Minggu, 25 November 2012

Story of Fantasy&Love

"Pokoknya kamu pasti kulindungi! Jadi jangan khawatir!", kata Moriyama-kun. Aku jadi semakin berdebar-debar. "A, anu... Moriyama-kun...", kataku dengan pelan karena malu. "Ya?", "Ah, nggak ada apa-apa, kok! Aku cuma nggak sengaja manggil nama Moriyama-kun saja!", balasku. "Baiklah, kita pergi ke tempat ini, yuk! Ini buat pemula, lho!", kata Moriyama-kun sambil menunjuk salah satu tempat di peta. Nama tempat itu adalah Vláda Požáru. "Apa artinya?", tanyaku. "Kerajaan Api!", jawabnya sambil senyum-senyum. "Eeeeh!!? Kenapa nggak yang lain aja!?", seruku panik. "Soalnya ini buat pemula level 0-3, sih!", balas Moriyama-kun santai. Apa boleh buat, aku terpaksa menurut... payah banget, sih! Tiba-tiba ruangan sekitar berubah menjadi tempat seperti istana api. "Inori, awas!", kata Moriyama-kun sambil menggendongku dengan cepat lalu berlari dengan cepat. "Eh, ada apa?", tanyaku. "Lihat saja sendiri! Ada yang akan menyerang kita!", balas Moriyama-kun sambil menurunkanku. "Eh, i...itu? Cara menyerangnya gimana?", tanyaku lagi. "Saat ini kamu belum punya senjata, tapi bisa menggunakan sihir. Pikirkan saja sihir yang kamu mau!", kata Moriyama-kun sambil menggandengku. "Oh, baiklah! Aku sudah dapat jurusnya!", seruku karena aku sudah mendapat ide jurus. "Inori, di belakang!", seru Moriyama-kun lagi. Aku segera menoleh dan menyerang, "Heilagt vatn!", seruku. Muncullah air yang menyembur, dan 5 musuh telah mati. Di depanku ada tulisan, "Level Up! Skill Up!"
Rasanya senang setengah mati, Moriyama-kun juga ikut senang. "Baguslah Inori...", katanya sambil memelukku. "Aaa... Mo, moriyama-kun...", bisikku karena malu. Seketika ruangan kembali menjadi seperti awal. "Sekarang uang kita 20.000, kita bisa beli barang, deh!", kata Moriyama-kun. "Setelah ini kita ke mana? Ke tempat berikutnya?", tanyaku sambil berjalan mendekati Moriyama-kun. "Tetap di Vláda Požáru, kan levelmu belum 3," jawab Moriyama-kun. Aku sebal... "Ngg... kalau sudah level 3 ke mana?", tanyaku lagi. "Tak perlu buru-buru, kita habiskan natal di sini, tak mungkin selesai secepat itu!", balas Moriyama-kun sambil tertawa geli. "Eh... aku kan nanya kalau sudah ngapain!? Yang kutanya, kan itu!", balasku kesal. "Kalau sudah ya... ke tempat berikutnya, dong!", balas Moriyama-kun sambil mencubit pipiku. "Aaaww!! Sakit, nih! Ngapain, sih!", seruku karena kesakitan. "Habis pipimu imut, sih...", balas Moriyama-kun sambil menggandengku supaya jalan lebih cepat. Mukaku kembali memerah, perkataan Moriyama-kun sangat manis bagiku. "Moriyama-kun... punya orang tua?", tanyaku karena Moriyama-kun tidak cemas soal apapun di sini. "Tidak, tak ada satupun orang yang peduli padaku, kecuali kakak. Kadang-kadang kakak juga tak mau memperhatikanku. Jadinya, aku membuat dunia virtual ini untuk menghilangkan rasa kesepianku...", jawab Moriyama-kun. Aku mengangguk, "Aku juga tidak punya orang tua, kakak atau adik. Jadi setiap hari aku selalu sendiri. Tapi sejak Moriyama-kun menyapaku, aku jadi tak sendirian lagi...", kataku sambil tersenyum. Moriyama-kun ikut tersenyum dan membalas, "Aku juga... aku tahu aku nggak sendiri, aku masih punya Inori. Makanya, aku selalu melihatmu mulai dari awal kamu datang. Sejak kamu datang, yang terbayang di pikiranku cuma kamu... kamu satu-satunya gadis yang kusukai...". Aku kembali berdebar dan mukaku kembali memerah. Baru kali ini aku mendengar ada yang suka padaku... "Moriyama-kun... terima kasih... sudah menyukaiku...", balasku sambil tersenyum ke arah Moriyama-kun. Aku sendiri bingung, mengapa rasanya aku senang sekali seperti saat keluargaku masih lengkap lima orang. "A...apa itu artinya....", pikir Moriyama-kun. "Sepertinya sejak kemarin.... aku juga jadi menyukai Moriyama-kun...", ucapku pelan. "Ah, be...begitu, ya... kalau begitu...", balas Moriyama-kun sambil menyentuh daguku. Muka Moriyama-kun semakin mendekati mukaku, mukaku kembali memerah. "Tutup matamu...", kata Moriyama-kun sambil makin mendekat. Angin yang dihembuskan saat Moriyama-kun bicara terkena bibirku. Aku menurut menutup mata saja. Dan tinggal 1 senti lagi bibir kami bersentuhan ada orang yang datang, karena kaget kami terjungkir ke bawah jurang. "Uwaa!!", seru Moriyama-kun sambil memelukku karena takut aku terjatuh duluan. Moriyama-kun melindungi kepalaku agar kepalaku tidak terluka. Bagaimana kalau Moriyama-kun yang terluka?!
Bersambung....

