"Pokoknya kamu pasti kulindungi! Jadi jangan khawatir!", kata Moriyama-kun. Aku jadi semakin berdebar-debar. "A, anu... Moriyama-kun...", kataku dengan pelan karena malu. "Ya?", "Ah, nggak ada apa-apa, kok! Aku cuma nggak sengaja manggil nama Moriyama-kun saja!", balasku. "Baiklah, kita pergi ke tempat ini, yuk! Ini buat pemula, lho!", kata Moriyama-kun sambil menunjuk salah satu tempat di peta. Nama tempat itu adalah Vláda Požáru. "Apa artinya?", tanyaku. "Kerajaan Api!", jawabnya sambil senyum-senyum. "Eeeeh!!? Kenapa nggak yang lain aja!?", seruku panik. "Soalnya ini buat pemula level 0-3, sih!", balas Moriyama-kun santai. Apa boleh buat, aku terpaksa menurut... payah banget, sih! Tiba-tiba ruangan sekitar berubah menjadi tempat seperti istana api. "Inori, awas!", kata Moriyama-kun sambil menggendongku dengan cepat lalu berlari dengan cepat. "Eh, ada apa?", tanyaku. "Lihat saja sendiri! Ada yang akan menyerang kita!", balas Moriyama-kun sambil menurunkanku. "Eh, i...itu? Cara menyerangnya gimana?", tanyaku lagi. "Saat ini kamu belum punya senjata, tapi bisa menggunakan sihir. Pikirkan saja sihir yang kamu mau!", kata Moriyama-kun sambil menggandengku. "Oh, baiklah! Aku sudah dapat jurusnya!", seruku karena aku sudah mendapat ide jurus. "Inori, di belakang!", seru Moriyama-kun lagi. Aku segera menoleh dan menyerang, "Heilagt vatn!", seruku. Muncullah air yang menyembur, dan 5 musuh telah mati. Di depanku ada tulisan, "Level Up! Skill Up!"
Rasanya senang setengah mati, Moriyama-kun juga ikut senang. "Baguslah Inori...", katanya sambil memelukku. "Aaa... Mo, moriyama-kun...", bisikku karena malu. Seketika ruangan kembali menjadi seperti awal. "Sekarang uang kita 20.000, kita bisa beli barang, deh!", kata Moriyama-kun. "Setelah ini kita ke mana? Ke tempat berikutnya?", tanyaku sambil berjalan mendekati Moriyama-kun. "Tetap di Vláda Požáru, kan levelmu belum 3," jawab Moriyama-kun. Aku sebal... "Ngg... kalau sudah level 3 ke mana?", tanyaku lagi. "Tak perlu buru-buru, kita habiskan natal di sini, tak mungkin selesai secepat itu!", balas Moriyama-kun sambil tertawa geli. "Eh... aku kan nanya kalau sudah ngapain!? Yang kutanya, kan itu!", balasku kesal. "Kalau sudah ya... ke tempat berikutnya, dong!", balas Moriyama-kun sambil mencubit pipiku. "Aaaww!! Sakit, nih! Ngapain, sih!", seruku karena kesakitan. "Habis pipimu imut, sih...", balas Moriyama-kun sambil menggandengku supaya jalan lebih cepat. Mukaku kembali memerah, perkataan Moriyama-kun sangat manis bagiku. "Moriyama-kun... punya orang tua?", tanyaku karena Moriyama-kun tidak cemas soal apapun di sini. "Tidak, tak ada satupun orang yang peduli padaku, kecuali kakak. Kadang-kadang kakak juga tak mau memperhatikanku. Jadinya, aku membuat dunia virtual ini untuk menghilangkan rasa kesepianku...", jawab Moriyama-kun. Aku mengangguk, "Aku juga tidak punya orang tua, kakak atau adik. Jadi setiap hari aku selalu sendiri. Tapi sejak Moriyama-kun menyapaku, aku jadi tak sendirian lagi...", kataku sambil tersenyum. Moriyama-kun ikut tersenyum dan membalas, "Aku juga... aku tahu aku nggak sendiri, aku masih punya Inori. Makanya, aku selalu melihatmu mulai dari awal kamu datang. Sejak kamu datang, yang terbayang di pikiranku cuma kamu... kamu satu-satunya gadis yang kusukai...". Aku kembali berdebar dan mukaku kembali memerah. Baru kali ini aku mendengar ada yang suka padaku... "Moriyama-kun... terima kasih... sudah menyukaiku...", balasku sambil tersenyum ke arah Moriyama-kun. Aku sendiri bingung, mengapa rasanya aku senang sekali seperti saat keluargaku masih lengkap lima orang. "A...apa itu artinya....", pikir Moriyama-kun. "Sepertinya sejak kemarin.... aku juga jadi menyukai Moriyama-kun...", ucapku pelan. "Ah, be...begitu, ya... kalau begitu...", balas Moriyama-kun sambil menyentuh daguku. Muka Moriyama-kun semakin mendekati mukaku, mukaku kembali memerah. "Tutup matamu...", kata Moriyama-kun sambil makin mendekat. Angin yang dihembuskan saat Moriyama-kun bicara terkena bibirku. Aku menurut menutup mata saja. Dan tinggal 1 senti lagi bibir kami bersentuhan ada orang yang datang, karena kaget kami terjungkir ke bawah jurang. "Uwaa!!", seru Moriyama-kun sambil memelukku karena takut aku terjatuh duluan. Moriyama-kun melindungi kepalaku agar kepalaku tidak terluka. Bagaimana kalau Moriyama-kun yang terluka?!
Bersambung....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar