Matahari pagi yang bersinar, langit biru muda yang indah, burung-burung yang riang berkicau... semuanya karena kehebatan Tuhan. Dan berkat-Nya aku ditunjukkan seseorang yang tanpa kebetulan menjadi tetanggaku dan sekelas denganku. Apa yang kuinginkan terkabul, kecuali satu... yaitu... keberanianku untuk menyapanya!!! Huweee!! Kalau begini gimana caranya mau akrab? Sementara dia populer banget, aku yang murid baru mana kenal orang-orang sekitar!? Makanya, di sekolah aku memunculkan sifat YANDERE-ku yang kalau di rumah berubah menjadi TSUNDERE. Jadi intinya, kenyataan sudah kubalik... nggak mungkin bisa menyapa orang. Lagipula aku adalah anak super pendiam yang masih diasingkan oleh anak-anak lain, setiap pagi aku ada di sekolah paling pagi, aku jadi terus menerus sendirian. Tapi, karena tidak menyolok, tidak ada yang mengenalku, termasuk guru dan kepala sekolah, dasar gila! Masa murid sendiri yang namanya gampang, "Inori Yuzuri", hiiih!!!!! Haah... apa aku segitu tidak menyoloknya?
Bulan Desember tanggal 19... Ah... sebentar lagi natal, ya... walaupun sudah 3 bulan lewat, aku tetap sendiri, ya... Tapi di tengah kemurunganku ada seseorang yang memanggilku, "Inori!". Aku sangat kaget hingga menoleh, dan aku melihat seorang laki-laki yang memanggil nama kecilku. "Eh... Moriyama-kun...", pikirku dengan muka yang memerah seperti tomat. "Ya, kamu! Ayo, jangan menunduk, lihat mata orang yang ngajak bicara!", kata laki-laki itu sambil menyentuh daguku dan menaikkan wajahku. Mukaku semakin memerah melihatnya. "A, anu... ada a, apa...?", tanyaku dengan gagap dan malu-malu. "Hm... ikut aku, deh!", katanya sambil menggandeng tanganku dan menngajakku lari. "Namaku Tsuhiro Moriyama, kalau kamu kenal aku kamu juga pasti kenal kakakku, Tsuhiro Tatsuyo," katanya sambil tersenyum kepadaku. Padahal aku suka pada Tatsuyo, tapi kenapa aku malah berdebar hingga mau meledak di depan Moriyama-kun?? Apakah hatiku berbeda dengan pikiranku? Atau mungkin karena mereka memang kembar jadi mirip? Aaaakh!! Hatiku jadi kacau balau! Lupakan saja, deh! Oh, ya... kalau kupikir-pikir lagi, Moriyama-kun nggak populer dan sama sekali tak ada yang pernah dengar namanya, jadi dia juga tak pernah digosipkan... Apakah benar... Moriyama-kun juga nggak menyolok? Padahal adik kembarnya Tatsuya-kun. "Moriyama-kun... punya berapa teman?", tanyaku penasaran. "Yah... gimana, ya... mungkin belum ada?", jawabnya dengan muka merah. Aku tertawa kecil karena merasa aneh. "Apakah kakakmu mau menemani Moriyama-kun?", tanyaku lagi. "Tidak, akhir-akhir ini kakak berkata kalau dia sedang menyukai seseorang yang katanya tidak akan disukai orang lain...", jawabnya lagi sambil menghentikan langkahnya di depan sebuah pintu yang cukup tinggi. "Eh, memangnya Moriyama-kun nggak suka seseorang?", tanyaku untuk ketiga kalinya. "Ya iya, dong! Menginjak masa remaja rasa suka pasti muncul!", jawabnya dengan malu-malu. "Eh... tapi ngomong-ngomong... pintu apa ini?", tanyaku lagi. "Pintu ini... ng, masuk saja, deh!", jawabnya sambil terus menggandeng tanganku. "Eh, tapi kalau ada bahaya gimana?", tanyaku dengan ragu dan takut. "Tenang saja, kita kan bersama!", jawabnya sambil tersenyum menyemangati. "Baiklah!", jawabku dengan senyum tulus, Moriyama-kun memang sangat baik... "Yak, begitu turun kita lompat!", kata Moriyama-kun sambil mulai membuka pintu. Aku penasaran pada kata "turun" dan "lompat". Sehingga aku bertanya, "A, apa maksudmu?!". "Karena hanya aku yang tahu isi pintu ini, jadi ikutilah perintahku!", jawabnya sambil menarik tanganku dan benar benar jatuh. Aku semakin ketakutan, tapi Moriyama-kun mengerti dan dia memelukku. "Moriyama-kun...", pikirku saat itu, jantungku tak berhenti berdebar. Hingga akhirnya kami sampai di bawah. Aku yang tadi ketakutan menjadi lega sekali, tapi anehnya, bajuku langsung berganti, tapi Moriyama-kun tidak. "A, ada apa ini!!?", seruku sambil melihat sekeliling. "Ini adalah dunia virtual 2 dimensi, Guilty Crown, kita akan bisa kembali kalau sudah mendapatkan mahkota kerajaan Guilty. Sebelum mendapatkannya, kita tak bisa kembali. Dan sekali kamu mati di sini asalkan masih punya skill dan level yang melebihi 5, maka kamu akan bangkit, tapi level atau skill-mu akan berkurang. Tapi jika tidak ada sisa skill dan levelmu belum mencapai 5 saat mati, maka kamu takkan bisa kembali ke dunia nyata. Kalau aku, sih, beda! Kan aku yang pegang kuncinya!", jawab Moriyama-kun panjang lebar. "A, apaan!? Kamu nggak bilang kalau jadi kayak gini!!", seruku dalam hati, aku tak ingin image-ku rusak di depan orang, terutama cowok. "Yak, GAME START!!". "Eh, apa ini? Pilih tempat pertama?", tanyaku karena ada layar besar di depan kami. "Yah... maksudnya kamu disuruh memilih tempat untuk dihampiri pertama kali. Bisa beli tapi uang kosong...", kata Moriyama-kun. Aku semakin kecewa. Game apaan, niiiih!!! Game sial sepanjang sejarah!!!
Bersambung <><><><><>
Siiplah! Tunggu, ya, lanjutannya!

seru! aku mau tau lanjutanny!
BalasHapusOk, baca terus, ya
BalasHapus