Sudah 3 hari setelah hari sial itu, dan yang kupahami sekarang adalah... waktu benar-benar terulangi. Seharusnya aku bisa bebas dari kerja model, tapi gara-gara Aru-kun datang, segalanya jadi kacau balau, deh! Aru-kun betul-betul bawa sial. Hari ini ada pekerjaan menjadi aktris pengganti. Huh... sudah gitu mana lawan mainnya Aru-kun lagi. Apalagi dramanya rate Ecchi!! Aku nggak mau!! "Momo-chan, dramanya sudah mau dimulai, hari ini gladi resik, lho!", panggil Aru-kun sambil memukulkan naskah skenario yang digulung ke kepalaku. Jelas saja aku mengamuk dan menendang Aru-kun, nggak salah, kan?
Huh, gladi resik hari ini harus dianggap seperti saat drama betulan, habis di-shoot kamera, sih. Saat peran di mana aku menyatakan cinta pada Aru-kun adalah penyesalan seumur hidupku. "Aku suka padamu Hiro-kun.... sudah lama aku menyukaimu, tapi aku malu mengungkapkannya...", kataku, tapi ini dalam drama, ini skenario. Namaku adalah Motosuki Aruha, Aru-kun adalah Hiro Kagawa. "Aruha-san, sebenarnya aku juga... sejak lama suka padamu, tapi kukira kamu sudah mengerti", balas Hiro-kun alias Aru-kun. Di skenario berikutnya, aku menangis senang karena diterima, aku pakai obat air mata, deh... "Maukah kamu menjadi istriku Aruha-san?", tanya Hiro-kun. Aku terkejut, itu tak ada di skenario! Aru-kun hanya mengarang-ngarang cerita itu sendiri! Gi, gimana, nih! Produser juga nggak ada! Akhirnya aku kebingungan dan terus diam. Sementara Aru-kun mendekatiku sambil menyentuh pipiku. "Heii, Aru-kun! Mana ada skenario beginian hah!!?", bisikku dengan kesal. "Sst... kamu harus menghayati tiap peran dalam drama, kalau begini kamu tak perlu pakai obat air mata, kan!", balas Aru-kun dengan berbisik juga. Tapi aku tetap tak mau, aku menolak dengan keras dan membantah berkali-kali. Sampai akhirnya Aru-kun memelukku dengan erat sampai aku tak bisa bergerak. "Aruha-san, kalau kamu menyukaiku setulus hati, mengapa kamu tak mau ada di dekatku?", tanya Aru-kun dengan penuh penghayatan. "Ka, karena Hiro-kun terlalu cepat berkata ingin menikah, aku jadi gugup, kan!", balasku sambil menjauh sedikit-sedikit dari Aru-kun. Aru-kun kembali mendekatiku dengan cepat dan menggendongku ke kamar untuk Shoot drama. "Di sini kita hanya berduaan, kan... jangan malu, ya...", katanya lagi sambil membaringkan aku di tempat tidur. "Aru-kun, ini bagian akhir cerita!", bisikku lagi. "Lewatkan saja bagian membosankan itu oke... bagian klimaks adalah adegan yang paling seru.", balasnya sambil menyentuh pipiku lagi. "Aruha-san, di mana kamu membeli baju gothic yang manis ini? Sepertinya aku terpesona melihatnya...", kata Hiro-kun sambil memegang ujung rokku. "Ah, baju ini.... rahasia, dong! Hiro-kun nggak mungkin membeli ini, kan. Hahaha!", balasku sesuai skenario. "Ah, kamu benar, ya Aruha-san! Hahaha!! Aku kan bukan lolicon!", balas Hiro-kun sambil tertawa. Dalam hatiku aku berpikir 'Bukan Lolicon Apanya?!' saking kesalnya diriku padanya. "Aruha-san, boleh aku menciummu?", tanya Hiro-kun sambil menaikkan tubuhnya di atasku. Spontan aku berteriak, "Hyaaaaaaaa!!!!". Semuanya langsung melongo, mereka yang tadi menikmati drama ini (dasar mesum!) menjadi tercengang karena aku berteriak, termasuk Aru-kun. "Huh, sudah! Aku berhenti dari drama ini! Jadi, hush hush! Menyingkirlah Aru-kun mesum!", kataku dengan kesal sekali. "Tak bisa begitu, dong! Dramanya harus selesai sekarang! Kamu mau diganti siapa? Kamu mau aku sama cewek lain?", tanya Aru-kun sambil mencubit pipiku. "Eh, eeh! Biar saja, kok! Aku nggak peduli!", seruku sambil memukul tangan Aru-kun yang mencubitku. "Kalau kamu berhenti aku juga berhenti! Kenapa kamu nggak mengerti perasaanku?!", balas Aru-kun dengan muka agak kesal. Tiba-tiba jantungku berdebar dengan kencang, "A... apa yang harus kupahami?", tanyaku dengan muka sok cuek. "Aku... sebenarnya sudah menyukaimu sejak pertama bertemu! Tapi kenapa kamu masih begini juga!", seru Aru-kun. Mukaku menjadi merah padam dan aku menjadi gemetaran. Aru-kun menutup mataku dengan tangannya lalu menciumku dengan paksa. "Aru-kun... Aru-kun... ternyata... punya sifat liar begini, ya... baiklah...", pikirku sambil menikmati ciuman dari Aru-kun. Setelah beberapa menit diam Aru-kun melepaskan tangannya dan mendekati telingaku. "Momo-chan, maukah kamu menjadi pacarku?", bisiknya dengan pelan sekali. Aku hanya diam sambil memiringkan kepala ke arah yang berlawana dengan Aru-kun. Aru-kun melurusan kepalaku dan menggigit leherku dengan keras. "Uwaaaaaaaa!!!", jeritku karena kesakitan, dan spontan aku menampar Aru-kun. Gi, gimana, nih...
Bersambung...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar