Jumat, 23 November 2012

The Girl Who Cursed by the Church



      Esok harinya, aku melihat keluar jendela, salju sudah mulai turun. Aku ingin bermain keluar seperti anak-anak lainnya, tapi jika tidak menyentuh gereja ini maka aku akan sesak nafas dan ambruk di tengah jalan. "Murasama... cepatlah datang...", pikirku sambil menyentuh jendela dengan pelan. Aku merasa sedikit kesepian, aku ingin Murasama cepat datang untuk berbicara denganku.
    Berjam-jam aku menunggunya hingga sore hari, tapi Murasama tidak datang juga. Apakah Murasama lupa padaku? Kembali aku menunggunya dan saat kulihat jam sekarang sudah jam 12 malam, sebentar lagi esok hari. Akhirnya aku memutuskan untuk menyerah dan kembali bekerja sendiri di sini. Tapi tiba-tiba pintu terbuka. "Ryu... Ryuko...", katanya sambil menepuk pundakku. "Oh... Murasama...",jawabku sambil menoleh kecil. "Maafkan aku Ryuko! Aku kira jam temunya pukul 12 seperti kemarin...", kata Murasama dengan ragu. "Baiklah... maaf aku sudah memaksamu kemari, kamu boleh pulang, kok," balasku putus asa. "Ti, tidak! Ryuko... kamu lupa kita sudah berteman? Bukannya kemarin kamu yang menyuruhku kemari?!", seru Murasama sambil menahan aku yang ingin keluar dari Galeri tempat temu. "Ya, ya! Aku mengajakmu dan ingin kita berteman! Tapi kamu harus bisa menjaga perasaan orang lain, dong! Apa kamu kira seorang teman bisa selalu bersabar untuk temannya yang tidak tahu diri?! Cukup sudah! Kamu nggak ada artinya di depanku! Kamu bukan siapa-siapa bagiku! Seharusnya kamu juga terkutuk agar tahu rasanya penderitaanku yang seperti ini!! Aku benci kamu!!!", bentakku dengan keras. Gara-gara Murasama hatiku jadi kacau! Aku menyesal sudah mengenal Murasama. "Ryuko... kamu kira aku adalah orang yang sempura yang bisa menjinakkan kamu? Itu mustahil! Tapi walaupun begitu, aku tetap sayang padamu... ternyata, surat yang kamu berikan kemarin tidak majur... apa yang kuinginkan tidak bisa terkabulkan!", kata Murasama dengan nada berat. "Memangnya apa yang kamu tulis di sana?!", seruku lagi dengan nada sombong. "Aku ingin kita menjadi sahabat sejati selamanya!", jawabnya dengan lirih, yang kutahu... hati Murasama juga sakit sepertiku. "Maafkan aku Murasama! Aku bukan sahabat yang sesuai denganmu! Kita berbeda! Sangat berbeda! Aku tak bisa keluar dari tempat ini... tempat ini adalah sumber jiwaku. Kalau aku keluar dari Kyoukai ga Hinan ini aku akan sesak nafas, kemungkinan aku juga akan mati...", kataku sambil mendekati Murasama. Murasama yang melihatku mulai mendekat segera mempercepat langkahnya dan memelukku dengan erat. "Ryuko, aku juga minta maaf... aku sudah tak menepati janjiku dan malah berkata kasar padamu... aku menyesal... tapi satu hal yang tak kusesali... bertemu denganmu...", kata Murasama sambil memelukku. Aku yang berada dalam pelukan Murasama secara tidak sadar meneteskan air mata yang mulai membasahi pipiku. Aku ingin melepas Murasama agar tak membebaninya,  tapi karena keputusankulah Murasama menjadi terluka. "Murasama, aku minta maaf! Sangat minta maaf! Maaf karena aku sudah membuatmu terluka... aku juga menyesal...", kataku dengan pelan sambil menangis. Murasama tersenyum dan mengelus kepalaku, lalu ia berkata kepadaku, "Aku sudah melepaskan dendamku pada gadis itu. Yang kuinginkan sekarang adalah menjadi temanmu... jadi, maukah kamu menjadi temanku, Ryuko?". Aku hanya mengangguk pelan.
  Selanjutnya, yang akan menantiku pasti adalah hal yang indah... asalkan, ada Murasama di sisiku...
Aku pasti baik-baik saja! Jadi tenang saja dan jangan pernah ragu menghadapi masa depan, karena dari sanalah muncul kebaikan yang menantimu...
Bersambung...
Gomen bentar! >_< Aku capek, siih!!

2 komentar: