Jumat, 23 November 2012

The Girl Who Cursed by the Curch


  Akhirnya aku mulai kesal melihat kelakuannya yang sangat seenaknya. Aku segera mendekati dan menampar tangannya yang sedang membolak-balik buku manteraku yang lumayan kecil. Bukunya melayang dan segera kutangkap, lalu perempuan itu terjatuh. Karena senang melihatnya begitu aku tersenyum sinis dan menyindirnya, "Idih, lemah banget, sih! Padahal aku hanya memukul pelan. Artinya kamu memang payah! Sudahlah, orang payah cepat katakan permohonanmu yang tidak keren itu! Dasar lambat!". Gadis itu mulai kesal dan berlinangan air mata. "Buatlah aku menjadi orang terkuat di alam semesta!", serunya sambil berdiri. "Baiklah, tapi jangan lupa akan tumbalnya. Semakin susah permohonan semakin berat tumbal yang harus kau bawa!", jawabku sambil membelakangi dia. Dia takkan kuat melebihi tuanku dan aku. Aku hanya memberinya sebuah kotak tua milikku yang diberikan oleh orang-orang lalu yang sudah memberikan tumbal mereka. Aku berkata pada gadis itu, "Kamu, katakanlah satu permohonanmu di kotak ini pada jam 12 malam, setelah itu ucapkan mantera yang kuberikan ini. Dengan begitu permohonanmu akan terkabul. "Baiklah, aku mengerti sekarang. Terima kasih!", balasnya sambil merebut kotak itu dan berjalan keluar. "Tekad yang kuat dan keinginan yang mendalam adalah kunci dari keberhasilan, iya kan...".
   Jam 12 malampun akhirnya tiba. Gadis itu benar-benar melakukan apa yang kuperintahkan. "Fuh, dasar payah. Aku sengaja tak bilang letaknya ada di mana karena kupikir kau tahu. Bego!", pikirku sambil terus memandang ke arah bola kaca besar yang merekam semua yang permohonannya dikabulkan. "Hu-uh, ya sudahlah! Paling-paling manteranya kehilangan setengah dari satu khasiatnya. Biar, deh... apa urusanku? Tonton saja...", lanjutku sambil mengambil satu buku pengetahuan dari rak buku rahasia milik gereja ini. Hanya pengurus saja yang tahu dan boleh membaca buku-buku di rak ini. "Yap, benar sekali, efeknya akan hilang setengah. Jadi...". Tok tok tok! "Pe... permisi... boleh  aku masuk ke dalam?", "Ya, tentu saja, silakan masuk." "Ah, ma... maaf mengganggu di tengah malam begini... so, so... soalnya a, aku... aku ka... kabur.... kabur dari ru...rumah..." jelas gadis itu dengan gagap dan ragu-ragu. "Baiklah! Apa masalahmu?", tanyaku sambil menyatakan seperti menantang. Gadis itu tambah takut, tubuhnya terus menerus gemetar, aku yang melihatnya merasa itu tidak seru.
"A... aku... aku ingin bisa... menjadi kuat dan mengalahkan gadis yang disukai oleh Hiroki Shibusawa! Dia membuat Shibusawa-kun menjadi terluka sebelum aku...", kata gadis itu dengan mantap dan keras. "Yah... aku mengerti. Sebutkan namamu, aku pasti bisa membantumu!", kataku sambil membelai kepala anak itu. "Namaku Murasama Konno, aku suka pada Shibusawa-kun... tapi saat aku ingin menyatakan perasaanku dia sudah tidak ada! Aku tahu, itu pasti perbuatan gadis itu! Harumi Inori!", jawab gadis itu sambil menangis. Aku menghela nafas dan mengambil sabuah amplop dan satu lembar kertas beserta penanya. "Tulislah apa yang kamu inginkan di kertas ini, aku takkan melihatnya! Sesudah menulis, masukkan kertas itu ke dalam amplop ini lalu genggam sampai kamu tidur, kemanapun kamu mau pergi bawalah kertas ini dalam tempat yang kau ketahui sendiri saja!", kataku sambil menyerahkan pena, kertas, dan amplop itu. "Eh? Memang apa yang akan terjadi?", tanya gadis itu sambil menggenggam pena yang kuberikan. "Benda yang kuberikan punya kekuatan magis, jadi kalau ada permohonan, tulis di kertas itu. Dan yang akan dikabulkan hanya satu permohonan," jelasku sambil tersenyum. Gadis itu ikut tersenyum, "Terima kasih banyak... aku akan selalu mengingat kebaikanmu...", katanya sambil memelukku. Aku yang larut dalam kehangatan pelukannya tak mungkin bisa mengambil harga dirinya. Ini adalah pertama kalinya seumur hidupku untuk merasakan kehangatan pelukan seseorang. "Mulai sekarang, bagiku kau adalah pengurus gereja ini juga... karena di kitab suci pasal 9999 ayat 7000 berkata, "Siapa yang sudah melembutkan hati para penjaga, maka ia adalah pengurus gereja ini. Dan mulai sekarang ia terkutuk dan takkan lolos dari kutukan itu.". Aku menyuruhnya untuk segera menuliskan permohonannya dan membaca mantera yang sudah ada. Aku akan tulus memberimu segalanya... mulai sekarang kita adalah sahabat sejati. "Jangan lupa datang, ya!", seruku pada Murasama sambil memberinya surat yang sudah ditulisnya tadi. "Baiklah, aku nggak akan lupa! Besok aku pasti datang, Ryuko-chan! Sampai besok!", balasnya sambil membuka pintu yang paling berat sepanjang sejarah. Setelah Murasama jauh di luar, aku tertawa kecil, "Terima kasih sudah membuatku bahagia, kuambil kelemahanmu untuk selamanya!".
Bersambung....

Gomenne sebentar, mau lanjut cerita lain tak? Bahasanya harus formal sih... -_-

2 komentar: