depan, jadwal kita akan semakin padat lho!", "A, apa!? Minggu depan kan mulai liburan musim panas! Dasar sialan!", seruku karena marah pada direktur menyebalkan yang suka memadatkan jadwal. "Tenanglah Momo-chan, kita kerja bersama, kok!", kata Aru-kun sambil memelukku dari belakang untuk menenangkanku. Mukaku langsung merah padam, aku merasa malu sekali dan akhirnya berteriak, "Aku lebih nggak tenang lagi tahu!!!!!", sambil menghantam kepalaku dengan dagu Aru-kun. "Auuu!", seru Aru-kun sambil menangis saking sakitnya. "Rasakan! Dasar mata keranjang!", kataku sambil berjalan keluar. "Tunggu, Momo-chan!", seru Aru-kun, tapi aku pura-pura tidak dengar, aku terus berjalan ke arah kamar mandi dan mengerol rambutku. "Aru-kun bodoh! Dasar mata keranjang! Cih!", pikirku sambil meneruskan mengerol rambut.
      Setelah selesai mengerol rambut, aku datang ke kameramen yang biasa memotretku, lalu aku berkata, "Pak kameramen, kenapa jadwalnya dipadatkan, sih? Aku kan mau liburan!". Kameramen hanya diam dan meneruskan mengedit gambar di komputer milik direktur. "Woi! Dengarkan aku, dong!", seruku yang kesal karena tidak diperhatikan. Kameramen itu hanya membalas, "Direktur...". Aku masih sangat kesal, terasa ingin memukulnya, tapi aku menenangkan diri dan pergi ke ruangan Pak direktur. "Pak!", seruku sdengan nada kasar. "Siapa, ya? Oh, Momo-chan, ya... Ada apa?", tanya direktur. "Aku... pro-tes! Kenapa musim panas jadwal dipadatkan dan tidak diliburkan??! Kenapa!!", seruku sambil meneriakannya di telinga direktur. "Hng, agar membedakan agency ini dengan agency lain mungkin... agency lain kebanyakan libur di musin panas, saat musim dingin, mereka membuat foto palsu edisi musim panas. Aku ingin agency ini jujur dan benar-benar terkenal dengan cara halal. Makanya, aku meliburkannya saat musim gugur, cuma setengah bulan, sih...", jawab direktur. "Oh...", kataku dengan tanpa ekspresi maupun nada. Aku paham sekarang, kenapa agency ini tidak mau libur... agency yang tidak populer ini... berusaha keras, mencapai apa yang dapat mereka capai sampai maksimal. "Terima kasih direktur! Aku ingin menjadi lebih baik lagi!", kataku sambil tersenyum tulus. Lalu aku berlari menuju toilet lagi dan memakai bando yang dibelikan direktur untukku. Setelah itu aku langsung berlari ke arah kamar ganti Aru-kun dan mengetuk pintu. "Aru-kun, mulai hari ini aku akan serius bekerja! Jadi, tolong bantu aku, ya!", kataku di depan pintu lalu berjalan pergi untuk pulang.
       Di rumah, aku menjhit beberapa baju lolita yang cocok dipakai untuk pemotretan dan baju santai untuk musim panas. "Hehe... asyik juga bersantai di rumah seperti ini...", pikirku sambil tertawa-tawa sendiri. Kalau dipikir-pikir, aku nggak pernah santai sambil menjahit seperti ini, rasanya lega... "Ah~ aku mau ponsel! Kalau punya ponsel akan kupamerkan semua ini pada Aru-kun...", keluhku sambil berguling di kasur untuk bersantai sedikit. "Tabunganku berapa, ya??", tanyaku sambil membuka tabunganku. "Ah! 300.000 yen! Hebat! Aku bisa beli, deh!",seruku karena bangga.
       Esoknya, aku pergi sendiri ke toko ponsel untuk anak SD-SMP. Di sana tidak sampai 100.000 yen. "Ada yang bagus nggak, ya?", pikirku yang sebenarnya agak ragu. Saat di dalam, aku melihat isi tokonya, dan banyak ponsel bagus. "Wah, indahnyaa! Jadi binung mau pilih yang mana...", pikirku sambil menolah-noleh ke segala arah. "Selamat datang... Momo-chan?". "Eh?! Aru-kun?" "....ah, ada apa kesini?", tanya Aru-kun. Aku terkejut karena melihat Aru-kun yang menjual ponsel-ponsel imut ini. "Tentu saja beli ponsel, dong!", jawabku. "Oh... ponsel... bukan permen yang hilang, kan? Bagus, deh...", kata Aru-kun sambil membuka sebuah lemari dan melihat isinya. "Di situ ada apa, sih?", tanyaku sambil mendekati Aru-kun. "Ini untukmu, gratis! Dan masih baru, di dalamnya juga ada nomorku," kata Aru-kun sambil memberikan ponsel yang indah dan bertuliskan Momo-chan. "Aru-kun... te... terima..kasih!", kataku sambil tersenyum. "Iya-iya. Sudah, sana!", balas Aru-kun sambil mengelus kepalaku. Aku mengangguk dan berlari keluar sambil menggenggam ponsel itu erat-erat.
Rasanya senang sekali... aku menyukai Aru-kun!
     (T*B*C*N*I*U*)

2 komentar: