Namaku Ishika Kirigami, anak bangsawan, kerabat Himeka. Aku adalah seorang pemusik muda berbakat yang terkenal, tetapi aku adalah bangsawan buta. Aku mengerti sekali perasaan Himeka, karena dulu aku juga pernah dipaksa bermain piano. Kuharap kamu nggak terlalu merasa dipaksa, ya, Himeka. Karena kalau kamu nggak merasa dipaksa akan jadi lebih baik. Kalau tidak merasakan sesuatu sebagai paksaan, maka kita tidak akan terlalu menderita.
Dulu, aku merasa kalau hanya aku yang dipaksa begini, dipaksa hingga diancam oleh maut. Aku sangat takut dan menyesal, mengapa aku dilahirkan di dunia ini dan dibesarkan tanpa kasih sayang. Aku menangis setiap malam tanpa berhenti. Aku selalu berdoa agar aku dilenyapkan, tapi tidak doaku tidak kunjung terkabul. Suatu hari, aku kembali bermain bermain biola kesayanganku, hatiku kembali damai, kecemasanku hilang, rasa kesal, senang, sedih, semuanya tersalur pada tanganku dan hatiku, aku sudah dapat bernafas dengan lancar lagi. Aku merasa bahagia saat bermain, tapi tiba-tiba, ayah dan ibuku menegurku dan merampas biola itu dari tanganku. Aku merasa tertusuk dan dikhianati oleh orangtuaku sendiri. Padahal, dahulu, mereka sangat bahagia dan senang jika aku bermain biola. Sekarang, mereka malah berkata padaku, "Jangan pernah sekalipun menyentuh biola ini! Dasar iblis bersayap malaikat yang terus membawa kesialan!". Hatiku seperti dirusak, hingga aku syok dan kepalaku terbentur ketika aku hendak menaiki tangga untuk menuju kamar, dan aku langsung melihat seluruh pemandangan yang menjadi gelap, aku bingung hingga tidak tahu harus berbuat apa. Aku kembali menangis sendirian, kepalaku juga sudah sedikit sobek dan darah bercucuran dari kepala dan tanganku. "Kenapa hanya aku yang ditakdirkan begini?", tanyaku saat itu, aku yang masih tak mengerti apapun.
Berbulan-bulan telah berlalu, aku hanya terus menerus berlatih piano hingga tak peduli sekitar, dan lupa segalanya. Tapi hanya satu yang aku ingat, yaitu pengalamanku selama ada biola kesayanganku itu. Aku terus memikirkan di manakah biolaku itu setelah disita oleh orangtuaku. Hal itu terus terngiang-ngiang di kepalaku. "Tuhan, kenapa... kenapa aku saja yang penuh dengan celaka begini? Apakah kelak aku tidak akan punya pekerjaan? Apakah aku akan menjadi terkenal?", pikirku yang masih teringat oleh biola kesayanganku. Aku kembali menangis tanpa suara seperi biasa,hanya saja air mataku bercucuran tanpa berhenti. Aku selalu berpikir, apakah akan ada yang menolongku nanti? Apakah aku akan sukses nanti?
Aku berlatih piano setiap hari sambil dibimbing oleh guru pribadiku. Guru pribadiku adalah orang yang sangat jahat dan keras, tapi beliau adalah orang yang pemuji. Tapi aku belum pernah sekalipun dapat pujian darinya,dan beliau justru menghinaku habis-habisan. Aku merasa segala yang kulakukan sia-sia, dan yang paling parah, aku
merasa dipaksa oleh semuanya. Tetapi, aku takkan menyerah untuk satu kata pujian saja! Aku terus berjuang meski tanganku mentendonitis.
Dan suatu hari... "Kirigami-san, kamu berhasil!", puji guruku sambil menepuk kepalaku dengan lembut. Aku merasa sangat senang dan bangga, hatiku seperti dipecahkan dari es musim dingin yang sangaat dingin. Lega sekali rasanya... Aku ingin beliau mengatakannya lagi, tapi setelah seminggu, ia tidak datang kemari dan banyak kabar berkata, "Eh, anak bangsawan Kirigami yang membunuh musisi berbakat bernama Kirio Aru, kan? Dasar malaikat pembawa sial! Menyebalkan! Padahal sudah lama aku suka sama Aru-sama!!", bisik seorang perempuan dari belakang. "Iya... Padahal, ada kemungkinan aku bisa bertunangan dengan Kirio-kun... Harusnya anak itu saja yang mati!", balas perempuan yang lain. "Ah, maaf... aku nggak tahu apapun...", pikirku dengan gelisah. Aku terus menerus merenung di kamar, sudah 3 hari aku tidak makan ataupun minum, aku hanya melamun dan diam saja di kamar. Tiba-tiba ketika aku hendak keluar kamar melalui jendela, ada yang membuka pintu kamarku dan memanggil namaku, "I-chan...". Aku sedikit terkejut, baru kali ini ada yang memanggil nama kecilku. Aku segera menoleh dan melihat seorang gadis yang manis dan lebih muda 2 tahun dariku. "Si, siapa?", tanyaku yang masih terpesona, dan entah kenapa aku bisa melihat lagi... apa ini yang disebut mata hati? "Namaku Himeka. Salam kenal!", jawab gadis itu dengan senyum ramahnya yang menawan. "Hime-chan? Aku... aku kenal...", kataku yang masih terpesona. Himeka mengangguk, ekspresinya terlihat bahagia, aku ikut senang, kecemasanku jadi hilang dan aku jadi merasa tenang. Aku kenapa, ya? Mataku seperti menolak untuk dibuka, tapi hatiku seperti memaksa membuka. Himeka adalah penyelamatku... Aku sangat menyukainya dia seperti adik kandungku. Aku sangat menyayanginya, ia adalah orang paling berharga bagiku.
Oleh karena itu, sekarang, aku ingin menjadi penyelamat bagi Himeka. Aku terus menerus menghibur Himeka, dan dukunganku tersampaikan. "Terima kasih I-chan! Ah, maksudku kakak...", katanya sambil tersenyum. "Berkat kakak,aku jadi mengerti sekarang. Aku akan merasa senang akan semua hal...", lanjutnya. Aku hanya tersenyum lega sambil mengelusnya.
Akhirnya, sekarang kami berdua mengadakan konser musik di Tokyo-Dome. Rasanya senang sekali dan lega, kami mengalami masalah yang serupa... Dan tujuan kami terkabul. Terima kasih atas dukungan kalian. Sampai jumpa!
Yak! Selesaiiii! Capek, nih... komen, ya!
Minorin