Caramel Girl-the dark side of the soul that has been cracked

Mayu Ishibashi, gadis berkepribadian ganda yang menjadi penyanyi terkenal dunia. Dia dibuang oleh ayahnya yang sudah kawin lagi dengan perempuan kaya yang sangat cantik, sekarang Mayu diasuh oleh manajernya sendiri. Manajernya sangat menyukai Mayu, ia mengasuh Mayu seperti mengasuh anaknya sendiri. Mayu juga menganggap manajernya adalah ibunya sendiri. Mayu juga sangat menyayangi manajernya dan bersikap baik dan lembut ketika bersama manajernya. Mayu memiliki sifat yandere yang ditampilkannya saat bersama orang lain, dan sifat baik saat berhadapan dengan manajernya. Tapi terkadang, Mayu menampilkan sifat yang benar-benar jahat sehingga membuat orang takut. Mayu sangat suka menyanyi sehingga suatu hari ia mendapat stress karena terlalu banyak berlatih. Mayu ambruk saat latihan vokal, ia terus memegangi kepalanya yang terasa sangat pusing. "Uuh..... Ada apa dengan kepalaku? Kenapa terasa pusing sekali? Tubuhku juga terasa sangat berat... apa yang terjadi?", pikir Mayu yang masih diangkut oleh para staff yang dipanggil oleh manajernya. Mayu yang tak kuat menahan rasa sakit itu langsung pingsan. Saat pingsan, ada seorang staff yang melihat bayangan Mayu yang tersenyum lebar sambil membawa kapak, dan di kapaknya, menetes darah yang banyak. Di dalam hati Mayu terdengar suara tawa yang seperti suaranya, "Hihihi...". Mayu membuka matanya dalam mimpi dan melihat ada cermin di depannya, Mayu berdiri dan menyentuh cermin itu, tiba-tiba muncul sosok seseorang yang membawa kapak berlumuran darah, dan orang itu sangat mirip dengan Mayu. Mayu menjadi terkejut dan langsung bertanya dengan ketakutan, "Si, siapa kamu?". Orang yang terpantul di cermin itu menjawab, "Akulah kamu, akulah sifat jahatmu yang selama ini sudah membuat orang sebanyak itu ketakutan. Mereka selalu merasa kamu menyebalkan, karena kesal maka muncullah aku, sifat jahatmu. Aku sengaja membebanimu sehingga kamu pingsan, dengan begitu kita bisa bicara di sini tanpa gangguan. Karena kesal akan kelambananmu, kesabaranku sudah habis sekarang... jadi....". Sosok itu keluar dari cermin dan Mayu semakin ketakutan, gadis itu mengarahkan kapaknya yang berlumuran darah, darah dari kapak itu menetes hingga mengenai kepala Mayu. Tetesan darah itu mulai mengalir ke tangan Mayu, dan Mayu kembali melihat ke gadis itu. Gadis itu sudah mengarahkan kapak ke kepala Mayu. Karena takut, Mayu berteriak, "Kyaaaaa!!!". Tapi gadis itu tak menghentikan ayunan kapaknya, justru semakin cepat, Mayu menangis karena ketakutan, Mayu ingin berlari, tapi kakinya seperti dicengkram oleh tangan yang begitu kuat. Tapi Mayu terus menerus melangkah mundur dengan langkah berat, sehingga pada akhirnya ia kelelahan dan terjatuh, sementara gadis itu berlari dengan ringan dan cepat. Mayu semakin gemetaran, Mayu tidak ingin mati sebelum mensukseskan agency milik manajernya. "Tunggu! Sebelum kamu membunuhku, tolong beri aku kesempatan sekali saja untuk mensukseskan manajerku? Kumohon! Aku berjanji tak akan lama! Jadi tolonglah aku!", seru Mayu sambil menangis memohon, "Huh, keinginan kita sama karena kita adalah orang yang sama! Makanya itu, biar aku saja yang melakukannya! Biar kamu istirahat dengan tenang di sini!1", balas gadis itu sambil mengayunkan kapak ke kepala Mayu. Hanya 1 mili lagi saja Mayu sudah mati, tapi gadis itu sengaja menghentikannya. Mayu melihat gadis itu, dia mengangkat kapaknya kembali. Mayu bertanya, "A... ada apa? Ke, kenapa kamu berhenti?". Gadis itu menatap Mayu dengan tajam, Mayu menjadi kembali ketakutan. "Kalau aku yang melakukannya, semuanya pasti tidak suka, dan kalau kupikir balik...", balas gadis itu, tapi dia tidak mau meneruskan ucapannya. Mayupun ikut diam, Mayu merasa bersalah setelah mendengar itu. Mayu selalu berpikir bahwa, 'tidak ada satupun orang yang terluka karena aku, semuanya pasti menyukai aku'. Tapi sekarang Mayu sadar, ia sudah melukai banyak orang. Mayu berdiri dan mengambil boneka kecil yang selalu ada di kantung rok Mayu. "I...ini untukmu, aku minta maaf sudah melukaimu... aku sudah menyadari, aku sangat berdosa... dulu aku merasa membenci ayah dan membuatmu bangkit. Tapi akhirnya aku tahu, kamu tidak ingin terlahir sepertiku!", kata Mayu sambil menyerahkan boneka itu. Kapak yang dipegang gadis itu jatuh, gadis itu meneteskan air matanya yang tidak diperlihatkan sama sekali tadi. Mayu menjadi heran, boneka yang ia berikan tiba-tiba hilang seperti debu yang ditiup. "Hahaha, aku tak pernah mengira jalan ceritanya menjadi begini... Akulah Mayu, dirimu. Aku terlahir karena rasa dendammu pada ayah yang sudah membuangmu. Tapi aku tak menyesal terlahir sebagai dirimu, karena aku juga menyayangi manajer... dan kamu. Sebenarnya aku tak ingin membunuhmu, tapi demdammu yang mengarahkanku. Makanya aku menghentikan ayunan kapakku mati-matian. Terima kasih sudah membangkitkanku, aku tak akan muncul lagi..." kata gadis itu sambil mengambil pisau kecil di kantung rok-nya sambil mengarahkan ke jantungnya. Mata Mayu terbelalak, Mayu tidak mau gadis itu mati, tapi kaki Mayu masih terasa dipegang erat oleh makhluk aneh. "Tu....Tunggu! Tunggu!!!", seru Mayu sambil mengarahkan tangannya ke arah gadis yang sebentar lagi mati itu. "Selamat tinggal... diriku...", kata gadis itu lagi sambil tersenyum ramah. "Tidak! Jangaan!!", seru Mayu lagi, Mayu berusaha lari, tapi sudah terlambat pisau itu sudah menancap ke jantung gadis itu, gadis itu kembali tersenyum ke arah Mayu dan perlahan mendekat. Mayu menangis jadi-jadian, Mayu sangat menyesal. "Sudahlah... sekarang, kamu tak punya beban lagi, kan... berbahagialah...", kata gadis itu sambil menolong Mayu berdiri. Mayu segera memeluk gadis itu, "Walaupun berpisah, tetaplah ada dalam diriku... aku akan sangat merindukanmu...", kata Mayu sambil menangis dan tetap memeluk gadis itu. "Terima kasih sudah menerimaku... Mayu...", balas gadis itu sambil tetap tersenyum. Perlahan gadis itu menghilang dan terus menghilang. Hingga pada akhirnya, gadis itu hilang seluruhnya. Mayu menangis semakin menjadi-jadi, Mayu tak rela salah satu sisinya pergi. Sekarang Mayu sudah tidak dapat lagi berbuat jahat.
"Mayu! Mayu! Ah!", panggil seseorang. Mayu mulai membuka matanya, dia melihat sekelilingnya. "Ini di mana?", tanya Mayu. "Ini di rumah sakit... syukurlah kamu sudah sadar...", jawab seseorang. Mayu melihat ke arah suara yang menjawabnya tadi. "Ma...manajer!", seru Mayu sambil bangun dari tempat tidurnya. "Iya... ini aku...", balas manajer sambil memeluk Mayu dengan lembut. Mayu jadi teringat akan sisi gelapnya, "Walaupun aku berbuat jahat, dia tak mungkin bisa kembali...". Waktu terus berputar dan tak mungkin bisa kembali... Semua yang sudah terjadi tak mungkin kembali selamanya meskipun satu kali saja. Oleh karena itu, penyesalan selalu datang terlambat untuk selamanya...

Caramel Girl-the dark side of the soul that has been cracked
*END*

Sabtu, 24 November 2012

Cacao Pop

     Sudah 3 hari setelah hari sial itu, dan yang kupahami sekarang adalah... waktu benar-benar terulangi. Seharusnya aku bisa bebas dari kerja model, tapi gara-gara Aru-kun datang, segalanya jadi kacau balau, deh! Aru-kun betul-betul bawa sial. Hari ini ada pekerjaan menjadi aktris pengganti. Huh... sudah gitu mana lawan mainnya Aru-kun lagi. Apalagi dramanya rate Ecchi!! Aku nggak mau!! "Momo-chan, dramanya sudah mau dimulai, hari ini gladi resik, lho!", panggil Aru-kun sambil memukulkan naskah skenario yang digulung ke kepalaku. Jelas saja aku mengamuk dan menendang Aru-kun, nggak salah, kan?
     Huh, gladi resik hari ini harus dianggap seperti saat drama betulan, habis di-shoot kamera, sih. Saat peran di mana aku menyatakan cinta pada Aru-kun adalah penyesalan seumur hidupku. "Aku suka padamu Hiro-kun.... sudah lama aku menyukaimu, tapi aku malu mengungkapkannya...", kataku, tapi ini dalam drama, ini skenario. Namaku adalah Motosuki Aruha, Aru-kun adalah Hiro Kagawa. "Aruha-san, sebenarnya aku juga... sejak lama suka padamu, tapi kukira kamu sudah mengerti", balas Hiro-kun alias Aru-kun. Di skenario berikutnya, aku menangis senang karena diterima, aku pakai obat air mata, deh... "Maukah kamu menjadi istriku Aruha-san?", tanya Hiro-kun. Aku terkejut, itu tak ada di skenario! Aru-kun hanya mengarang-ngarang cerita itu sendiri! Gi, gimana, nih! Produser juga nggak ada! Akhirnya aku kebingungan dan terus diam. Sementara Aru-kun mendekatiku sambil menyentuh pipiku. "Heii, Aru-kun! Mana ada skenario beginian hah!!?", bisikku dengan kesal. "Sst... kamu harus menghayati tiap peran dalam drama, kalau begini kamu tak perlu pakai obat air mata, kan!", balas Aru-kun dengan berbisik juga. Tapi aku tetap tak mau, aku menolak dengan keras dan membantah berkali-kali. Sampai akhirnya Aru-kun memelukku dengan erat sampai aku tak bisa bergerak. "Aruha-san, kalau kamu menyukaiku setulus hati, mengapa kamu tak mau ada di dekatku?", tanya Aru-kun dengan penuh penghayatan. "Ka, karena Hiro-kun terlalu cepat berkata ingin menikah, aku jadi gugup, kan!", balasku sambil menjauh sedikit-sedikit dari Aru-kun. Aru-kun kembali mendekatiku dengan cepat dan menggendongku ke kamar untuk Shoot drama. "Di sini kita hanya berduaan, kan... jangan malu, ya...", katanya lagi sambil membaringkan aku di tempat tidur. "Aru-kun, ini bagian akhir cerita!", bisikku lagi. "Lewatkan saja bagian membosankan itu oke... bagian klimaks adalah adegan yang paling seru.", balasnya sambil menyentuh pipiku lagi. "Aruha-san, di mana kamu membeli baju gothic yang manis ini? Sepertinya aku terpesona melihatnya...", kata Hiro-kun  sambil memegang ujung rokku. "Ah, baju ini.... rahasia, dong! Hiro-kun nggak mungkin membeli ini, kan. Hahaha!", balasku sesuai skenario. "Ah, kamu benar, ya Aruha-san! Hahaha!! Aku kan bukan lolicon!", balas Hiro-kun sambil tertawa. Dalam hatiku aku berpikir 'Bukan Lolicon Apanya?!' saking kesalnya diriku padanya. "Aruha-san, boleh aku menciummu?", tanya Hiro-kun sambil menaikkan tubuhnya di atasku. Spontan aku berteriak, "Hyaaaaaaaa!!!!". Semuanya langsung melongo, mereka yang tadi menikmati drama ini (dasar mesum!) menjadi tercengang karena aku berteriak, termasuk Aru-kun. "Huh, sudah! Aku berhenti dari drama ini! Jadi, hush hush! Menyingkirlah Aru-kun mesum!", kataku dengan kesal sekali. "Tak bisa begitu, dong! Dramanya harus selesai sekarang! Kamu mau diganti siapa? Kamu mau aku sama cewek lain?", tanya Aru-kun sambil mencubit pipiku. "Eh, eeh! Biar saja, kok! Aku nggak peduli!", seruku sambil memukul tangan Aru-kun yang mencubitku. "Kalau kamu berhenti aku juga berhenti! Kenapa kamu nggak mengerti perasaanku?!", balas Aru-kun dengan muka agak kesal. Tiba-tiba jantungku berdebar dengan kencang, "A... apa yang harus kupahami?", tanyaku dengan muka sok cuek. "Aku... sebenarnya sudah menyukaimu sejak pertama bertemu! Tapi kenapa kamu masih begini juga!", seru Aru-kun. Mukaku menjadi merah padam dan aku menjadi gemetaran. Aru-kun menutup mataku dengan tangannya lalu menciumku dengan paksa. "Aru-kun... Aru-kun... ternyata... punya sifat liar begini, ya... baiklah...", pikirku sambil menikmati ciuman dari Aru-kun. Setelah beberapa menit diam Aru-kun melepaskan tangannya dan mendekati telingaku. "Momo-chan, maukah kamu menjadi pacarku?", bisiknya dengan pelan sekali. Aku hanya diam sambil memiringkan kepala ke arah yang berlawana dengan Aru-kun. Aru-kun melurusan kepalaku dan menggigit leherku dengan keras. "Uwaaaaaaaa!!!", jeritku karena kesakitan, dan spontan aku menampar Aru-kun. Gi, gimana, nih...
Bersambung...

Story of Fantasy&Love

     Matahari pagi yang bersinar, langit biru muda yang indah, burung-burung yang riang berkicau... semuanya karena kehebatan Tuhan. Dan berkat-Nya aku ditunjukkan seseorang yang tanpa kebetulan menjadi tetanggaku dan sekelas denganku. Apa yang kuinginkan terkabul, kecuali satu... yaitu... keberanianku untuk menyapanya!!! Huweee!! Kalau begini gimana caranya mau akrab? Sementara dia populer banget, aku yang murid baru mana kenal orang-orang sekitar!? Makanya, di sekolah aku memunculkan sifat YANDERE-ku yang kalau di rumah berubah menjadi TSUNDERE. Jadi intinya, kenyataan sudah kubalik... nggak mungkin bisa menyapa orang. Lagipula aku adalah anak super pendiam yang masih diasingkan oleh anak-anak lain, setiap pagi aku ada di sekolah paling pagi, aku jadi terus menerus sendirian. Tapi, karena tidak menyolok, tidak ada yang mengenalku, termasuk guru dan kepala sekolah, dasar gila! Masa murid sendiri yang namanya gampang, "Inori Yuzuri", hiiih!!!!! Haah... apa aku segitu tidak menyoloknya?

    Bulan Desember tanggal 19... Ah... sebentar lagi natal, ya... walaupun sudah 3 bulan lewat, aku tetap sendiri, ya... Tapi di tengah kemurunganku ada seseorang yang memanggilku, "Inori!". Aku sangat kaget hingga menoleh, dan aku melihat seorang laki-laki yang memanggil nama kecilku. "Eh... Moriyama-kun...", pikirku dengan muka yang memerah seperti tomat. "Ya, kamu! Ayo, jangan menunduk, lihat mata orang yang ngajak bicara!", kata laki-laki itu sambil menyentuh daguku dan menaikkan wajahku. Mukaku semakin memerah melihatnya. "A, anu... ada a, apa...?", tanyaku dengan gagap dan malu-malu. "Hm... ikut aku, deh!", katanya sambil menggandeng tanganku dan menngajakku lari. "Namaku Tsuhiro Moriyama, kalau kamu kenal aku kamu juga pasti kenal kakakku, Tsuhiro Tatsuyo," katanya sambil tersenyum kepadaku. Padahal aku suka pada Tatsuyo, tapi kenapa aku malah berdebar hingga mau meledak di depan Moriyama-kun?? Apakah hatiku berbeda dengan pikiranku? Atau mungkin karena mereka memang kembar jadi mirip? Aaaakh!! Hatiku jadi kacau balau! Lupakan saja, deh! Oh, ya... kalau kupikir-pikir lagi, Moriyama-kun nggak populer dan sama sekali tak ada yang pernah dengar namanya, jadi dia juga tak pernah digosipkan... Apakah benar... Moriyama-kun juga nggak menyolok? Padahal adik kembarnya Tatsuya-kun. "Moriyama-kun... punya berapa teman?", tanyaku penasaran. "Yah... gimana, ya... mungkin belum ada?", jawabnya dengan muka merah. Aku tertawa kecil karena merasa aneh. "Apakah kakakmu mau menemani Moriyama-kun?", tanyaku lagi. "Tidak, akhir-akhir ini kakak berkata kalau dia sedang menyukai seseorang yang katanya tidak akan disukai orang lain...", jawabnya lagi sambil menghentikan langkahnya di depan sebuah pintu yang cukup tinggi. "Eh, memangnya Moriyama-kun nggak suka seseorang?", tanyaku untuk ketiga kalinya. "Ya iya, dong! Menginjak masa remaja rasa suka pasti muncul!", jawabnya dengan malu-malu. "Eh... tapi ngomong-ngomong... pintu apa ini?", tanyaku lagi. "Pintu ini... ng, masuk saja, deh!", jawabnya sambil terus menggandeng tanganku. "Eh, tapi kalau ada bahaya gimana?", tanyaku dengan ragu dan takut. "Tenang saja, kita kan bersama!", jawabnya sambil tersenyum menyemangati. "Baiklah!", jawabku dengan senyum tulus, Moriyama-kun memang sangat baik... "Yak, begitu turun kita lompat!", kata Moriyama-kun sambil mulai membuka pintu. Aku penasaran pada kata "turun" dan "lompat". Sehingga aku bertanya, "A, apa maksudmu?!". "Karena hanya aku yang tahu isi pintu ini, jadi ikutilah perintahku!", jawabnya sambil menarik tanganku dan benar benar jatuh. Aku semakin ketakutan, tapi Moriyama-kun mengerti dan dia memelukku. "Moriyama-kun...", pikirku saat itu, jantungku tak berhenti berdebar. Hingga akhirnya kami sampai di bawah. Aku yang tadi ketakutan menjadi lega sekali, tapi anehnya, bajuku langsung berganti, tapi Moriyama-kun tidak. "A, ada apa ini!!?", seruku sambil melihat sekeliling. "Ini adalah dunia virtual 2 dimensi, Guilty Crown, kita akan bisa kembali kalau sudah mendapatkan mahkota kerajaan Guilty. Sebelum mendapatkannya, kita tak bisa kembali. Dan sekali kamu mati di sini asalkan masih punya skill dan level yang melebihi 5, maka kamu akan bangkit, tapi level atau skill-mu akan berkurang. Tapi jika tidak ada sisa skill dan levelmu belum mencapai 5 saat mati, maka kamu takkan bisa kembali ke dunia nyata. Kalau aku, sih, beda! Kan aku yang pegang kuncinya!", jawab Moriyama-kun panjang lebar. "A, apaan!? Kamu nggak bilang kalau jadi kayak gini!!", seruku dalam hati, aku tak ingin image-ku rusak di depan orang, terutama cowok. "Yak, GAME START!!". "Eh, apa ini? Pilih tempat pertama?", tanyaku karena ada layar besar di depan kami. "Yah... maksudnya kamu disuruh memilih tempat untuk dihampiri pertama kali. Bisa beli tapi uang kosong...", kata Moriyama-kun. Aku semakin kecewa. Game apaan, niiiih!!! Game sial sepanjang sejarah!!!

Bersambung <><><><><>
Siiplah! Tunggu, ya, lanjutannya!

Jumat, 23 November 2012

The Girl Who Cursed by the Church



      Esok harinya, aku melihat keluar jendela, salju sudah mulai turun. Aku ingin bermain keluar seperti anak-anak lainnya, tapi jika tidak menyentuh gereja ini maka aku akan sesak nafas dan ambruk di tengah jalan. "Murasama... cepatlah datang...", pikirku sambil menyentuh jendela dengan pelan. Aku merasa sedikit kesepian, aku ingin Murasama cepat datang untuk berbicara denganku.
    Berjam-jam aku menunggunya hingga sore hari, tapi Murasama tidak datang juga. Apakah Murasama lupa padaku? Kembali aku menunggunya dan saat kulihat jam sekarang sudah jam 12 malam, sebentar lagi esok hari. Akhirnya aku memutuskan untuk menyerah dan kembali bekerja sendiri di sini. Tapi tiba-tiba pintu terbuka. "Ryu... Ryuko...", katanya sambil menepuk pundakku. "Oh... Murasama...",jawabku sambil menoleh kecil. "Maafkan aku Ryuko! Aku kira jam temunya pukul 12 seperti kemarin...", kata Murasama dengan ragu. "Baiklah... maaf aku sudah memaksamu kemari, kamu boleh pulang, kok," balasku putus asa. "Ti, tidak! Ryuko... kamu lupa kita sudah berteman? Bukannya kemarin kamu yang menyuruhku kemari?!", seru Murasama sambil menahan aku yang ingin keluar dari Galeri tempat temu. "Ya, ya! Aku mengajakmu dan ingin kita berteman! Tapi kamu harus bisa menjaga perasaan orang lain, dong! Apa kamu kira seorang teman bisa selalu bersabar untuk temannya yang tidak tahu diri?! Cukup sudah! Kamu nggak ada artinya di depanku! Kamu bukan siapa-siapa bagiku! Seharusnya kamu juga terkutuk agar tahu rasanya penderitaanku yang seperti ini!! Aku benci kamu!!!", bentakku dengan keras. Gara-gara Murasama hatiku jadi kacau! Aku menyesal sudah mengenal Murasama. "Ryuko... kamu kira aku adalah orang yang sempura yang bisa menjinakkan kamu? Itu mustahil! Tapi walaupun begitu, aku tetap sayang padamu... ternyata, surat yang kamu berikan kemarin tidak majur... apa yang kuinginkan tidak bisa terkabulkan!", kata Murasama dengan nada berat. "Memangnya apa yang kamu tulis di sana?!", seruku lagi dengan nada sombong. "Aku ingin kita menjadi sahabat sejati selamanya!", jawabnya dengan lirih, yang kutahu... hati Murasama juga sakit sepertiku. "Maafkan aku Murasama! Aku bukan sahabat yang sesuai denganmu! Kita berbeda! Sangat berbeda! Aku tak bisa keluar dari tempat ini... tempat ini adalah sumber jiwaku. Kalau aku keluar dari Kyoukai ga Hinan ini aku akan sesak nafas, kemungkinan aku juga akan mati...", kataku sambil mendekati Murasama. Murasama yang melihatku mulai mendekat segera mempercepat langkahnya dan memelukku dengan erat. "Ryuko, aku juga minta maaf... aku sudah tak menepati janjiku dan malah berkata kasar padamu... aku menyesal... tapi satu hal yang tak kusesali... bertemu denganmu...", kata Murasama sambil memelukku. Aku yang berada dalam pelukan Murasama secara tidak sadar meneteskan air mata yang mulai membasahi pipiku. Aku ingin melepas Murasama agar tak membebaninya,  tapi karena keputusankulah Murasama menjadi terluka. "Murasama, aku minta maaf! Sangat minta maaf! Maaf karena aku sudah membuatmu terluka... aku juga menyesal...", kataku dengan pelan sambil menangis. Murasama tersenyum dan mengelus kepalaku, lalu ia berkata kepadaku, "Aku sudah melepaskan dendamku pada gadis itu. Yang kuinginkan sekarang adalah menjadi temanmu... jadi, maukah kamu menjadi temanku, Ryuko?". Aku hanya mengangguk pelan.
  Selanjutnya, yang akan menantiku pasti adalah hal yang indah... asalkan, ada Murasama di sisiku...
Aku pasti baik-baik saja! Jadi tenang saja dan jangan pernah ragu menghadapi masa depan, karena dari sanalah muncul kebaikan yang menantimu...
Bersambung...
Gomen bentar! >_< Aku capek, siih!!

I Talk True! ~Orange sweet blush~

Namaku Chinatsu Kotomiyu, anak SMP kelas 3, sama seperti  Hinata, tapi aku adalah ketua osis, Hinata bukan. Dan satu lagi, aku lebih populer karena aku seorang anggota osis. Hukum di sekolah ini adalah, "Anggota osis harus dihormati dan disegani, anggota osis adalah anggota yang populernya takkan kalah!". Huh, jadi anggota osis itu merepotkan sekali! Harus ini itu... Huuh! Sekolah ini jarang meliburkan anggota osis dan justru meliburkan para guru! Iiiiiiiiiikh!!!! Kesaal!!! Sekali-sekali aku ingin kabur! Tapi aku takut mempermalikan sekolah ini! Hiks hiks hiks... tolong aku... ah!! Hinata! Aku mau minta Hinata menggantikanku setiap hari Senin sampai Kamis... jadi aku cuma Jum'at sampai Minggu! Berhasil, saatnya untuk minta tolong pada Hinata...
 Aku segera berlari ke arah Hinata dan menyapanya, "Hai, Hina-tan!". "Koto-sama?!", seru Hinata yang terkejut. Aku hanya membalas dengan senyuman. "A, ada apa?", tanya Hinata sambil mundur satu langkah. "Hahaha! Aku hanya ingin kamu menggantikan aku setiap Senin sampai Kamis. Jangan ragu-ragu gitu dong! Yak, sudah, kok! Itu saja! Makasih Hina~", kataku sambil menyerahkan dokumen-dokumen osis yang kubawa tadi. "Eh! Tunggu! Koto-sama!!", seru Hinata aku pura-pura tak dengar, aku justru berlari menjauh dengan cepat. "Koto-sama sialan!", pikir Hinata dengan kesal. Hahaha... memangnya aku begitu, ya? Yah... biar saja, deh! Sekarang aku bisa santai! Yap, biar saja Hinata menjadi anggota osis sementara, biarlah itu terjadi, ya, kan! Siip!! Yak... yang kukatakan ini benar, kan? Tentu saja! Aku juga mengatakan hal yang benar pada Hinata! Tapi Hinata yang kesal datang menghampiriku dan berteriak, "Koto-sama!!". Dia berteriak dengan keras dan nada kesal. "A, ada apa?", tanyaku sambil menoleh ke arahnya. "Ini kukembalikan! Aku nggak mau!!", jawab Hinata sambil mengembalikan dokumen-dokumen osis yang kuberi tadi. "Eh? Kenapa? Bukannya Hinata mau menjadi paling populer? Ketua osis paling populer, lho!", kataku sambil menggenggam tangan Hinata yang kecil. "Soalnya... aku... aku nggak pintar juga nggak tanggung jawab! Aku berbeda dengan Koto-sama! Aku ingin populer tanpa bantuan jabatan-jabatan aneh seperti ini!", jawab Hinata sambil melepaskan tangannya dan berjalan menjauh. Aku melihat sisi kesepian dalam diri Hinata, aku berjalan mendekati Hinata dan berkata, "Hina-tan... tak ada yang kurang darimu menurutku! Yang kurang hanyalah rasa percaya diri akan keinginanmu sendiri. Jadi Hina-tan... percayalah pada dirimu dan jangan pernah menyerah! Aku akan mendukungmu! Hina-tan yang percaya diri dan tak kenal menyerah... itulah Hina-tan yang kukenal dan kupercaya selama ini!". Hinata yang mendengarnya mulai menangis, "Koto-sama... maafkan aku, aku berbeda dari yang Koto-sama pikirkan, diriku yang selama ini selalu merasa tidak punya tekad yang merantai hidupku... tak ada apapun yang mewarnai diriku yang selama ini kesepian. Jadi, aku tak mungkin jadi ketua osis seperti yang Koto-sama katakan!", balas Hina sambil terus meneteskan air mata. "Meskipun begitu... aku tidak akan menyerah. Aku ingin Hina-tan menjadi sahabatku seperti layaknya Takara-kun. Kamu tak peduli dia lelaki atau perempuan, apa rahasianya selama ini, dan asal-usulnya. Aku ingin menjadi orang yang selalu ada di sisimu. Karena aku adalah ketua osis!", kataku lagi dengan tegas. Hinata tetap tidak menoleh ke arahku melainkan pergi menjauh. Tapi harapanku tidak akan runtuh, aku pasti akan membuka hati Hinata untuk mengenal tujan hidupnya. Aku tidak akan menyerah pada Hinata! Ini juga untuk aku bisa istirahat, sih... hehehe...
Bersambung...

The Girl Who Cursed by the Curch


  Akhirnya aku mulai kesal melihat kelakuannya yang sangat seenaknya. Aku segera mendekati dan menampar tangannya yang sedang membolak-balik buku manteraku yang lumayan kecil. Bukunya melayang dan segera kutangkap, lalu perempuan itu terjatuh. Karena senang melihatnya begitu aku tersenyum sinis dan menyindirnya, "Idih, lemah banget, sih! Padahal aku hanya memukul pelan. Artinya kamu memang payah! Sudahlah, orang payah cepat katakan permohonanmu yang tidak keren itu! Dasar lambat!". Gadis itu mulai kesal dan berlinangan air mata. "Buatlah aku menjadi orang terkuat di alam semesta!", serunya sambil berdiri. "Baiklah, tapi jangan lupa akan tumbalnya. Semakin susah permohonan semakin berat tumbal yang harus kau bawa!", jawabku sambil membelakangi dia. Dia takkan kuat melebihi tuanku dan aku. Aku hanya memberinya sebuah kotak tua milikku yang diberikan oleh orang-orang lalu yang sudah memberikan tumbal mereka. Aku berkata pada gadis itu, "Kamu, katakanlah satu permohonanmu di kotak ini pada jam 12 malam, setelah itu ucapkan mantera yang kuberikan ini. Dengan begitu permohonanmu akan terkabul. "Baiklah, aku mengerti sekarang. Terima kasih!", balasnya sambil merebut kotak itu dan berjalan keluar. "Tekad yang kuat dan keinginan yang mendalam adalah kunci dari keberhasilan, iya kan...".
   Jam 12 malampun akhirnya tiba. Gadis itu benar-benar melakukan apa yang kuperintahkan. "Fuh, dasar payah. Aku sengaja tak bilang letaknya ada di mana karena kupikir kau tahu. Bego!", pikirku sambil terus memandang ke arah bola kaca besar yang merekam semua yang permohonannya dikabulkan. "Hu-uh, ya sudahlah! Paling-paling manteranya kehilangan setengah dari satu khasiatnya. Biar, deh... apa urusanku? Tonton saja...", lanjutku sambil mengambil satu buku pengetahuan dari rak buku rahasia milik gereja ini. Hanya pengurus saja yang tahu dan boleh membaca buku-buku di rak ini. "Yap, benar sekali, efeknya akan hilang setengah. Jadi...". Tok tok tok! "Pe... permisi... boleh  aku masuk ke dalam?", "Ya, tentu saja, silakan masuk." "Ah, ma... maaf mengganggu di tengah malam begini... so, so... soalnya a, aku... aku ka... kabur.... kabur dari ru...rumah..." jelas gadis itu dengan gagap dan ragu-ragu. "Baiklah! Apa masalahmu?", tanyaku sambil menyatakan seperti menantang. Gadis itu tambah takut, tubuhnya terus menerus gemetar, aku yang melihatnya merasa itu tidak seru.
"A... aku... aku ingin bisa... menjadi kuat dan mengalahkan gadis yang disukai oleh Hiroki Shibusawa! Dia membuat Shibusawa-kun menjadi terluka sebelum aku...", kata gadis itu dengan mantap dan keras. "Yah... aku mengerti. Sebutkan namamu, aku pasti bisa membantumu!", kataku sambil membelai kepala anak itu. "Namaku Murasama Konno, aku suka pada Shibusawa-kun... tapi saat aku ingin menyatakan perasaanku dia sudah tidak ada! Aku tahu, itu pasti perbuatan gadis itu! Harumi Inori!", jawab gadis itu sambil menangis. Aku menghela nafas dan mengambil sabuah amplop dan satu lembar kertas beserta penanya. "Tulislah apa yang kamu inginkan di kertas ini, aku takkan melihatnya! Sesudah menulis, masukkan kertas itu ke dalam amplop ini lalu genggam sampai kamu tidur, kemanapun kamu mau pergi bawalah kertas ini dalam tempat yang kau ketahui sendiri saja!", kataku sambil menyerahkan pena, kertas, dan amplop itu. "Eh? Memang apa yang akan terjadi?", tanya gadis itu sambil menggenggam pena yang kuberikan. "Benda yang kuberikan punya kekuatan magis, jadi kalau ada permohonan, tulis di kertas itu. Dan yang akan dikabulkan hanya satu permohonan," jelasku sambil tersenyum. Gadis itu ikut tersenyum, "Terima kasih banyak... aku akan selalu mengingat kebaikanmu...", katanya sambil memelukku. Aku yang larut dalam kehangatan pelukannya tak mungkin bisa mengambil harga dirinya. Ini adalah pertama kalinya seumur hidupku untuk merasakan kehangatan pelukan seseorang. "Mulai sekarang, bagiku kau adalah pengurus gereja ini juga... karena di kitab suci pasal 9999 ayat 7000 berkata, "Siapa yang sudah melembutkan hati para penjaga, maka ia adalah pengurus gereja ini. Dan mulai sekarang ia terkutuk dan takkan lolos dari kutukan itu.". Aku menyuruhnya untuk segera menuliskan permohonannya dan membaca mantera yang sudah ada. Aku akan tulus memberimu segalanya... mulai sekarang kita adalah sahabat sejati. "Jangan lupa datang, ya!", seruku pada Murasama sambil memberinya surat yang sudah ditulisnya tadi. "Baiklah, aku nggak akan lupa! Besok aku pasti datang, Ryuko-chan! Sampai besok!", balasnya sambil membuka pintu yang paling berat sepanjang sejarah. Setelah Murasama jauh di luar, aku tertawa kecil, "Terima kasih sudah membuatku bahagia, kuambil kelemahanmu untuk selamanya!".
Bersambung....

Gomenne sebentar, mau lanjut cerita lain tak? Bahasanya harus formal sih... -_-

Sabtu, 17 November 2012

Cacao Pop


           "SMS... ah, nggak jadi, deh! Ada nomor e-mailnya, kirim e-mail saja, deh... biar nggak boros pulsa," pikirku lagi sambil membuka kirim e-mail. "Kirim ke 097-XOX-XX... yup!" lanjutku. Piip...piiiip! "Wah, dibalas!", kataku sambil buru-buru membuka ponselku. "Apa ini... eh...", mataku langsung terbelalak karena melihatnya, e-mail itu sangat mengejutkanku dan membuatku sedikit gemetar... apakah e-mail yang kukirim tadi salah? Aku segera mematikan ponselku dan bergegas keluar kamar. Saat aku merasa panik, aku selalu melangkah ke dapur atau kamar orangtuaku. Tapi yang kulihat di depanku bukanlah rumahku, melainkan ini adalah... "Siapa kau? Beraninya kau masuk ke sini!", seru seseorang yang entah siapa secara tiba-tiba. Suara yang sangat berat itu mendekatiku dan mendorongku hingga jatuh entah ke mana. "Apakah ini mimpi?", pikirku sambil mulai memejamkan mata secara perlahan-lahan. Dan bebarapa saat kemudian aku membuka mata, yang berada di depanku adalah, saat-saat festival musim panas berlangsung. Aku mencoba mencubit pipiku sendiri dan terasa sangat sakit. Aku melihat aku sudah memakai yukata yang kupakai di festival musim panas yang lalu. Aku bingung sehingga menoleh ke belakang, kejadian seperti festival musim panas itu, kenangan yang manis sekaligus pahit... rasa ini memang seperti coklat... aku memutuskan, hari ini aku ingin penyesalan tidak terulang lagi. Segera aku mengalihkan pandanganku dan terus berjalan, tanpa kusadari air mataku mulai mengalir. Aku menghentikan langkahku dan terus berdiam diri. "Apakah dengan begini aku akan tidak menyesal lagi?", bisikku pada diriku sendiri <?>. "Apakah aku bebas dari penyesalan dengan cara seperti ini?", tangisku sambil menatap ke arah matahari yang mulai terbenam. Aku terus menangis sambil menutupi wajahku, aku tak tahu apa yang harus kulakukan. "Ada apa? Kok menangis?", tanya seseorang yang kelihatannya laki-laki dari suaranya. Aku segera menoleh dan melihat kalau orang itu adalah perempuan. "Ka, kakak sepupu Yume?", kataku sambil mengusap air mataku yang sudah berhenti mengalir. "Yup, jarang-jarang kita bisa bertemu begini, ya... aku senang bisa bertemu adik sepupuku tersayang!", kata kak Yume sambil mengelus kepalaku.  "Kak Yume, aku mau pulang...", kataku sambil melanjutkan langkahku karena merasa putus asa. Kak Yume pasti bingung, jadi kuputuskan untuk tidak menoleh kembali ke arahnya. Tapi aku yakin Kak Yume akan menginap malam ini di rumahku. Entah kenapa aku merasa sangat sedih dan sakit hati.
       Di rumah kediamanku yang tenang, sunyi, dan sepi, aku hanya tinggal sendiri. Aku mengerti, waktu sekarang terulangi menjadi waktu itu. Aku hanya bisa merenung, tak ada yang bisa kulakukan. Ponsel pun tak ada lagi padaku. Aku ingin membelinya dan aku memasukkan tanganku ke kantung bajuku yang bukan yukata. "Eh?!", seruku yang telah mendapati suatu benda yang seperti ponselku di kantung bajuku. Aku segera mengambilnya, dan ternyata itu adalah ponselku! "Me, mengapa bisa??", pikirku sambil membuka ponselku. "E-mail kedua orang itu juga ada...", pikirku lagi, wajahku semakin memerah. "A, apa yang sebenarnya terjadi?", pikirku lagi sambil menggenggam ponsel itu erat-erat. "Momo-chan!" seru seseorang sambil memencet bel rumahku. Aku berpikir itu adalah Kak Yume, aku tidak ingin dia kemari, tapi... Akhirnya aku membuka pintu rumahku dan mempersilahkannya masuk, tapi ternyata bukan Kak Yume melainkan Aru-kun, aku pura-pura tak tahu dan bertanya, "Maaf, siapa, ya?". Dia hanya tertawa dan menepuk kepalaku, lalu Aru-kun menjawab, "Namaku Aruto, panggil saja Aru-kun!". "A...Aruto-san saja, deh...", balasku sambil memalingkan pandangan karena malu melihat senyumnya yang cemerlang. "Nggak boleh! Aru-kun!", balasnya sambil menyentuh kedua pipiku dan mengarahkan wajahku ke atas. Mukaku langsung memerah padam, "Uwa! Uwaaaaaaaa!!!", seruku dalam hati karena panik, melihat muka Aru-kun dari dekat memang membuatku berdebar. Aru-kun membisikkan padaku secara tiba-tiba disaat aku panik, karena kaget Aru-kun mendekat ke telingaku aku langsung menoleh secara spontan. Tanpa sengaja, bibir kamu jadi bersentuhan secara tidak disengaja sama sekali!!! Mukaku memerah secara langsung, tapi Aru-kun malah diam saja dan tak terlihat panik, aku merasa heran akan hal itu. "Sadarlah Aru-kuuuuuuuun!!!!!", tangisku dalam hati, rasanya jadi lemas karena melihat Aru-kun yang tenang-tenang saja. "Apa yang kalian lakukan di depan... eh? Mo, Momo-chan?", kata seseorang lagi yang muncul mendadak di depan rumahku yang sunyi ini. Alangkah kagetnya begitu tahu bahwa orang itu adalah Kak Yume. Aku segera memukul Aru-kun, tapi ternyata Aru-kun pingsan dengan muka yang sangat merah dari tadi! Menyebalkaan!!! Kubunuh kau Aru-kun! "Ka, kak Yume! Ini bukan seperti yang kau lihat! Ka, ka... kami... kami tidak...", kataku dengan gugup. "Lalu siapa cowok rendah itu? Kenapa dia berani menyentuhmu, hah?!", seru Kak Yume sambil menarik kerah baju Aru-kun bagian belakang lalu hendak melemparnya. Aku langsung menghentikannya dan berseru, "Hentikan, kak! Dia adalah kakak dari temanku, dia hanya teman kerja dari ayahku dan ingin berbicara sesuatu!". Demi si sial itu, aku terpaksa melakukannya! Akhirnya Kak Yume percaya dan menyeretnya masuk ke kamarku untuk istirahat sebentar, awalnya aku tak mau Aru-kun ditidurkan di kasurku, aku tak mau bantal dan selimutku jadi korban iler orang ini, tapi nanti kami ketahuan kalau bukan rekan kerja.... BAHAYA! Apa yang akan terjadi dalam keseharianku mulai dari ciuman pertama itu, ya... [HIKS]
#Bersambung#

Yup, cerita ini lanjutan yang itu, jadi gambarnya sama, mohon maklum, ya!
Minori

Minggu, 04 November 2012

The Girl Who Cursed by the Curch

          Esok harinya, aku melihat dari luar jendela, laki-laki itu menyatakan perasaannya pada gadis yang disukainya. Dan diterima. Hahaha! Konyol! Bisa-bisanya dia percaya pada mantra itu, sebenarnya... mantra yang kuberikan kemarin hanya jampi-jampi palsu. Yang asli ada di tanganku. Sebenarnya, gadis yang dia tembak adalah klonku. Yang asli sedang berjalan ke gereja ini. Dia, laki-laki itu akan berkencan dengan klonku dan dia akan... hihihi...
       Beberapa jam kemudian, terjadi kecelakaan di sebuah stasiun. Salah satu korbannya adalah lelaki yang meminta mantra palsu itu padaku. Dia dibawa ke rumah sakit terdekat yang sudah tidak laku, kabarnya, rumah sakit itu berhantu dan dulunya adalah kuburan. Lelaki itu tidak sadar kalau saat dia tidur, ada yang menemaninya. Yaitu, hantu yang sudah lebih dulu menempati rumah sakit itu. Hihihi...
      Beberapa hari setelah hal itu terjadi, gadis asli yang disukainya sampai kemari. Kemarin, ia melakukan perjalanan dari Kyoto sampai kemari. "Aku masuk...", katanya dengan keras sambil membuka pintu terberat sepanjang sejarah. "Silakan...", balasku dengan sinis. Gadis itu mengambil buku di rak yang paling dekat pintu lalu membukanya. "Cih, apaan nih? Buku mantra? Hahaha!! Membosankan!", ejek gadis itu sambil membanting buku mantra yang suci bagiku. Aku heran, mengapa lelaki yang datang kemarin menyukai gadis ini.
Maaf sebentar! Gomenne...
BERSAMBUNG