Sabtu, 17 November 2012

Cacao Pop


           "SMS... ah, nggak jadi, deh! Ada nomor e-mailnya, kirim e-mail saja, deh... biar nggak boros pulsa," pikirku lagi sambil membuka kirim e-mail. "Kirim ke 097-XOX-XX... yup!" lanjutku. Piip...piiiip! "Wah, dibalas!", kataku sambil buru-buru membuka ponselku. "Apa ini... eh...", mataku langsung terbelalak karena melihatnya, e-mail itu sangat mengejutkanku dan membuatku sedikit gemetar... apakah e-mail yang kukirim tadi salah? Aku segera mematikan ponselku dan bergegas keluar kamar. Saat aku merasa panik, aku selalu melangkah ke dapur atau kamar orangtuaku. Tapi yang kulihat di depanku bukanlah rumahku, melainkan ini adalah... "Siapa kau? Beraninya kau masuk ke sini!", seru seseorang yang entah siapa secara tiba-tiba. Suara yang sangat berat itu mendekatiku dan mendorongku hingga jatuh entah ke mana. "Apakah ini mimpi?", pikirku sambil mulai memejamkan mata secara perlahan-lahan. Dan bebarapa saat kemudian aku membuka mata, yang berada di depanku adalah, saat-saat festival musim panas berlangsung. Aku mencoba mencubit pipiku sendiri dan terasa sangat sakit. Aku melihat aku sudah memakai yukata yang kupakai di festival musim panas yang lalu. Aku bingung sehingga menoleh ke belakang, kejadian seperti festival musim panas itu, kenangan yang manis sekaligus pahit... rasa ini memang seperti coklat... aku memutuskan, hari ini aku ingin penyesalan tidak terulang lagi. Segera aku mengalihkan pandanganku dan terus berjalan, tanpa kusadari air mataku mulai mengalir. Aku menghentikan langkahku dan terus berdiam diri. "Apakah dengan begini aku akan tidak menyesal lagi?", bisikku pada diriku sendiri <?>. "Apakah aku bebas dari penyesalan dengan cara seperti ini?", tangisku sambil menatap ke arah matahari yang mulai terbenam. Aku terus menangis sambil menutupi wajahku, aku tak tahu apa yang harus kulakukan. "Ada apa? Kok menangis?", tanya seseorang yang kelihatannya laki-laki dari suaranya. Aku segera menoleh dan melihat kalau orang itu adalah perempuan. "Ka, kakak sepupu Yume?", kataku sambil mengusap air mataku yang sudah berhenti mengalir. "Yup, jarang-jarang kita bisa bertemu begini, ya... aku senang bisa bertemu adik sepupuku tersayang!", kata kak Yume sambil mengelus kepalaku.  "Kak Yume, aku mau pulang...", kataku sambil melanjutkan langkahku karena merasa putus asa. Kak Yume pasti bingung, jadi kuputuskan untuk tidak menoleh kembali ke arahnya. Tapi aku yakin Kak Yume akan menginap malam ini di rumahku. Entah kenapa aku merasa sangat sedih dan sakit hati.
       Di rumah kediamanku yang tenang, sunyi, dan sepi, aku hanya tinggal sendiri. Aku mengerti, waktu sekarang terulangi menjadi waktu itu. Aku hanya bisa merenung, tak ada yang bisa kulakukan. Ponsel pun tak ada lagi padaku. Aku ingin membelinya dan aku memasukkan tanganku ke kantung bajuku yang bukan yukata. "Eh?!", seruku yang telah mendapati suatu benda yang seperti ponselku di kantung bajuku. Aku segera mengambilnya, dan ternyata itu adalah ponselku! "Me, mengapa bisa??", pikirku sambil membuka ponselku. "E-mail kedua orang itu juga ada...", pikirku lagi, wajahku semakin memerah. "A, apa yang sebenarnya terjadi?", pikirku lagi sambil menggenggam ponsel itu erat-erat. "Momo-chan!" seru seseorang sambil memencet bel rumahku. Aku berpikir itu adalah Kak Yume, aku tidak ingin dia kemari, tapi... Akhirnya aku membuka pintu rumahku dan mempersilahkannya masuk, tapi ternyata bukan Kak Yume melainkan Aru-kun, aku pura-pura tak tahu dan bertanya, "Maaf, siapa, ya?". Dia hanya tertawa dan menepuk kepalaku, lalu Aru-kun menjawab, "Namaku Aruto, panggil saja Aru-kun!". "A...Aruto-san saja, deh...", balasku sambil memalingkan pandangan karena malu melihat senyumnya yang cemerlang. "Nggak boleh! Aru-kun!", balasnya sambil menyentuh kedua pipiku dan mengarahkan wajahku ke atas. Mukaku langsung memerah padam, "Uwa! Uwaaaaaaaa!!!", seruku dalam hati karena panik, melihat muka Aru-kun dari dekat memang membuatku berdebar. Aru-kun membisikkan padaku secara tiba-tiba disaat aku panik, karena kaget Aru-kun mendekat ke telingaku aku langsung menoleh secara spontan. Tanpa sengaja, bibir kamu jadi bersentuhan secara tidak disengaja sama sekali!!! Mukaku memerah secara langsung, tapi Aru-kun malah diam saja dan tak terlihat panik, aku merasa heran akan hal itu. "Sadarlah Aru-kuuuuuuuun!!!!!", tangisku dalam hati, rasanya jadi lemas karena melihat Aru-kun yang tenang-tenang saja. "Apa yang kalian lakukan di depan... eh? Mo, Momo-chan?", kata seseorang lagi yang muncul mendadak di depan rumahku yang sunyi ini. Alangkah kagetnya begitu tahu bahwa orang itu adalah Kak Yume. Aku segera memukul Aru-kun, tapi ternyata Aru-kun pingsan dengan muka yang sangat merah dari tadi! Menyebalkaan!!! Kubunuh kau Aru-kun! "Ka, kak Yume! Ini bukan seperti yang kau lihat! Ka, ka... kami... kami tidak...", kataku dengan gugup. "Lalu siapa cowok rendah itu? Kenapa dia berani menyentuhmu, hah?!", seru Kak Yume sambil menarik kerah baju Aru-kun bagian belakang lalu hendak melemparnya. Aku langsung menghentikannya dan berseru, "Hentikan, kak! Dia adalah kakak dari temanku, dia hanya teman kerja dari ayahku dan ingin berbicara sesuatu!". Demi si sial itu, aku terpaksa melakukannya! Akhirnya Kak Yume percaya dan menyeretnya masuk ke kamarku untuk istirahat sebentar, awalnya aku tak mau Aru-kun ditidurkan di kasurku, aku tak mau bantal dan selimutku jadi korban iler orang ini, tapi nanti kami ketahuan kalau bukan rekan kerja.... BAHAYA! Apa yang akan terjadi dalam keseharianku mulai dari ciuman pertama itu, ya... [HIKS]
#Bersambung#

Yup, cerita ini lanjutan yang itu, jadi gambarnya sama, mohon maklum, ya!
Minori

2 komentar: