Selasa, 23 Oktober 2012

The Darkness Witch World


              Akami Hiruka adalah penyihir gelap, meski umurnya masih 11 tahun, dia sangat cerdas, pemberani, dan kuat. Tapi karena masih kecil, staminanya masih cukup lemah. Dan Akami mengendap penyakit leukimia. Meskipun sudah menyadarinya, Akami tetap semangat menjalani kehidupan sehari-harinya, meskipun harus mati atau gugur, Akami tetap senang dan mensyukuri segalanya.
              Hari ke 6 menjalani sekolah, sekolah Akami mengadakan event ~The witch helping people~, acara event itu agar tidak membuat bosan warga sekolah. "Ah, soal ini, ya... sejujurnya aku malas, sih, tapi karena tugas sekolah...", pikir Akami yang sebenarnya sudah pernah. Akami merasa, ia akan mendapat pelajaran baru dari tugas kali ini. "Ufh, aku harus membantu berapa orang lagi, ya?", pikir Akami lagi. Di bumi, Akami melihat dari atas sambil melayang-layang di udara. "Ah, ada orang yang kesusahan! Dari sini, bisa terlihat... Namanya Kai Yamada, oke!". Akami segera ke arah orang itu. "Permisi, bisakah saya berbicara dengan anda?", tanya Akami yang pendeknya berbeda dari orang yang bernama Kai itu. "I,iya... Tapi, kamu pendek banget, ya... umur berapa, sih?", tanya Kai. "Yah, umur sekitar 11 tahun ke atas... apakah anda keberatan?", tanya Akami lagi. "Ngg... tidak, kok! Hanya saja,... apakah kamu berani bertanya pada remaja berumur 15 tahun?", tanya Kai yang sebenarnya sedikit keberatan. "Tidak, kok! Kita terhubung karena tugasku di sini sebagai...", jawab Akami. "Sebagai apa?", tanya Kai lagi. "Sebagai seorang pelajar SD, kata pak guru harus cari orang yang kesusahan lalu membantunya. Begitu!", "Kamu SD mana, sih? Kok rasanya ribet banget...", tanya Kai untuk ke tiga kalinya. "Yah, sebenarnya SD luar negeri, sih...", jawab Akami yang sebenarnya bohong besar. "Gitu toh... Makasih sudah mau bantuin aku, ya... kamu ikut aku saja,deh!", kata Kai. "Baik!".
               Dan rumah Kai ternyata cukup kecil, tapi sangat nyaman. "Jangan komentar apapun soal rumahku, ya!", kata Kai yang mukanya sedikit memerah. "Eeh? Kenapa? Padahal bagus dan nyaman...  sejak dulu, aku ingin memiliki rumah seperti ini... sebab, rumah yang seperti ini adalah impian orangtuaku dulu, aku ingin mewujudkan impian mereka memiliki rumah seperti ini," kata Akami sambil tersenyum senang. Muka Kai tiba-tiba memerah dan tidak menjawab Akami. "Tu, tunggu! Apa aku salah bicara? Jangan marah, dong!", seru Akami yang ingin agar Kai tidak marah.

Agak capek, nih... Sudah dulu, ya... Nanti pasti kulanjutkan, bye-bye!
Mizuki Minori

2 komentar: