Minggu, 28 Oktober 2012

Cacao Pop

Add caption
             Setelah pulang dari membeli ponsel, aku melihat kalender dan... seminggu lagi hari ke-4 ada festival musim panas, saat aku memulai kenangan cinta pertama. "Hm...kirim pesan ke Aru-kun, ah!", pikirku, aku berencana mengajak Aru-kun pergi bersama. "Ngg... yang kutahu festival kali ini banyak jajanan manis, dan banyak pasangan yang datang. Aku harus cepat telepon, deh...", pikirku lagi. Sambil membolak-balik majalah, aku menelepon Aru-kun.
Percakapan: Aku: Halo, dengan Aru-kun?
                    Aruto: Ah, iya... ada apa Momo-chan?
                    Aku: Ng... sebelumnya, aku ingin mengucapkan terima kasih sudah memberiku ponsel ini... aku senang...
                    Aruto: Sejak kapan? Tadi kamu beli ponsel, ya? Gimana caranya tahu nomorku?
                    Aku: Lho? Aru-kun... yang memberi aku ponsel, ka...
tuut tuut tuut... "Sial! Sambungannya putus!", gerutuku. "Lho? Kisaragi Minato? Siapa?", tanyaku sambil menatapi ponselku. "Coba saja kukirimi SMS...", pikirku sambil menekan tombol 'OK'.
Masih seperempat, soalnya capek... maaf, ya...
(TBCNTND)

Sabtu, 27 Oktober 2012

The Darkness Witch World

          Kai segera membalikkan badannya ke arah Akami dan berkata dengan pelan, "Aku nggak marah, kok!". Akami merasa sedikit sedih tapi juga merasa senang. "Begitu, ya? Baguslah!", kata Akami sambil tersenyum sedikit lega. "Ah, disini bosan juga, ya~... mau keluar nggak? Hei!", tanya Kai, tapi Akami sudah menghilang entah ke mana. "Lho? A...Akami?", tanya Kai lagi. "Padahal tadi dia disini... pintu juga hanya kubuka sedikit... dia kemana?", pikir Kai yang berusaha mengingat. Kai memutuskan pergi keluar rumah untuk mencari Akami, tapi tiba-tiba ada banyak permen dan kue jatuh dari langit, membuat Kai menjadi sangat kaget. "U, uwa! Dari mana asal benda mengerikan ini, sih?!", tanya Kai yang masih menghindari segala yang jatuh dari langit. Mendadak terdengarlah suara seorang gadis yang tidak lembut dan bersemangat, "Wah... maaf, ya! Aku nggak sengaja menjatuhkannya!". Kai merasa kesal, dia yang kerepotan hanya diberi kata "maaf", Kai segera menegur gadis itu, "Woi! Nggak sopan banget, sih! Kalau salah seperti ini nggak bisa cuma diberi kata maaf! Kamu harus membayar apa yang sudah kamu perbuat!". Gadis itu turun dari benda melayang yang didudukinya, yaitu sapu terbang. "Ah... apa yang harus kubayar?", tanya gadis itu. "Bantu aku mencari gadis kecil bernama 'Akami Hiruka'! Cari sampai ketemu! Tidak peduli sudah pagi atau malam! Yang penting... CARI!!!!", seru Kai yang masih marah besar. "Baik! Aku mengertiii!", balas gadis itu yang sebenarnya ketakutan. Kai merasa sedikit heran, Kaipun memanggil kembali gadis itu, "Tunggu! Apa kamu tahu ciri-ciri Akami Hiruka?". "Tentu saja! Kami satu akademi, lho...", jawab gadis itu dengan bangganya. "Idih!", pikir Kai. "Hiruka... hoi, Hiruka!", seru gadis itu sambil menoleh ke segala arah. "Lho? Ini, kan... bulatan yang ada di baju Hiruka...", pikir gadis itu sambil memungut bola kaca yang disebutnya bulatan. Gadis itu segera berlari ke arah Kai, tapi karena Kai juga mencari, maka gadis penyihir itu kehilangan jejak Kai. "Eh? Aku dimana, ya?", tanya gadis itu pada dirinya sendiri. "Jangan-jangan aku... te, ter... tersesat...", kata gadis itu yang mulai merasa panik. Dia sangat bingung harus bagaimana.
        Sementara itu, Kai yang masih mencari Hiruka menemukan bulu sayap seorang iblis. "Eh? Ini milik Akami, kan? Kenapa bisa lepas?", pikir Kai yang masih memegang bulu itu. "A, Akami! Kamu di mana?", tanya Kai sambil berteriak. Tiba-tiba ada seorang gadis kecil yang jatuh, dan ternyata itulah Akami yang kehilangan dua benda. Kai melihatnya dan menangkapnya. "Kenapa bisa...?", pikir Kai setelah menangkap Akami. "Kai?", panggil Akami dengan suara yang sangat pelan. "Akami??".
to be continued

Cacao Pop

     Sesudah dua minggu bekerja, akhirnya muncul majalah khusus bernama Momoko Maiko ~Cacao Pop~, majalah yang penuh denganku yang memodelkan Cacao Pop. Senang, sih, tapi malu juga, ya... Hng, oh, ya! Sebentar lagi akan datang libur musim panas, aku juga pasti libur kerja! Yay! Aku harus segera bertanya pada Aru-kun! Aku ingin dia jalan-jalan denganku... tapi tunggu! Aku meyakini hal ini dengan sangat! Aru-kun... bukan.... cinta pertamaku! Aku yakin sekali! Tapi,... kalau dilihat mereka benar-benar mirip... aku yakin akan hal itu juga... kalau harus memilih... maka... "Momo-chan!!!" "Aru-kun???!". "Mulai minggu depan, jadwal kita akan semakin padat lho!", "A, apa!? Minggu depan kan mulai liburan musim panas! Dasar sialan!", seruku karena marah pada direktur menyebalkan yang suka memadatkan jadwal. "Tenanglah Momo-chan, kita kerja bersama, kok!", kata Aru-kun sambil memelukku dari belakang untuk menenangkanku. Mukaku langsung merah padam, aku merasa malu sekali dan akhirnya berteriak, "Aku lebih nggak tenang lagi tahu!!!!!", sambil menghantam kepalaku dengan dagu Aru-kun. "Auuu!", seru Aru-kun sambil menangis saking sakitnya. "Rasakan! Dasar mata keranjang!", kataku sambil berjalan keluar. "Tunggu, Momo-chan!", seru Aru-kun, tapi aku pura-pura tidak dengar, aku terus berjalan ke arah kamar mandi dan mengerol rambutku. "Aru-kun bodoh! Dasar mata keranjang! Cih!", pikirku sambil meneruskan mengerol rambut.
      Setelah selesai mengerol rambut, aku datang ke kameramen yang biasa memotretku, lalu aku berkata, "Pak kameramen, kenapa jadwalnya dipadatkan, sih? Aku kan mau liburan!". Kameramen hanya diam dan meneruskan mengedit gambar di komputer milik direktur. "Woi! Dengarkan aku, dong!", seruku yang kesal karena tidak diperhatikan. Kameramen itu hanya membalas, "Direktur...". Aku masih sangat kesal, terasa ingin memukulnya, tapi aku menenangkan diri dan pergi ke ruangan Pak direktur. "Pak!", seruku sdengan nada kasar. "Siapa, ya? Oh, Momo-chan, ya... Ada apa?", tanya direktur. "Aku... pro-tes! Kenapa musim panas jadwal dipadatkan dan tidak diliburkan??! Kenapa!!", seruku sambil meneriakannya di telinga direktur. "Hng, agar membedakan agency ini dengan agency lain mungkin... agency lain kebanyakan libur di musin panas, saat musim dingin, mereka membuat foto palsu edisi musim panas. Aku ingin agency ini jujur dan benar-benar terkenal dengan cara halal. Makanya, aku meliburkannya saat musim gugur, cuma setengah bulan, sih...", jawab direktur. "Oh...", kataku dengan tanpa ekspresi maupun nada. Aku paham sekarang, kenapa agency ini tidak mau libur... agency yang tidak populer ini... berusaha keras, mencapai apa yang dapat mereka capai sampai maksimal. "Terima kasih direktur! Aku ingin menjadi lebih baik lagi!", kataku sambil tersenyum tulus. Lalu aku berlari menuju toilet lagi dan memakai bando yang dibelikan direktur untukku. Setelah itu aku langsung berlari ke arah kamar ganti Aru-kun dan mengetuk pintu. "Aru-kun, mulai hari ini aku akan serius bekerja! Jadi, tolong bantu aku, ya!", kataku di depan pintu lalu berjalan pergi untuk pulang.
       Di rumah, aku menjhit beberapa baju lolita yang cocok dipakai untuk pemotretan dan baju santai untuk musim panas. "Hehe... asyik juga bersantai di rumah seperti ini...", pikirku sambil tertawa-tawa sendiri. Kalau dipikir-pikir, aku nggak pernah santai sambil menjahit seperti ini, rasanya lega... "Ah~ aku mau ponsel! Kalau punya ponsel akan kupamerkan semua ini pada Aru-kun...", keluhku sambil berguling di kasur untuk bersantai sedikit. "Tabunganku berapa, ya??", tanyaku sambil membuka tabunganku. "Ah! 300.000 yen! Hebat! Aku bisa beli, deh!",seruku karena bangga.
       Esoknya, aku pergi sendiri ke toko ponsel untuk anak SD-SMP. Di sana tidak sampai 100.000 yen. "Ada yang bagus nggak, ya?", pikirku yang sebenarnya agak ragu. Saat di dalam, aku melihat isi tokonya, dan banyak ponsel bagus. "Wah, indahnyaa! Jadi binung mau pilih yang mana...", pikirku sambil menolah-noleh ke segala arah. "Selamat datang... Momo-chan?". "Eh?! Aru-kun?" "....ah, ada apa kesini?", tanya Aru-kun. Aku terkejut karena melihat Aru-kun yang menjual ponsel-ponsel imut ini. "Tentu saja beli ponsel, dong!", jawabku. "Oh... ponsel... bukan permen yang hilang, kan? Bagus, deh...", kata Aru-kun sambil membuka sebuah lemari dan melihat isinya. "Di situ ada apa, sih?", tanyaku sambil mendekati Aru-kun. "Ini untukmu, gratis! Dan masih baru, di dalamnya juga ada nomorku," kata Aru-kun sambil memberikan ponsel yang indah dan bertuliskan Momo-chan. "Aru-kun... te... terima..kasih!", kataku sambil tersenyum. "Iya-iya. Sudah, sana!", balas Aru-kun sambil mengelus kepalaku. Aku mengangguk dan berlari keluar sambil menggenggam ponsel itu erat-erat.
Rasanya senang sekali... aku menyukai Aru-kun!
     (T*B*C*N*I*U*)

Jumat, 26 Oktober 2012

Sky and Earth

    "Aku bilang 'BERISIK!!' dasar tuli!", jawab gadis itu. "A... apa?! Tuli? Jangan salahkan aku, dong! Suaramu yang terlalu pelan tahu!", seru Kaori yang mulai panas. "Puh, sesukamu sajalah!", balas gadis itu sambil membuang muka dan berjalan ke arah lain. "Huuh!". Kaori mencoba berdiri dan berjalan, taoi tiba-taba saja Kaori terjatuh, pikiran Kaori menjadi kosong. Dan saat Kaori hampir sampai di bawah, Keluar dua sayap dari punggung Kaori. "Apa ini?", pikir Kaori bingung. "Sayap?! Ke, keren...", lanjut Kaori. "Ini... kok rasanya ada yang basah di bawah, ya?", pikir Kaori lagi. Kaoripun melihat ke bawah. "Sungai susu? Hebat!", seru Kaori antusias. "Ck, berlebihan banget, sih! Seperti nggak tahu sungai susu saja!" "Eh? Ka, kamu lagi!? Ngapain mandi di sungai susu, sih!? Mengganggu pemandangan saja!", balas Kaori pada gadis yang ditemuinya tadi. "Apaan? Jadi maksudmu aku dilarang? Ini teritori malaikat tahu, bukan iblis biru!", kata gadis itu dengan sedikit berteriak. "Enak saja! Aku ini juga malaikat baru tahu!", balas Kaori sambil menjambak rambut gadis itu. "Aduduh! Sakit! Aku kan nggak ngapa-ngapain! Begitu kok bisa jadi malaikat!?", seru gadis itu yang masih kesakitan. "Apaa!!!? Dasar menyabalkan! Kamu kan nggak thu seberapa malang nasibku saat masih hidup! Kamu juga nggak tahu apapun dariku, kan!!!???", balas Kaori yang airmatanya mulai menetes ke sungai itu. "Aku tahu, kok! Namamu Kaori Nezumi, kan... umur 15 tahun kelas 3 SMP. Pernah ditindas karena menyukai seorng teman yang populer, 2 hari yang lalu ditembak oleh pak Hayama Ichiro, ponselmu rusak karena tidak membalas SMS pak Hayama, kamu merasa berdebar-debar saat mengingat Pak Hayama, takut menyukai seseorang lagi. Benar, kan?", kata gadis itu. Kaori syok mendengarnya, "Kenapa? Kenapa kamu bisa mengetahuinya?", tanya Kaori sambil menangis. "Kamu lupa? Atau tak tahu? Aku ini...", kata gadis itu sambil melangkah keluar dari sungai susu. "Malaikat... yang dalam kata lain... asisten Tuhan. Mengerti, kan? Huh, konyol! Kalau kamu benar malaikat seharusnya kamu mengerti, kan...", lanjut gadis itu sambil berjalan melangkahi Kaori. Kaori ambruk dan terus kepikiran kata-kata gadis itu.
bersambung......

Cacao Pop



          Saat sebuah festival berlangsung, saat aku menoleh, aku melihat sosokmu yang memakai yukata, entah kenapa saat itu aku merasa berdebar. Siapakah orang yang kucari itu? Padahal nama saja aku tidak tahu, alamat saja aku tidak tahu, baju mahal atau murah saja aku tak tahu, kaya atau miskin saja aku tak tahu... kenapa aku bisa berdebar hanya dengan sekali lihat saja? Apakah benar ini yang namanya... cinta?
          Namaku adalah Momoko Maiko, siswi kelas 6 SD. Aku baru pertama kali merasa suka pada lelaki, biasanya aku jarang melihat laki-laki secara tak sengaja. Kumohon! Bisa nggak kalian mendukungku? Aku butuh dukungan, niiih... Tapi apa kami sudah terhubung oleh benang merah, ya? Aah... senang juga, sih... tapi dia SMP atau SMA? Buu...seandainya aku tahu, aku pasti sudah menemuinya! Tapi wajahnya, sih masih ingat. "Ah, Maiko!", seru sahabatku, Shizui Miharu yang tiba-tiba memanggilku. "Shi, Shizui? Ada apa??!", balasku. "Majalah barunya sudah terbit lhoo!! Baca bareng, yuk!", jawabnya dengan suara keras. "Waa! Hebat! Ayo cepat buka!", seruku yang masih kehebohan. "Eh, apa nih? 'Mencari model gadis manis yang segar dan cool kelas 5-7 untuk model Cacao Pop'. Waaaah!!! Kayaknya asyik! Coba, yuk, Maiko!", "Ngg... Aku cuma temani kamu saja, ya... aku nggak mungkin bisa menang!". "Aah, nggak percaya diri banget, sih! Nggak seru, kan!", "Ayolah! Aku nggak suka jadi terkenal! Aku lemah sama wartawan! Kalau terjadi skandal, kan repot!", seruku yang sedang berjuang mati-matian untuk menahan masuk majalah. "Iya, deh! Temenin lho! Audisinya besok minggu jam setengah delapan pagi. Oke, deh~", kata sahabatku.
            Akhirnya pada hari H. Tiba-tiba saja aku mendengar percakapan antara direktur Cacao Pop dengan anggotanya. "Ng? Ada apa, ya?" pikirku sambil terus menatapi mereka. " Coba cari anak gadis yang berambut merah muda kemari!" "Baik bos!". "Ekh! Mereka mencari anak gadis berambut merah muda? Kan susah mencarinya...", pikirku lagi. Saat itu aku sedang pikun-pikunnya! Aku lupa kalau warna rambutku merah muda!!! Duh, aku ini benar-benar bodoh! Memalukan! Dan, jadinya kedua tanganku ditngkap, aku diseret ke dirktur Cacao Pop, aku sempat bingung, aku baru menyadari kalau rambutku merah muda begitu sampai di direktur. "Wah, wah... benar-benar manis, ya... Imut! Siapa namamu?", tanya direktur itu. "Mo, momoko Maiko, kelas 6...", jawabku yang sedikit merasa gugup karena merasa akan ditetapkan sebagai.... "Momo-chan yang akan jadi MODEL-nya!!". Tuh, kan... Menyedihkan banget, sih! Aku nggak mau.... Huwaaang! Tapi karena berulang kali dipaksa akhirnya aku terpaksa setuju. "Kali ini pemotretan dengan baju ini, besok yang ini...", kataku pada direktur itu. "Tidak Momo-chan, kamu akan bekerja bersama dengan model cowok 3 kali dan sendiri 2 kali! Jadi hari ini Momo-chan disiapkan 5 baju, besok urusan nanti!", kata direktur sambil menunjukkan jadwal pemotretan padaku. "Model cowok? Siapa?", tanyaku. "Kirika Aruto, anak kelas 3 SMP. Anaknya cakep, baik, imut..." "Idih!", seruku dalam hati karena merasa sedikit jijik. "Selamat pagi! Ah, model barunya ini, ya? Masih kecil, ya...", kata seorang lelaki yang tiba-tiba masuk dan langsung mendekatiku. "APA?!", seruku dengan kesal. "Tapi, imut, ya... kok aku merasa kita pernah bertemu, ya?", kata cowok itu. Tiba-tiba mukaku menjadi merah, jantungku berdebar dengan keras. "I...imut? Aku imut? Tu, tunggu... rasanya aku pernah lihat mukanya, deh...", pikirku sambil menyentuh kedua pipiku. "Kalian  berdua ngapain, sih? Ayo cepat kita mulai!", kata direktur yang sudah menyiapkan kameramen profesional.
          Saat pemotretan berlangsung... "Uwaa... Aku nggak nyangka kalau iklannya sedikit H(if you know what i mean). Adegan percintaan murid SD dan SMP??! Gyaaaa!!! Jangan sampai jadi apa-apa! Oh, iya! berarti orang yang sedang pemotretan denganku ini... Kirika Aruto?", pikirku yang kalang kabut sendiri. "Momo-chan dekatkan mukamu dengan Aru-kun!", seru sang kameramen. "Oh, namamu Momo, ya? Persis nama adikku.". "Eh, ma, masa?", tanyaku. "Sudahlah, saat ini kita harus fokus pada pekerjaan! Dekatkan mukamu!", bisik Aruto yang menyentuh kedua pipiku dengan lembut. Gi, gimana, niih!!? Kyaaa....!!! Tolong aku, dong!
                                                        ~B*R*S*M*B*N*~

The Girl Who Cursed by the Church

             Selamat datang di Kyokai ga Hinan, tempat suci yang keji. Tidak semua orang bisa selamat di sini, semua tergantung kesucian yang ada di dirinya saja. Puh! Lama-lama terasa menggelikan, kan? Namaku Ryuko Haru, sudah 5 tahun aku berada di gereja ini. Akan kujelaskan lagi, gereja ini memungkinkan 2 hal bagi orang yang masuk ke dalamnya, yaitu; memperoleh 'Hidup Kekal' atau 'Mati terkurung di sini'. Sudah 5 tahun beralu, banyak orang yang memperoleh hidup kekal, tapi beda denganku... aku memiliki sebuah rubik kotak yang beraneka warna, itu yang menjadi kunci bagiku agar dapat menguasai gereja ini. Dan berkat rubik itu, aku tidak mendapat kedua kutukan karena masuk ke gereja ini. Gereja ini adalah gereja pengutuk yang memiliki banyak kegunaan, gereja ini juga sangat terkenal karena kegunaannya itu, tetapi gereja ini memakai kekuatan sihir dan roh jahat, gereja ini dibuat untuk mengasingkan Tuhan dan menarik orang-orang agar menari di sana bersama para penyihir yang mendirikan gereja ini dulu. Gereja ini seperti kue yang memiliki aroma mencolok yang mampu menarik apapun kemari, sangat mudah, kan? Semua yang kemari harus membawa imbalan untuk upah bantuan dariku. "Dan, jangan lupa... 'Terima kasih', ya!". Karena bantuan dariku tidak bisa dibayar hanya dengan uang, jadi mereka harus membayar dengan sesuatu yang paling berharga baginya, semakin banyak orang datang, maka semakin banyak pula benda berharga yang kumiliki, dan tentunya setiap mendapat kata terimakasih, setengah dari harga diri mereka akan kuambil. Mengasyikkan bukan? Kalau ada seseorang yang ingin konsultasi sekitar setengah jam, maka harga dirinya akan kuambil 45%, jika satu jam 90%, jika lebih lama lagi... harga diri mereka akan habis, mereka takkan punya harga diri lagi. Ufufufu... menarik sekali! Semuanya kuperbolehkan masuk, itu saja sudah mahal... apalagi jika ia meminta pertolongan yang sulit, maka ia akan kehilangan seluruh harga dirinya dan satu hal yang paling berharga darinya. Ia akan menjadi sangat kekurangan, tetapi meski begitu, kalau sejak awal ia tidak memiliki harga diri, itu artinya akan diambil hal yang tidak begitu berharga darinya. Penjelasanku cukup, kan? katakan Tok Tok Tok... maka akan kujawab, "Silakan masuk!" mudah, kan? Tentu saja! Ayo, kita buktikan...sekarang... "Let's start the operation!".
            Knok knok, "Silakan masuk...", "Pe, permisi...". Hm, lucunya... tentu saja harus kubalas, "Selamat datang? Apa yang anda inginkan?". Dia menatap ke arah jendela, ia melirik seorang perempuan yang cukup manis. "Oh... baiklah! Saya mengerti... agar permohonanmu terkabul, bacalah mantra ini pukul 12 malam di depan cermin..." "Te, terima kasih banyak!". Fuh... mudah sekali, kan? Aku sudah mendapat setengah dari harga dirinya, tinggal tumbal utama...
Bersambung...

Kamis, 25 Oktober 2012

Sky and Earth

 Tiba-tiba, dari kamar Kaori terdengar bunyi-bunyi aneh yang seperti dobrakan, Kaori segera keluar kamar dan melihat ke arah atap, ternyata... di tengah bulan purnama yang utuh itu, terlihat sosok seorang gadis berambut putih yang membawa dua buah pedang yang lumayan kecil di kedua tangannya. Kaori bingung dan terus menatap gadis aneh itu. Gadis itu hanya melirik saja, setelah itu gadis itu melompat dan menghilang. Kaori semakin heran, Kaori mematung untuk sementara.
  "Si, siapa, ya?", pikir Kaori yang masih tercengang. Esok harinya, Kaori tidak masuk sekolah, karena saat tidur kemarin, Kaori tidak bisa bangun lagi. Dan ternyata, Kaori sudah diambil dari dunia menuju tempat yang seharusnya, yaitu alam baka... Kaori yang tidak mengerti tiba-tiba terbangun, dan ketika terbangun, ia berhadapan dan bertatapan dengan gadis yang ditemuinya kemarin malam, sebelum ia dipanggil oleh Tuhan. Kaori menjadi kaget setengah mati (aneh, kan sudah mati... -_-). "Gyaaaaa!!!", jerit Kaori yang masih kaget, gadis itu tenang dan tidak berteriak, justru gadis itu mengarahkan pedang kepada Kaori. "Berisik!", kata gadis itu dengan pelan. "E...eh... A,apa? Ng...apa ka, kata...mu... tadi?", tanya Kaori yang tidak mendengar sepatah kata dari gadis aneh berambut putih itu.

Wah, maaf, udah malam. Ini baru setengahnya,kok! Ahaha...


Selasa, 23 Oktober 2012

The Darkness Witch World


              Akami Hiruka adalah penyihir gelap, meski umurnya masih 11 tahun, dia sangat cerdas, pemberani, dan kuat. Tapi karena masih kecil, staminanya masih cukup lemah. Dan Akami mengendap penyakit leukimia. Meskipun sudah menyadarinya, Akami tetap semangat menjalani kehidupan sehari-harinya, meskipun harus mati atau gugur, Akami tetap senang dan mensyukuri segalanya.
              Hari ke 6 menjalani sekolah, sekolah Akami mengadakan event ~The witch helping people~, acara event itu agar tidak membuat bosan warga sekolah. "Ah, soal ini, ya... sejujurnya aku malas, sih, tapi karena tugas sekolah...", pikir Akami yang sebenarnya sudah pernah. Akami merasa, ia akan mendapat pelajaran baru dari tugas kali ini. "Ufh, aku harus membantu berapa orang lagi, ya?", pikir Akami lagi. Di bumi, Akami melihat dari atas sambil melayang-layang di udara. "Ah, ada orang yang kesusahan! Dari sini, bisa terlihat... Namanya Kai Yamada, oke!". Akami segera ke arah orang itu. "Permisi, bisakah saya berbicara dengan anda?", tanya Akami yang pendeknya berbeda dari orang yang bernama Kai itu. "I,iya... Tapi, kamu pendek banget, ya... umur berapa, sih?", tanya Kai. "Yah, umur sekitar 11 tahun ke atas... apakah anda keberatan?", tanya Akami lagi. "Ngg... tidak, kok! Hanya saja,... apakah kamu berani bertanya pada remaja berumur 15 tahun?", tanya Kai yang sebenarnya sedikit keberatan. "Tidak, kok! Kita terhubung karena tugasku di sini sebagai...", jawab Akami. "Sebagai apa?", tanya Kai lagi. "Sebagai seorang pelajar SD, kata pak guru harus cari orang yang kesusahan lalu membantunya. Begitu!", "Kamu SD mana, sih? Kok rasanya ribet banget...", tanya Kai untuk ke tiga kalinya. "Yah, sebenarnya SD luar negeri, sih...", jawab Akami yang sebenarnya bohong besar. "Gitu toh... Makasih sudah mau bantuin aku, ya... kamu ikut aku saja,deh!", kata Kai. "Baik!".
               Dan rumah Kai ternyata cukup kecil, tapi sangat nyaman. "Jangan komentar apapun soal rumahku, ya!", kata Kai yang mukanya sedikit memerah. "Eeh? Kenapa? Padahal bagus dan nyaman...  sejak dulu, aku ingin memiliki rumah seperti ini... sebab, rumah yang seperti ini adalah impian orangtuaku dulu, aku ingin mewujudkan impian mereka memiliki rumah seperti ini," kata Akami sambil tersenyum senang. Muka Kai tiba-tiba memerah dan tidak menjawab Akami. "Tu, tunggu! Apa aku salah bicara? Jangan marah, dong!", seru Akami yang ingin agar Kai tidak marah.

Agak capek, nih... Sudah dulu, ya... Nanti pasti kulanjutkan, bye-bye!
Mizuki Minori

Senin, 22 Oktober 2012

A Heavenly Angel

                 Mizukami Takana, adalah anak paling populer di kalangan perempuan maupum laki-laki, sikapnya cool dan cuek. Takana memang selalu terlihat biasa, tapi sebenarnya ia merasa sangat kesepian, ia ingin mempunyai teman meski hanya satu, tapi itu saja sudah membuatnya repot. Akhirnya, Takana menggunakan blog agar mendapat teman meski sedikit, ia memakai nama Mizu. Hanya seminggu, blognya mendapatkan 2 pengunjung setia, nama mereka adalah Daichi dan Kaze. Takana sangat berbunga-bunga, ia merasa bangga akan dirinya.Takana sangat senang mendapat teman meskipun dari dunia maya. Di blog,  Kaze memang jarang menulis komentar, tapi begitu berkomentar, Takana menjadi tertawa dan senang sekali. Berbeda dengan Daichi yang cerewet, komentarnya banyak dan panjang, juga seru, tapi sangat biasa bagi Takana. "Mizu-tan, lain kali taruh gambar boneka buatan tanganmu di blog ini, dong! Aku tertarik dari dulu," komentar Daichi yang sangat antusias. Takana cepat menjawab, "Iya, iya... Kapan-kapan, ya... Kaze mau juga nggak?". "Yaah... Terserah, boleh saja, aku nggak tahu apapun, kok," jawab Kaze. Takana merasa sedikit kecewa, Kaze memang dingin, tapi kalau seperti ini juga bisa menyakiti hati orang, tapi Takana menjadi sedikit sadar, kalau ia dapat kecewa karena orang lain, maka orang lain juga dapat sakit hati karena dia. "Tapi kalau menurutmu hasilnya bagus, tunjukkan saja!", "Eh?", pikir Takana yang kaget karena melihat komentar seperti itu. Takana menjadi senang sekali, jantungnya berdebar dan mulutnya tidak sanggup untuk menahan tawa. Dan Takanapun kelepasan tertawa. "Te, terimakasih, ya, Kaze," pikir Takana yang masih tertawa kecil-kecil. "Iya, deh, aku akan membuat yang bagus!", komen Takana. Daichi dan Kaze tidak menjawab, Takana menjadi sedikit merasa sepi. "Apa mereka sudah tidak disini?", pikir Takana yang masih heran. Takana menunggu hingga larut malam, tapi keduanya tidak menjawab. "Yah, mungkin agak nanti... Tunggu saja, deh...", pikir Takana lagi.
            Esok harinya, belum ada satupun komentar yang datang, padahal Takana sampai ketiduran di depan komputer untuk menunggu komentar. "Ah, jam segini sudah harus ada di sekolah, aku harus menjaga harga diriku agar menjadi putri di sekolah. Lanjut pakai ponsel saja, deh...", pikir Takana lagi. "Hm, jam segini masih pagi, cek ponsel dulu, deh... Ah!!!", kata Takana yang baru melihat blognya yang menjadi sumber kebanggaannya.  "Jangan terlalu mementingkan teman dari dunia maya, ya! Cari teman di dunia nyata, dong!", "Ka, Kaze...??! Kenapa...?", tanya Takana yang membatu karena membaca komentar Kaze. Takana segera mematikan ponselnya dan berlari ke arah sekolahnya. Takana sedikit sedih, ponselnya sengaja tak dibawa. Hari itu Takana sangat lesu saat di sekolah. Takana tidak sadar, sebenarnya orang yang disebut Kaze dan Daichi di dunia maya berada di kelas yang sama dengannya. "Hiruzawa, nggak apa-apa, nih, kamu ngomong kejam begitu?", "Nggak masalah, kalau komentar yang selalu menyenangkan seperti kamu malah jadinya membosankan tahu! Sekali-sekali dia harus dikeraskan!". Takana sebenarnya adalah pendengar yang baik, dan orang yang berterus terang. "Ma, maaf... Apa maksud kalian? Apa kalian...", kata Takana yang penasaran mendengar percakapan dua cowok kelas atas sekolah. "Wow! Takana-chan bicara pada kita! Senangnya!", seru salah seorang lelaki bernama Matsuzawa Takumi, dalam dunia maya dia adalah Daichi. "Bukan apa-apa!", kata lelaki lain yang bernama Hiruzawa Takumi, dalam dunia maya ia disebut Kaze. Takana terus menatap Hiruzawa yang cara bicaranya mirip Kaze. "Ada apa? Mau protes?", tanya Hiruzawa yang kesal akan pandangan mata Takana yang seperti mau marah. "Benar-benar... Tidak sopan!", pikir Takana dengan sangat-sangat kesal. "Sudah-sudah! Hiru, kita keluar, yuk! Ada menu baru kantin hari ini...", potong Matsuzawa yang benci pertengakaran. Takana segera membelakangi dua orang itu dan melihat ke arah jendela. "Ck, menyebalkan! Tidak sopan! Kenapa berkata begitu? Padahal aku sudah sengaja bertanya baik-baik!", pikir Takana dengan kesal.

Wah, pertengkaran teman blog, nih... Gimana, ya??? Ceritanya seru nggak?
Comment, yaah!

Minggu, 21 Oktober 2012

Silver Girl

          Aku Kaede Hikaru, kelas 6 SD, suka melakukan hal-hal yang menarik, tapi aku benci hal yang sedang trend sekarang. Hobiku adalah mencari hal-hal baru yang belum ditemukan orang lain, menulis, berkreasi, jalan-jalan, refreshing, mendesain, menjual barang buatan tangan, bercerita, dan masih banyak lagi. Aku memang hanya memiliki 2 teman, dan 1 sahabat, tapi mereka sudah cukup bagiku... Mereka juga benci hal yang sedang nge-trend, lalu mereka benci pada persaturan dan ketidak bebasan. Huuah... Kalau punya teman yang punya hobi atau kesukaan sama, tidak perlu banyak-banyakkan? Yang terpenting hanya kepahaman. "Akii-chan, Yutto-san, Komura-kun, sini!!!", panggilku saat istirahat sekolah. Aku selalu memanggil mereka seperti itu setiap kali aku ingin memanggil mereka.
          Aku merasa duniaku cukup hanya dengan ini, aku tak ingin punya teman lebih dari ini, aku tak ingin punya teman dari dunia maya, aku cukup puas hanya dengan mereka... Tapi, aku yakin sekali, kita tak mungkin bersama selamanya. Aku sangat cemas akan hal itu.
           Suatu hari, Akii-chan jadi pacar Yutto-san yang selama ini kusukai secara diam-diam. Awalnya, aku merasa kesal pada Akii-chan, ia menjadi mengerti kebiasaan baik maupun buruk Yutto-san, aku merasa mereka keasyikan sendiri. Akhirnya, tinggal aku dan Komura-kun sendiri. "Komura-kun, nggak sedih, kehilangan dua orang teman?", tanyaku yang masih sedih, mataku berkaca-kaca. Komura-kun hanya tersenyum. Dan tiba-tiba ia menjawab, "Tidak! Karena ada Kaede disini, aku nggak sedih!". Aku merasa sedikit terkejut, entah kenapa air mataku kering dan mendadak aku merasa hatiku hangat, denyut jantungku lebih normal, dan nafasku lebih lancar. "Ko, Komura-kun?? A... Aku... eee...ng...", kataku dengan gugup dan terbata-bata. "Kaede, aku menyukaimu... lebih lama dari pada kamu menyukai Yutto! Aku sangat suka kamu! Dan jangan panggil aku Komura-kun, panggil aku Komura!", bisik Komura-kun di telingaku. "Ko... Ko... Komu...Komura......Komura-kun?", kataku yang masih kalang kabut. "Ingat itu, ya!", kata Komura-kun lalu pergi dari tempat kami berdiri tadi. "A, apa ini... bu, bu... bukan mi... mim...mimpi...kan?", pikirku yang masih berdebar dengan kencang karena baru pertama kali ditembak oleh laki-laki. "Ko... Komura... ya? Duuh... malunya!!!", seruku sambil menampar diri sendiri bolak-balik sampai pipiku merah dan bengkak.
          Esok harinya, aku sengaja terus menghindari Komura-kun karena malu sekali. Komura-kun memang bingung, tapi aku merasa berat hati, aku yang selama ini menyukai Yutto-san sampai lupa apapun dan kurahasiakan terus dari siapapun bisa diketahui oleh Komura-kun yang sebenarnya menyukaiku sejak lama. Aku bingung... cinta rumit jenis apa iniii???! Duh... rasanya kepala mau pecah, deh... Berhenti mikir, stop sampai di situ saja... aku nggak mau merasakan cinta lagi... Uuh!! Tiba-tiba saja ada yang memanggilku, "Kaede!". Aku merasa mengenal suara itu dengan sangat jelas, aku langsung melarikan diri, tapi tak lama kemudian aku tertangkap juga, dan ternyata benar, orang yang memanggilku tadi adalah Komura-kun, aku tidak heran ataupun syok, karena aku bemar-benar mengerti kalau itu adala Komura-kun. "Ke, kenapa kamu lari... Kaede?", kata Komura-kun yang masih ngos-ngosan. "Maaf, Komura-kun, aku takut untuk mengatakannya... aku... ternyata memang...", kataku dengan pelan. Komura-kun segera menutup mulutku, "Kaede, aku tahu, aku memang bukan pangeran yang kamu impikan, karena aku bukan Yutto... Aku ya aku! Aku tak bisa berubah!", seru Komura-kun yang sudah melepas mulutku. Aku sadar, Komura-kun sudah mengajarkan aku tentang 'Siapakah diriku?', jawabannya adalah, 'Aku ya aku'. Aku hanya diam dan terus menatap ke bawah, tidak sekalipun aku menatap wajah Komura-kun. "Aku, aku tak bisa mengubah perasaanku padamu, jadi... sekali saja, lihatlah aku, Kaede!", lanjut Komura-kun yang berusaha keras untuk membuatku berpaling padanya. "...". Akhirnya, aku menoleh ke arahnya, aku menatap mukanya dengan baik dan menyentuh tangannya yang sangat lembut. Perlahan, kami menjadi semakin dekat dan dekat, aku merasa Komura-kun adalah orang yang sangat berarti bagiku.             (Bersambung............)
Gimana? Bagus? Jelek? Comment, ya!

Sky and Earth

Nezumi Kaori adalah seorang siswi SMP biasa, tapi entah sejak kapan kehidupan Kaori menjadi berubah drastis. Kaori diangkat menjadi malaikat. Kaori harus menjadi sosok yang jauh berbeda dari seorang manusia biasa, tapi repotnya lagi, Kaori tidak boleh mengatakan kepada siapapun kecuali para penghuni surga kalau ia adalah seorang malaikat. Kaori yang selalu bahagia tak menganggapnya merepotkan, karena menjadi malaikat adalah kebanggaan. Kaori adalah anak yang tak menyolok sama sekali, tak ada yang mengenalnya, jika ada yang mengenalnya, Kaori hanya akan ditindas. Keluarga Kaori sudah tak ada semua. Yang mengenalnya hanyalah seorang guru laki-laki bernama Ichiro Hayama, guru yang tampan dan juga tidak menyolok seperti Kaori. Tapi keduanya tidak pernah saling bertatap mata. Tanpa diketahui, diam-diam Pak Guru menyukai Kaori, tapi sayangnya, cintanya tak terbalas. Kaori yang tak menyolok dan tak pernah dihampiri itu tidak berani menyukai seseorang sekalipun. Kaori mengalami trauma pada percintaan, ia ditindas karena menyukai seseorang yang akrab dengannya saat SD. Kaori takut kalau ia ditindas dan sekarat seperti dulu lagi.
Suatu ketika, Kaori dipanggil oleh pak guru, Kaori cukup panik. Apakah ia akan ditegur oleh pak guru?
Di taman tempat mereka bertemu, tempat mereka pertama kali bertatap mata, muka dengan muka. Kaori merasa sedikit berdebar begitu melihat pak guru. "Eh, Pak Hayama? Ada apa?", tanya Kaori yang sedikit malu. "Be, begini, Ne... Nezumi... Aku, ng...", jawab pak guru. "Ma, maaf, pak... Aku a, ada urusan... aku nggak bisa bicara dengan pak guru...", kata Kaori mendadak, ia malu debarannya terdengar makin keras. "Tunggu! Dengarkan dulu! Aku... padamu! Pikirkanlah apa kata kosong yang tak kuucapkan!", seru pak guru yang berusaha mencegah kepergian Kaori. "Su... suka?", pikir Kaori yang mukanya memerah. Pak guru langsung berlari pergi dari taman. "Pak guru... padaku? Apa benar suka? A, aku... aku nggak boleh terlalu GR! Nggak mungkin ada yang suka aku! Aku harus melupakannya! Guru kan harusnya sudah punya kekasih! Duuh!!!", pikir Kaori lagi. "Ah, jam segini! Aku harus pulang sekarang!!", batin Kaori yang jantungnya masih berdebar dengan keras. "Apa-apaan, sih, aku ini?! Nggak mungkin suka pak guru! Beda status tau!!!", seru Kaori dalam hati. Pip pip pop! You got a message! "Ah! SMS! Dari siapa, ya? Aku nggak punya nomornya siapa-siapa... Eh, Hayama Ichiro? Pak guru Hayama?", pikir Kaori gugup. "Apa isinya, ya?", tanya Kaori pada dirinya sendiri. Kaori segera membuka pesannya, dan membacanya, "Kaori, jangan lupakan kejadian di taman tadi! Apa kamu sudah menemukan kata-kata kosongnya?". "Gawat! Pak guru mengerikan!!", pikir Kaori panik. "Nggak usah kujawab saja, deh... ahaha!", kata Kaori sambil tertawa bingung. Pippoppip You got a message! "Geeh!!? Lagi??!! Su, sudahlah... Ng, nggak usah kubuka! Biarkan saja! Aku nggak mau peduli!!! Bi, biarkan saja aku!", seru Kaori, dan sejak itu ponsel Kaori tidak pernah lagi menyala.
Seminggu berlalu, ponsel Kaori masih belum bisa menyala, Kaori terus menggunakan laptopnya untuk meng-email sahabat SD-nya dulu. "Apa nggak masalah... Aku tidak membalas perkataan pak guru?", tanya Kaori sambil memeluk ponselnya. "Ah... Pak guru... Aku ingin cepat pelajaran matematika...", lanjut Kaori sambil berguling-guling di kasurnya.
Yaaaa! Bersambung! Akan kulanjutkan kapan kapan, oke? Mizuki siap menerima apapun!!

Rabu, 17 Oktober 2012

Piano Princess

       Namaku Ishika Kirigami, anak bangsawan, kerabat Himeka. Aku adalah seorang pemusik muda berbakat yang terkenal, tetapi aku adalah bangsawan buta. Aku mengerti sekali perasaan Himeka, karena dulu aku juga pernah dipaksa bermain piano. Kuharap kamu nggak terlalu merasa dipaksa, ya, Himeka. Karena kalau kamu nggak merasa dipaksa akan jadi lebih baik. Kalau tidak merasakan sesuatu sebagai paksaan, maka kita tidak akan terlalu menderita.
       Dulu, aku merasa kalau hanya aku yang dipaksa begini, dipaksa hingga diancam oleh maut. Aku sangat takut dan menyesal, mengapa aku dilahirkan di dunia ini dan dibesarkan tanpa kasih sayang. Aku menangis setiap malam tanpa berhenti. Aku selalu berdoa agar aku dilenyapkan, tapi tidak doaku tidak kunjung terkabul. Suatu hari, aku kembali bermain bermain biola kesayanganku, hatiku kembali damai, kecemasanku hilang, rasa kesal, senang, sedih, semuanya tersalur pada tanganku dan hatiku, aku sudah dapat bernafas dengan lancar lagi. Aku merasa bahagia saat bermain, tapi tiba-tiba, ayah dan ibuku menegurku dan merampas biola itu dari tanganku. Aku merasa tertusuk dan dikhianati oleh orangtuaku sendiri. Padahal, dahulu, mereka sangat bahagia dan senang jika aku bermain biola. Sekarang, mereka malah berkata padaku, "Jangan pernah sekalipun menyentuh biola ini! Dasar iblis bersayap malaikat yang terus membawa kesialan!". Hatiku seperti dirusak, hingga aku syok dan kepalaku terbentur ketika aku hendak menaiki tangga untuk menuju kamar, dan aku langsung melihat seluruh pemandangan yang menjadi gelap, aku bingung hingga tidak tahu harus berbuat apa. Aku kembali menangis sendirian, kepalaku juga sudah sedikit sobek dan darah bercucuran dari kepala dan tanganku. "Kenapa hanya aku yang ditakdirkan begini?", tanyaku saat itu, aku yang masih tak mengerti apapun.
        Berbulan-bulan telah berlalu, aku hanya terus menerus berlatih piano hingga tak peduli sekitar, dan lupa segalanya. Tapi hanya satu yang aku ingat, yaitu pengalamanku selama ada biola kesayanganku itu. Aku terus memikirkan di manakah biolaku itu setelah disita oleh orangtuaku. Hal itu terus terngiang-ngiang di kepalaku. "Tuhan, kenapa... kenapa aku saja yang penuh dengan celaka begini? Apakah kelak aku tidak akan punya pekerjaan? Apakah aku akan menjadi terkenal?", pikirku yang masih teringat oleh biola kesayanganku. Aku kembali menangis tanpa suara seperi biasa,hanya saja air mataku bercucuran tanpa berhenti. Aku selalu berpikir, apakah akan ada yang menolongku nanti? Apakah aku akan sukses nanti?
        Aku berlatih piano setiap hari sambil dibimbing oleh guru pribadiku. Guru pribadiku adalah orang yang sangat jahat dan keras, tapi beliau adalah orang yang pemuji. Tapi aku belum pernah sekalipun dapat pujian darinya,dan beliau justru menghinaku habis-habisan. Aku merasa segala yang kulakukan sia-sia, dan yang paling parah, aku merasa dipaksa oleh semuanya. Tetapi, aku takkan menyerah untuk satu kata pujian saja! Aku terus berjuang meski tanganku mentendonitis.
        Dan suatu hari... "Kirigami-san, kamu berhasil!", puji guruku sambil menepuk kepalaku dengan lembut. Aku merasa sangat senang dan bangga, hatiku seperti dipecahkan dari es musim dingin yang sangaat dingin. Lega sekali rasanya... Aku ingin beliau mengatakannya lagi, tapi setelah seminggu, ia tidak datang kemari dan banyak kabar berkata, "Eh, anak bangsawan Kirigami yang membunuh musisi berbakat bernama Kirio Aru, kan? Dasar malaikat pembawa sial! Menyebalkan! Padahal sudah lama aku suka sama Aru-sama!!", bisik seorang perempuan dari belakang. "Iya... Padahal, ada kemungkinan aku bisa bertunangan dengan Kirio-kun... Harusnya anak itu saja yang mati!", balas perempuan yang lain. "Ah, maaf... aku nggak tahu apapun...", pikirku dengan gelisah. Aku terus menerus merenung di kamar, sudah 3 hari aku tidak makan ataupun minum, aku hanya melamun dan diam saja di kamar. Tiba-tiba ketika aku hendak keluar kamar melalui jendela, ada yang membuka pintu kamarku dan memanggil namaku, "I-chan...". Aku sedikit terkejut, baru kali ini ada yang memanggil nama kecilku. Aku segera menoleh dan melihat seorang gadis yang manis dan lebih muda 2 tahun dariku. "Si, siapa?", tanyaku yang masih terpesona, dan entah kenapa aku bisa melihat lagi... apa ini yang disebut mata hati? "Namaku Himeka. Salam kenal!", jawab gadis itu dengan senyum ramahnya yang menawan. "Hime-chan? Aku... aku kenal...", kataku yang masih terpesona. Himeka mengangguk, ekspresinya terlihat bahagia, aku ikut senang, kecemasanku jadi hilang dan aku jadi merasa tenang. Aku kenapa, ya? Mataku seperti menolak untuk dibuka, tapi hatiku seperti memaksa membuka. Himeka adalah penyelamatku... Aku sangat menyukainya dia seperti adik kandungku. Aku sangat menyayanginya, ia adalah orang paling berharga bagiku.
         Oleh karena itu, sekarang, aku ingin menjadi penyelamat bagi Himeka. Aku terus menerus menghibur Himeka, dan dukunganku tersampaikan. "Terima kasih I-chan! Ah, maksudku kakak...", katanya sambil tersenyum. "Berkat kakak,aku jadi mengerti sekarang. Aku akan merasa senang akan semua hal...", lanjutnya. Aku hanya tersenyum lega sambil mengelusnya.
         Akhirnya, sekarang kami berdua mengadakan konser musik di Tokyo-Dome. Rasanya senang sekali dan lega, kami mengalami masalah yang serupa... Dan tujuan kami terkabul. Terima kasih atas dukungan kalian. Sampai jumpa!
Yak! Selesaiiii! Capek, nih... komen, ya!

Minorin

Selasa, 16 Oktober 2012

MUSICAL SCHOOL

Namaku Sayaka Maruri. Aku bersekolah di SMP Rizumu/Rhytm. Di sana, aku belajar banyak sekali seni musik. Aku jadi mahir dalam musik dan menjadi produser sebuah band terkenal dari sekolahku. Setiap hari, aku selalu bersemangat saat sekolah, aku senang mendengar musik dan lagu dari band-ku. Setiap kali aku mendengar musik dari band-ku meskipun lagu rock, hatiku selalu damai dan kepalaku terasa dingin. Ah... bangga sekali rasanya!!! Aku ingin selalu sekolah dan bersama band-ku. Kami sering mengadakan konser kecil-kecilan di masyarakat, aku ingin menjadi band sungguhan dan menjadi terkenal.
Suatu hari, band-ku mengadakan konser di sekolah, dan hebatnya akan ada pencari bakat yang datang. "Eh, teman-teman ini hebat, kan!!? Ayo kita tampilkan yang terbaik!", seruku pada band-ku agar kami menjadi semangat. Semuanya ikut heboh, deh...^^.
Akhirnya saatnya show, aku sangat berdebar, rasanya jantungku mau meledak. Kami akan menampilkan lagu 'MUSIC' untuk pembukaan (yang menyanyi Mari, sebenarnya Mari yang bermain piano), lagu 'GOD, PLEASE TELL ME' untuk lagu pertama (yang menyanyi Haru, penyanyi cadangan), lagu 'Thank You for You' untuk lagu kedua (yang menyanyi Himuro, penyanyi cadangan kedua), lagu 'Sweet Sugar' untuk lagu ketiga (yang menyanyi Ikuya, penyanyi pokok), lagu 'When I Tell...to you' untuk lagu keempat (yang menyanyi Iruko, pemain biola), lagu 'Cafe at Midnight' untuk lagu kelima (yang menyanyi Namiko, pemain gitar), dan lagu 'Song Ending' untuk lagu penutup (yang menyanyi adalah aku, sang produser). Gimana, ya... Aku senang juga tapi tentu saja gugup, aku bukan penyanyi yang pro seperti anggota band-ku. Meski laguku paling gampang tapi bagiku susah banget, nih! Tolong aku agar nggak gugup di panggung, yaa...! >< ! Aku nggak boleh mengecewakan sekolahku dan band- ku! Tapi susah banget, niiih! Huweeeh... tolong aku, ya! Tolong, ya!
Eh, eh... Ada lagi yang minta tolong... Ceritanya belum selesai, sih... Makanya, tolongin Sayaka dulu, ya... Kalau banyak pertolongan ceritanya akan berlanjut dengan lancar. Arigatou Gozaimasu, yaa!!!

Minggu, 14 Oktober 2012

Piano Princess

Aku Himeka Mirai, seorang putri yang gemar bermain piano, tapi keluargaku melarangku bermain piano, mereka berkata padaku agar aku bermain biola saja. Memangnya kenapa kalau aku bermain piano?
Akhirnya, suatu hari aku mencoba bermain biola dengan bimbingan dari guru musik pribadiku, aku sudah berusaha dan hasilnya sangat indah di telingaku. Tapi mengapa beliau menghina dan merendahkan permainanku? Aku sangat syok mendengarnya, aku jadi takut bermain biola, aku ingin kembali ke sisi piano, tapi kenapa semuanya melarangku menyentuh bahkan melihat ruangan berisi sebuah piano tua yang indah itu? Aku tidak ingin dipaksa bermain biola! Aku ingin santai bermain piano sambil dikelilingi wajah yang bahagia! Aku sangat ingin menyentuh tuts piano dan mendengar suara piano! Tuhan, tolonglah aku! Aku sangat ingin melakukan apa yang aku mau, meski sedetik saja! Siapapun tolong aku!
Cerita singkat ini by Mizuki juga, lhoo! Tolong sukai dan tolong bantu Himeka, ya!

After School Helper

SMA Kaito adalah SMA yang terkenal benyak penindasan, tapi tanpa diketahui oleh Nami Kikuru, anak yang dulunya bersekolah di SMA Akinori dan salah satu anggota A.S.H (After School Helper), sehingga tidak pernah ada penindasan di sekolah lamanya. "Bagaimana kabar Asuna dan Kizuki, ya? Apa akan aman kalau aku tidak ada di sana? Apa yang terjadi, ya?",pikir Nami sambil tersenyum rindu. PRRRRRRRRRT...... PRRRRTTTTTTT.... "Ah, Handphone-ku! SMS dari Asuna!", kata Nami yang buru-buru membaca SMS dari Asuna, sahabat seangkatannya dulu. "Waa...!!! Kereen! Foto Kizuki lagi menghajar anak yang berusaha mencuri Hp dari sekolahku dulu! Hebat, hebat!", pikir Nami sambil tertawa-tawa. "Eh, ada anak penggantiku, ya? Dari SMP Kaito? Kelas 1, ya?". "Tunggu dulu! SMP KAito?! Kenapa pindah ke Akinori? Bukannya Kaito ada sampai kuliah?", pikir Nami yang sedikit heran dan bingung. "Sudah waktunya turun ke stasiun tujuan berikutnya!". Nami yang masih bingung itu segera tegap berdiri dan berjalan keluar dengan tegas. "Aku akan menjadi A.S.H sekolah Kaito! Aku tidak akan kalah dari anak penggantiku! Lihat saja! Aku akan melerai seluruh sekolah!", pikir Nami lagi.
Saat sampai di SMA Kaito, Nami melihat sekolah itu tenang dan indah, seluruh warga sekolah rukun-rukun. "Waah..........  aku salah kira, kupikir sekolah ini kacau balau dan tidak teratur. Ternyata...", pikir Nami yang masih terkesan. "Eh, ada murid baru, ya? Siapa namamu?", tanya seorang gadis cantik yang rambutnya berwarna merah muda. "Eh, aku Nami Kikuru, dari SMA Akinori kelas 1, anggota A.S.H. Namamu?", jawab sekaligus tanya Nami yang masih sedikit terkejut. "A... A.S.H? Anggota A.S.H? Nami Kikuru?", tanya gadis itu dengan sedikit gugup. "Iya, kenapa? Namamu?", tanya Nami lagi. "Ka, kamu keren banget, deh, Nami! Sejak dulu aku kagum pada anggota A.S.H! Senangnyaaaaa!!!", kata gadis itu sambil menjabat tangan Nami yang kecil. "Te, terima kasih...? Namamu?", tanya Nami lagi. "Wah, maaf, ya. Kamu sampai nanya namaku 3 kali. Namaku Mami Aishi, anggota S.T kelas 1 juga!", kata gadis itu sambil menggaruk kepalanya. "S.T? Apa itu?", tanya Nami. "Shoujo Tenshi. Program yang menyelamatkan kelas 1D dari penindasan. Anggotanya hanya aku sendiri. Grupnya mau kububarkan nanti, tapi kalau ada orang yang masuk ke grupku, ya... tidak jadi bubar. Aku nggak mau kalah dari grup S.A atau Shounen Akuma.". "Shounen Akuma? Baiklah, aku akan membantumu Mami! Nama kita hampir sama, sih, ya... Dan lagi kamu adalah teman pertamaku di sini, makasih, ya.", kata Nami sambil tersenyum pada Mami. "Terimakasih Nami-chan. Tapi namanya tetap S.T, lho! Bukan A.S.H!", kata Mami senang. "Yah... Julukan A.S.H tetap kusimpan dalam hati, kok!", kata Nami sambil menyentil kepala Mami. Dua-duanya terlihat sangat bahagia, tapi cerita masih paaaaanjaaaaaaang, lhoo! Yang tertarik comment, yang mau nanya comment, kalau ada yang salah juga komen, ya! Semuanya ke Mizuki Minori!

Animania&Mangamania story: Katakan semua imajinasimu dalam bentuk cerita tent...

Animania&Mangamania story: Katakan semua imajinasimu dalam bentuk cerita tent...: Katakan semua imajinasimu dalam bentuk cerita tentang gambar anime yang sudah kamu siapkan, cerita pakai bahasa yang sopan, jelas, dan tepa...

Katakan semua imajinasimu dalam bentuk cerita tentang gambar anime yang sudah kamu siapkan, cerita pakai bahasa yang sopan, jelas, dan tepat, ya! Boleh juga kalau mengambil gambar dari internet dan membuat ceritanya sendiri.^^

Dilarang berkata kotor/tidak sopan dan tidak boleh plagiat!
        

Contoh cerita:  Kawaii Neko-chan

             Kineko Aino, seorang siswi SD yang imut dan populer ternyata memiliki rahasia! Rahasianya adalah, ia sebenarnya memiliki telinga kucing yang cukup kecil, ia dapat menyembunyikan telinganya saat sekolah karena diberi sebuah sihir oleh ibunya yang seorang penyihir, tapi tentunya sihirnya akan segera bubar setelah 8 jam berlalu.
            Tapi, Kineko nggak akan aman seperti itu terus, ia pasti mendapat masalah! Dan benar, Hari sebelum kenaikan kelas, teman sekelasnya datang untuk mengajaknya ke festival musim panas. "Ai-chaan! Ini aku Yukari! Aku mau ngajak kamu ke festival yang kubilang kemarin. Pergi sekarang, yuk!", seru temannya sambil mengetuk pintu pagar rumahnya. "E, ehh! Chiisa!? Kenapa sekarang??!, tanya Kineko dengan panik. "Kan kemarin aku bilang sekarang," jawab Yukari Chiisa, teman yang tadi mengajaknya. "Eh... Masa? Aku nggak jadi ikut, deh! Mama lagi pergi, aku belum ijin! Kamu pergi duluan, deh, kalau sempat nanti kususul, kok!", seru Kineko yang masih kalang kabut mencari topi untuk menyembunyikan kuping kucingnya. "Kalau bisa, aku telepon mamaku, jadi lebih cepat menyusul, sudah, kamu pergi duluan saja! Aku mau telepon dulu!", lanjut Kineko yang akhirnya menemukan topi yang cocok untuk menutup telinganya. "Ya sudah. Aku pergi duluan, ya! Nyusulnya yang cepat, lho!", balas Yukari sambil melangkah pergi dari rumah Kineko. "Duuh, kalau pakai topi aku nggak bisa pakai yukata... Pakai baju biasa, deh... Aiih... kalau mama nggak pergi aku pasti bisa minta mama menyihir kupingku. Tapi kalau aku nggak pergi ke sana nanti Chiisa curiga. Aku memang sudah ijin, sih...", pikir Kineko yang sudah merasa sedikit lega. "Padahal ini kesempatan pamer yukata...", pikir Kineko lagi.
Nah, gimana ceritanya? Masig belum selesai, lhooo! Kalau tertarik atau bahasanya nggak bagus, katakan aja pada Mizuki Minori atau comment, ya!