Saat aku sadar, aku melihat sekelilingku. Hari sudah larut, tapi di luar masih ramai. Aku tak tahu mengapa mereka masih beramai-ramai dan... di mana aku? Apa yang terjadi aku juga tak mengerti... Tiba-tiba saja aku mendengar langkah kaki seseorang. "Eh... siapa?", pikirku saat mendengar langkah kaki yang semakin dekat dengan kamarku. "Mashiro!! Kamu sudah sadar!?", seru seorang anak laki-laki yang banyak keringatnya. "A... apa? Siapa kamu?", kataku dengan pelan. Laki-laki itu mendadak mukanya merah. Entah kesal atau apa. "Kamu hilang ingatan, Mashiro!?", seru laki-laki itu lagi. Dia mendekat dan memegang kedua pundakku. "Ja... jangan sentuh aku!", seruku. Tiba-tiba saja tubuhku mengeluarkan sinar putih yang terang sekali. "Apa ini?", tanya laki-laki itu, ia melepaskan kedua tangannya dengan terkaget-kaget. Entah apa yang terjadi... "Apa maumu datang kemari?", tanyaku. "Hmm... tentu saja untuk menemuimu, Mashiro!", jawabnya. Aku tak mengingat namaku Mashiro, namaku Arisu, kan? Kenapa dia memanggilku Mashiro? "Si... siapa itu Mashiro?", tanyaku dengan gugup. Laki-laki itu membelalakkan matanya. "Bukannya... itu kamu? Mashiro Himeyaru...", jawabnya. "Namaku Arisu. Arisu Lumiere," balasku. Laki-laki itu tiba-tiba menangis. "A... ada apa!? Kamu laki-laki kan! Kenapa menangis!?", seruku. "Aku tidak peduli... bagiku hanya Mashiro tujuanku hidup... tapi sekarang Mashiro yang kukenal sudah tidak ada...", kata laki-laki itu. Aku merasa sedikit kasihan, tapi nanti... "Maaf... aku tak kenal Mashiro-mu... jadi aku tak bisa membantumu...", kataku pelan. Dia menatapku dengan tajam. "Kenapa!? Kenapa kamu bilang begitu!! Padahal kamulah Mashiro!!", serunya. Aku menjadi ketakutan, tubuhku seperti disetrum aliran listrik. "Ma... maafkan aku!! Tapi aku tak tahu siapa Mashiro!", balasku. Aku kesal sekaligus takut, saking kesalnya air mataku juga mengalir. "Ukh...", bisikku. Tanpa disadari ada beberapa not musik mengelilingiku. "Apa ini...", tanya laki-laki itu. Aku hanya melihat ke arah tanganku. "Ini... kekuatan symphony nomor 99... "Music Symphony"...", kataku. Laki-laki itu hanya diam saja. "Lalu symphony milikmu... symphony nomor 81, "Thunder Symphony"...", lanjutku. Laki-laki itu tampak kaget. "Thunder Symphony katamu!? Yang benar saja!! Aku tak ingin punya symphony atau kekuatan macam ini!!", seru laki-laki itu. "Benarkah? Di ingatanmu tertulis... "Aku ingin memiliki Symphony seperti Mashiro!". Begitu kan?", tanyaku sambil memandang laki-laki itu dengan tajam. "Huh... jangan bercanda... mana mungkin aku ingin memiliki symphony!", balasnya sambil membelakangi aku. "Tapi mustahil kau membuangnya, Tuhan sudah mempercayakan bumi pada orang-orang yang diberi symphony. Termasuk KITA!", kataku lagi. Laki-laki itu tak membalasku, ia hanya diam tanpa bicara apa-apa lagi. "...". Akupun hanya diam saja, melihat punggung laki-laki tak punya malu itu. Akhirnya dia putuskan untuk pulang, sepertinya dia telah kalah... Tapi biarlah...
Esoknya, aku keluar dari rumah sakit, tempatku kemarin dirawat. Aku masih tetap memandangi tanganku yang kemarin mengeluarkan Music Symphony. Bisa dibilang aku adalah orang ke 99 yang membuka symphony. Tapi aku penasaran akan suatu hal... mengapa setiap ada orang yang memiliki symphony mereka akan memiliki tanda di tangannya. "Not musik...", pikirku sambil terus berjalan memandangi tanganku yang sudah terlihat simbol bergambar not musik. "Lho? Tanda ini... tengkorak... maksudnya!?", pikirku lagi. Aku semakin pusing melihat dua simbol bertabrakan dalam tubuhku. "Mashiro...Himeyaru... sepertinya ini milikmu...", kataku pelan. Aku sengaja bersandar di pohon besar untuk merenungkan sedikit arti dari simbol-simbol ini. Tiba-tiba saja aku mendengar... 'Mashiro Himeyaru adalah kamu...'. Siapa yang mengatakannya? Di sekelilingku kosong tak berpenghuni... Aku jadi sedikit... takut. "Kubilang kamulah Mashiro... kamu adalah...". "Tidaaaaaak!!!", seruku. Kepalaku terasa pusing sekali hingga aku ambruk. "Mustahil... aku bukan Mashiro! Aku tak mengenalnya!!", pikirku. Aku sudah sangat pusing, dan pusing yang berlebihan itu membuatku stres... Tapi karena keadaanku melemah dan aku sudah jauh dari rumah sakit aku tidak bisa berbuat apa-apa... sebentar lagi aku juga akan pingsan... Jadi aku terus berteriak dalam hati, "Tolong aku... siapapun... kumohon tolong aku!!". Berharap ada seseorang yang menolongku, aku hanya bisa terdiam dengan nafas yang tak beraturan ini. Dan sedikit lagi aku pasti memejamkan mataku... Tapi tiba-tiba saja, ada memori yang berputar dalam kepalaku. "Monster lemah! Pecundang! Kembalilah ke Perancis! Dasar monster lemah!!". "A...apa?! Aku nggak berbuat apa-apa!!". "Iiih... ucapannya kasar... sudah gitu sok pintar lagi! Kamu kan sudah anak emasnya guru-guru dan kepala sekolah... kalau mau ditolong lebih baik sama pak guru aja deehh!!". "Me...menyebalkan... Ingat saja! Suatu saat nanti, kalian pasti kumusnahkan!! Kalian takkan kuampuni!!". Dan saat itu juga... turunlah hujan badai yang menyebabkan banjir besar di kota itu... saat itulah aku mengenal...
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Kamu baik-baik saja?!". Aku segera terbangun dari mimpi buruk itu. "Kamu... yang kemarin...", kataku. "Ya! Tapi aku punya nama... namaku Aikawa Suzuma!". "A... Aikawa...", pikirku. Saat nama marga itu makin kuingat, munculah memori yang menggangguku. "Arisu, perkenalkan. Dia Aikawa Suzuhara. Mulai sekarang kalian pasti bisa berteman. Kau dan Mashiro...ya, kan!". "Iya mama!!". Senyum polos dan tawa anak kecil yang bersinar membuat kecemburuan di hati seseorang. "Namamu Arisu, ya? Nama yang bagus!". "Te... terima kasih!!". "Meskipun nama itu sebenarnya murahan...". Luka kecil yang timbul di hati seorang gadis lama-lama akan membesar dan menimbulkan kerusakan yang parah. Tapi demi ibu, aku akan mencoba berteman dengannya...
.
.
.
.
.
.
"Arisu... rumahmu...". "Ada apa Mashiro? Rumahku ke...". Mata yang mungil dan tenang langsung berubah menjadi mata amarah dendam akan pengkhianatan. "Ibu... ibumu masih di dalam, kan?". "Kak Suzuhara?". "Ka... kalau kamu sudah tahu ibu Arisu di dalam, mengapa kamu tidak menolongnya!?". Air mata yang mengalir dari kedua mata sang gadis pun semakin deras bercucuran. "Arisu! Kamu mau kemana!?". "Aku akan...menolong ibu!!". "Mustahil kau bisa menolongnya, ibumu kan sudah mati!". "Pasti...kebakaran...ini...ulah...kak Suzuma...". "Bicara apa kamu? Gadis kecil yang belagu!". "Arisu... Ja... jangan menangis! Kak Suzuma hanya...". "DIAM!! Seandainya dia nggak ada! Seandainya aku nggak dilahirkan! Seandainya Ibu nggak di rumah! Pasti semua nggak akan begini!!". Gadis di sebelahku hanya mendengar dan syok kembali, sepertinya kata-kataku berlebihan... benar... ini ulah Suzuhara... ulah keluarga Aikawa...
"Aku takkan memaafkan kalian!".
"A... apa? Arisu?", tanya Suzuma. "Keluar dari sini!", kataku dengan pelan. "A... apa!? Suaramu terlalu pelan!", kata Suzuma lagi. "Kubilang, KELUAR DARI SINI! CEPAT!!", seruku dengan kesal. Suzuma berjalan keluar sambil berlari. Dan nafasku kembali tak beraturan. Mengapa memori itu terus menghantuiku? Aku tak tahu... aku akhirnya mengingat siapa itu Mashiro dan siapa diriku sebenarnya... Maaf Mashiro aku...
Aku akan...meminjam tubuhmu sebentar... hingga dendamku berhasil terbalaskan...
+++++++++++++++++
Animania&Mangamania story
Sabtu, 09 Februari 2013
Devil Goddes
Suzuma Ken, gadis remaja berusia 16 tahun, seorang dewi kegelapan. Tempat favoritnya adalah Aoi sōgen, padang rumput di taman perantara yang dingin. Pekerjaannya adalah membunuh manusia bumi yang tidak bisa bersikap baik. "Suzuma-sama, apa Yang Mulia memberimu tugas?", tanya seorang gadis berambut merah muda panjang bernama Shizuka. "Tidak... Yang Mulia memang sangat lambat... Membuatku naik darah saja!", balas Ken. "Ta...tapi Suzuma-sama tidak boleh berbicara lancang begitu!! Kalau Yang Mulia tahu, bisa-bisa Suzuma-sama dibunuh!", tegur Shizuka dengan nada panik. "Terserah saja... mau dibunuh, dicincang, dicabik-cabik, bahkan dikutukpun aku takkan mati...", balas Ken lagi. Shizuka hanya bisa terdiam dan terus memandang punggung Ken saja. "Ada apa, Shizuka?", tanya orang yang tiba-tiba muncul di belakang Ken dan Shizuka. "Kagami-sama?!", seru Shizuka. Ken yang tadinya tenang langsung menoleh ke belakang dengan tatapan tidak enak. "Apa maumu kemari, Kagami!?", tanya Ken dengan nada cetus. "Hah? Payah! Kamu kira ini taman milikmu?!", jawab gadis bernama Kagami itu. "Siapa juga yang bilang ini tamanku?", tanya Ken balik. Kagami jadi merasa semakin panas akan kata-kata Ken. "Beraninya kamu!! Dasar anak badung!!", seru Kagami dengan kesal. "Mau badung atau bodoh tidak masalah... yang penting aku mau kamu keluar dari sini!", seru Ken. Kagami menunduk dan mengarahkan tangannya ke depan. "Beraninya kamu menyuruhku! Dasar anak babi!", kata Kagami yang mulai mengumpulkan bola energi untuk membentuk senjata. "Kenapa harus takut?", kata Ken. "Rupanya kamu...berniat melawanku, ya?", lanjut Ken sambil mengarahkan tangannya ke samping. " Itu tujuanku sejak awal...", jawab Kagami. "Baiklah jika kamu memaksa... aku akan melayanimu...", balas Ken sambil menebaskan senjatanya yang sudah terbentuk. Shizuka melihat senjata Ken yang sudah jadi itu. "I... itukan... Dark Shadow Spear... Apakah Suzuma-sama serius?!", pikir Shizuka. "Shizuka... menjauhlah... atau kau akan kena serang.", kata Ken. Shizuka mengangguk dan berlari menjauh. "Hihihi... kalau Yang Mulia tahu ini... mereka pasti akan kena hukuman berat!".
"Tak kusangka, kamu jadi begini hebat... kalau kamu terus berlatih maka kamu akan jadi Dewa Kematian...", kata Kagami dengan nada sombong. "Jadi tak jadi, keinginanku hanyalah mati...", balas Ken. "Apa?! Jangan bercanda!! Kalau kamu mati, saat dilahirkan kembali kau akan jadi manusia biasa!", balas Kagami. "Itulah keinginanku...", kata Ken. "Huh, konyol! Karena itu menyerahlah padaku!! Dasar wanita tak berguna! Aku pasti membuatmu mati!!", seru Kagami sambil mengarahkan sabitnya ke kepala Ken. "Maaf saja, tapi itu mustahil! Kalau aku bilang mustahil ya mustahil!", balas Ken sambil mengarahkan senjatanya ke jantung Kagami. "Ha... haha... memangnya kenapa bisa mustahil!?", tanya Kagami. "Sejak kecil, ada seseorang yang sengaja menculikku dan memasukkan benih keabadian dalam tubuhku, walaupun disiksa atau dilukai, tapi aku akan segera pulih... oleh karena itulah aku sengaja menerima pekerjaan merepotkan ini. Mau protes?", tanya Ken. "Alasan konyol! 100% konyol! Itu pasti cerita karanganmu!!", seru Kagami yang mulai menggila. "Aku tidak bohong!", balas Ken yang semakin panas. "Mati saja kau!", seru Kagami. "Kubilang mustahil!!", balas Ken. Mereka pun beradu senjata, senjata mereka berbenturan dengan keras. "A... aku nggak akan ka...kalah... dari orang sepertimu!!", kata Kagami. "Huh, aku juga takkan kalah darimu!", balas Ken. Senjata merekapun mulai bergetar karena ditekan dengan tenaga penuh. "Sword Guardian... Change!". "A... apa itu?!", seru Ken yang mundur karena kuatnya cahaya yang keluar dari senjata Kagami. "Dewi, ya...... kelemahanmu telah terbuka...", kata Kagami. "A... apa maksudmu?!", tanya Ken. "Makanya... kamu kusebut dewi bodoh...", balas Kagami dengan sombong. "Hah? Jangan bercanda!! Dragon Wings!!", seru Ken yang juga mulai meng-upgrade (...) senjatanya dan mengeluarkan warna hitam kelam dan aura naga. "U... uukh!!!", seru Kagami yang merasa matanya kemasukan sesuatu. "Benih kegelapan... bukalah jalanmu... tanamkan bibit beracun itu di dalamnya dan... ledakkan!!", seru Ken. Blaaaaaaarrrr!!!...
Kehebohan pun terjadi setelah ledakan itu. Ken terkena ledakan dari benih kegelapan yang ditanam di tubuh Kagami. "Huh... tak kusangka kamu bisa bertahan hidup...", ledek Ken yang tubuhnya penuh luka. "Hahaha... sebelum kau meledakkan benih aneh itu, aku membungkus benih itu dari dalam tubuhku lalu menahan ledakannya!", balas Kagami. "Huh, tapi keberuntungan takkan terjadi dua kali!", ledek Ken lagi. "Huh, tentu saja!!", balas Kagami. Senjata mereka kembali seperti semula dan mereka mengucapkan mantra lagi. "Dengarlah suara dari tuanmu yang berseru memanggilmu! Pancarkanlah kebencianmu! Ledakkan kebencianmu! Hajar musuhmu dengan api neraka! Ledakkan!! Hancurkan!!! Musnahkan!!!! Dan berubahlah sesuai kehendakku!!!", seru Ken dengan serius.
Kagami tak mau kalah, ia juga mengucapkan mantra. "Lakukan perintah dari tuanmu! Balaslah hutang budimu!! Janganlah larut dalam kebencian!! Buanglah!!! Lenyapkanlah! Hancurkanlah!! Berubahlah menjadi alat yang berguna!! Bantulah tuanmu!! Bayar tuanmu!! Bayar tuanmu dengan air suci surga!! Hancurkanlah segala kejahatan!!!", seru Kagami.
Senjata merekapun berubah menjadi sangat berbeda. "Berubahlah menjadi Dakness Flame!!". "Berubahlah menjadi Holy Water!!". Dan mereka kembali saling menyerang.
Trang...
"Senjatamu... payah!!", ledek Ken.
"Huh, beraninya kau mengejek senjataku!!", balas Kagami.
"Kita akhiri saja! Aku sudah malas berlama-lama denganmu!!", seru Ken geram.
"Baiklah! Aku juga sungkan melawanmu terus!!", balas Kagami.
"Dark... Flame!!!".
"Holy Water!!!".
Jurus itupun saling berbenturan dan menimbulkan warna tak jelas. Abu-abu.
Di saat dua jurus itu benturan, kedua gadis itupun maju untuk saling beradu senjata.
"Matilah kau!!", seru Kagami.
"Dasar keras kepala!!", balas Ken.
Dan kedua senjata itu pun berbenturan dengan amat sangat keras.
Kretek... Praaaaaaaang...
Kedua senjata itu patah dan kedua gadis itu terpental ke arah yang berlawanan. Ken terpental ke arah batu besar, sedangkan Kagami terpental ke arah pohon besar hingga pohon itu patah.
Kedua gadis itupun sama-sama tak sadar diri.
Bersambung...
Senin, 31 Desember 2012
Magic Love
Namaku Sakura Hanazono, saat ini aku terus melihat ke arah jam dinding di kamarku... aku melihat saat ini jam 11.30. Mulai besok, tanggal 1 Januari... aku bukan anak SD lagi, aku adalah anak SMP... aku tak boleh cengeng ataupun terlalu ragu lagi... Tapi setiap kali aku berpikir begitu, muncullah pikiran jahat menghantuiku, "Nasibmu akan sama seperti saat SD, kamu takkan punya teman seorangpun, kamu akan menjadi anak yang bodoh, kamu akan mendapat nilai yang tidak memuaskan...". Pikiran itu terus menghantuiku... benar-benar menyedihkan... akhirnya kuputuskan untuk memejamkan mata sebentar saja. Dan saat aku membuka mata kembali pandanganku ke arah jam dinding... ternyata waktu begitu cepat berlalu, sekarang sudah jam 11.58 pm. Hanya sisa 2 menit lagi saja sudah tahun baru... aku semakin tidak siap. Pikiran negatifku mulai muncul lagi, "Kamu akan menjadi orang yang rendah, semuanya mengharapkan kematianmu! Enyah saja kau!". Kepalaku semakin pusing, entah dari mana pikiran itu muncul, tapi kepala dan hatiku semakin sakit mendengarnya. Aku mulai meneteskan air mata dan bertanya entah pada siapa, "Apa salahku hingga seperti ini? Kenapa aku dibenci? Benarkah orang-orang ingin aku lenyap?". Pikiranku semakin menjadi-jadi, pertanyaan itu semakin menumpuk, akupun mulai tak tahan lagi dengan pikiranku sendiri. Tanpa pikir panjang, aku membuka jendela dan meloncat keluar dari jendela, dan aku pun terjatuh. Sekarang aku malah tersenyum dan berkata, "Sekarang, semuanya pasti bahagia... aku rela mati demi kebahagiaan orang-orang... ayah, ibu, aku akan menyusul kalian...". Tapi saat aku hampir membentur anah, muncullah suara di dalam pikiranku, "Jangan! Kenapa kau melakukan hal ini!! Kumohon berhentilah!". Aku tetap tersenyum dan bebisik, "Semua sudah terlambat...". Akupun membentur tanah dan tak sadarkan diri. Di tahun baru pukul 00.00, aku telah tewas di sini melepas kepenatan dan keputus asaan...
Tapi, tiba-tiba aku membuka mata, dan langsung bertanya, "Di mana ini?"... aku melihat seorang penyihir tua yang membawa jam tua yang sudah jelek. Dia tertawa kecil dan mendekatiku, "Ini alam penyihir. Di mana orang yang tewas dengan karena pikiran negatif dihidupkan kembali," kata nenek itu. Aku terkejut dan berkata pelan, "Ini...mustahil... jangan-jangan...."
Bersambung...
Tapi, tiba-tiba aku membuka mata, dan langsung bertanya, "Di mana ini?"... aku melihat seorang penyihir tua yang membawa jam tua yang sudah jelek. Dia tertawa kecil dan mendekatiku, "Ini alam penyihir. Di mana orang yang tewas dengan karena pikiran negatif dihidupkan kembali," kata nenek itu. Aku terkejut dan berkata pelan, "Ini...mustahil... jangan-jangan...."
Bersambung...
♥ ♥ Sweet School! ♥ ♥
Kawaii Gakuen, sekolah berisi anak seleb atau anak kaya yang sangat imut. Sekolah ini sering sekali masuk majalah dan TV maupun koran. "Hicchan!", seru Chinatsu, sang ketua osis. "Ko...Kotomiya-sama!", balas Hinata, asistennya. "Huuh... lihat Kaho nggak?", tanya Chinatsu yang kelihatannya ngos-ngosan. "Kaho? Kaho Aisa?", tanya Hinata balik. "Ya... yah pokoknya gitulah!", jawab Chinatsu dengan muka sedikit blushing. "Oh, dia ke ruang guru tadi, dia laporan soal murid baru...", jawab Hinata sambil membalik-balik map berisi dokumen osis. "Eh, baiklah! Terima kasih Hicchan!", kata Chinatsu sambil berjalan lagi. "Tunggu!", seru Hinata sambil menarik Chinatsu kembali. Firasat buruk Chinatsu kembali menghantuinya, spontan dia berkata, "Aku ingin ke toilet!!". Hinata menghela nafas dan berkomentar dengan tegas sambil menjewer Chinatsu, "Jangan coba-coba kabur atau kulaporkan ketua yayasan agar kepopuleranmu menurun drastis!". Chinatsu dipenuhi ketakutan akan ancaman dari Hinata, dan terpaksa dia bertanya, "Baiklah, ada apa?"."Ini! Dari kepala sekolah untuk ketua! Wakil, Asisten, Sekretaris, dan sebagainya nggak boleh kerjakan ini!", jawab Hinata. Chinatsu menghela nafas dan mulai bercucuran keringat dingin. "Tidak!! Aku harus mengurus murid baru dulu!!", pikir Chinatsu untuk dijadikan sebagai alasan. Tapi Hinata langsung meletakkan semuanya di tangan Chinatsu dan menepuk pipi kiri Chinatsu, "Jangan khawatir, masalah lain akan kuselesaikan bersama Wakil Ketua. Ketua kerja itu saja, ya," kata Hinata sambil tersenyum. Mendadak Chinatsu berdebar, "A....Ada apa ini?", pikir Chinatsu gugup. Chinatsu melihat Hinata yang sudah berjalan ke arah lain.
-Hinata Side-
Haah.... kalian pasti kenal aku dari cerita Orange Sweet Blush itu kan? Ketua memang membuatku repot, aku jadi terpaksa ini itu, tapi yaah... nurut aja, deh... Tapi saat ini, aku harus menemui wakil ketua osis, Kaho Aisa. Dia orangnya cool banget dan pemalu. Huh, repot, kan? Ketua ngerepotin dan wakil ketua yang nggak beres, dua-duanya bikin kesal. Tapi aku harus bersabar untuk menghadapi mereka, kan? Pastinya, deh. "Ah! Aisa!!", seruku saat melihat Aisa. Dia memang cantik, sih, tapi nggak populer (nggak terlalu). "Sa... Satsuki-san?", katanya pelan. Dia dikelilingi oleh 2 murid baru yang akan menuju ke ruang osis. Salah satu dari murid itu imut sekali, kalau nggak salah namanya... Mori Hinata? Ahh!! Hinata Mari!! Yap, dia juga terlihat ramah dan pintar. Dia tersenyum dan menghampiriku, "Senior Satsuki!". Eh, jelas-jelas aku terkejut, dong! Siapa yang senior! aku baru kelas 2 tahu!! Ah... karena marah aku tanya saja, "Memangnya kamu kelas be-ra...". "Kelas 1!", jawabnya sambl tersenyum. Padahal aku kan belum selesai tanya!! Aisa menarikku dan bertanya dengan suara pelan, "Ada apa?". Aku menjadi kesal dan menarik kembali tanganku, "Nggak apa-apa, kok. Selamat tinggal!" kataku kesal. "Ck, dasar... Satsuki bodoh!", geram Aisa. Biar saja, aku lebih pintar dari kamu kok. Dasar Wakil sombong, kapan kamu dibebaskan dari osis?
-Kaho Side-
Hiih, asisten yang sombong banget!! Aku benci! tapi aku kan harus jaga citra... apa boleh buatlah, amarah harus kurendam dalam hati, tapi jangan sampai jadi dendam... haha, lupakan sudah! Tiba-tiba ada yang menepuk punggungku, karena kaget pastinya aku singkirkan tangannya dan menoleh ke arahnya. Ternyata dia adalah...... adalah..... a....d....a...l...a...h.... adalah.....!!
Bersambung....
-Hinata Side-
Haah.... kalian pasti kenal aku dari cerita Orange Sweet Blush itu kan? Ketua memang membuatku repot, aku jadi terpaksa ini itu, tapi yaah... nurut aja, deh... Tapi saat ini, aku harus menemui wakil ketua osis, Kaho Aisa. Dia orangnya cool banget dan pemalu. Huh, repot, kan? Ketua ngerepotin dan wakil ketua yang nggak beres, dua-duanya bikin kesal. Tapi aku harus bersabar untuk menghadapi mereka, kan? Pastinya, deh. "Ah! Aisa!!", seruku saat melihat Aisa. Dia memang cantik, sih, tapi nggak populer (nggak terlalu). "Sa... Satsuki-san?", katanya pelan. Dia dikelilingi oleh 2 murid baru yang akan menuju ke ruang osis. Salah satu dari murid itu imut sekali, kalau nggak salah namanya... Mori Hinata? Ahh!! Hinata Mari!! Yap, dia juga terlihat ramah dan pintar. Dia tersenyum dan menghampiriku, "Senior Satsuki!". Eh, jelas-jelas aku terkejut, dong! Siapa yang senior! aku baru kelas 2 tahu!! Ah... karena marah aku tanya saja, "Memangnya kamu kelas be-ra...". "Kelas 1!", jawabnya sambl tersenyum. Padahal aku kan belum selesai tanya!! Aisa menarikku dan bertanya dengan suara pelan, "Ada apa?". Aku menjadi kesal dan menarik kembali tanganku, "Nggak apa-apa, kok. Selamat tinggal!" kataku kesal. "Ck, dasar... Satsuki bodoh!", geram Aisa. Biar saja, aku lebih pintar dari kamu kok. Dasar Wakil sombong, kapan kamu dibebaskan dari osis?
-Kaho Side-
Hiih, asisten yang sombong banget!! Aku benci! tapi aku kan harus jaga citra... apa boleh buatlah, amarah harus kurendam dalam hati, tapi jangan sampai jadi dendam... haha, lupakan sudah! Tiba-tiba ada yang menepuk punggungku, karena kaget pastinya aku singkirkan tangannya dan menoleh ke arahnya. Ternyata dia adalah...... adalah..... a....d....a...l...a...h.... adalah.....!!
Bersambung....
Minggu, 25 November 2012
Story of Fantasy&Love
"Pokoknya kamu pasti kulindungi! Jadi jangan khawatir!", kata Moriyama-kun. Aku jadi semakin berdebar-debar. "A, anu... Moriyama-kun...", kataku dengan pelan karena malu. "Ya?", "Ah, nggak ada apa-apa, kok! Aku cuma nggak sengaja manggil nama Moriyama-kun saja!", balasku. "Baiklah, kita pergi ke tempat ini, yuk! Ini buat pemula, lho!", kata Moriyama-kun sambil menunjuk salah satu tempat di peta. Nama tempat itu adalah Vláda Požáru. "Apa artinya?", tanyaku. "Kerajaan Api!", jawabnya sambil senyum-senyum. "Eeeeh!!? Kenapa nggak yang lain aja!?", seruku panik. "Soalnya ini buat pemula level 0-3, sih!", balas Moriyama-kun santai. Apa boleh buat, aku terpaksa menurut... payah banget, sih! Tiba-tiba ruangan sekitar berubah menjadi tempat seperti istana api. "Inori, awas!", kata Moriyama-kun sambil menggendongku dengan cepat lalu berlari dengan cepat. "Eh, ada apa?", tanyaku. "Lihat saja sendiri! Ada yang akan menyerang kita!", balas Moriyama-kun sambil menurunkanku. "Eh, i...itu? Cara menyerangnya gimana?", tanyaku lagi. "Saat ini kamu belum punya senjata, tapi bisa menggunakan sihir. Pikirkan saja sihir yang kamu mau!", kata Moriyama-kun sambil menggandengku. "Oh, baiklah! Aku sudah dapat jurusnya!", seruku karena aku sudah mendapat ide jurus. "Inori, di belakang!", seru Moriyama-kun lagi. Aku segera menoleh dan menyerang, "Heilagt vatn!", seruku. Muncullah air yang menyembur, dan 5 musuh telah mati. Di depanku ada tulisan, "Level Up! Skill Up!"
Rasanya senang setengah mati, Moriyama-kun juga ikut senang. "Baguslah Inori...", katanya sambil memelukku. "Aaa... Mo, moriyama-kun...", bisikku karena malu. Seketika ruangan kembali menjadi seperti awal. "Sekarang uang kita 20.000, kita bisa beli barang, deh!", kata Moriyama-kun. "Setelah ini kita ke mana? Ke tempat berikutnya?", tanyaku sambil berjalan mendekati Moriyama-kun. "Tetap di Vláda Požáru, kan levelmu belum 3," jawab Moriyama-kun. Aku sebal... "Ngg... kalau sudah level 3 ke mana?", tanyaku lagi. "Tak perlu buru-buru, kita habiskan natal di sini, tak mungkin selesai secepat itu!", balas Moriyama-kun sambil tertawa geli. "Eh... aku kan nanya kalau sudah ngapain!? Yang kutanya, kan itu!", balasku kesal. "Kalau sudah ya... ke tempat berikutnya, dong!", balas Moriyama-kun sambil mencubit pipiku. "Aaaww!! Sakit, nih! Ngapain, sih!", seruku karena kesakitan. "Habis pipimu imut, sih...", balas Moriyama-kun sambil menggandengku supaya jalan lebih cepat. Mukaku kembali memerah, perkataan Moriyama-kun sangat manis bagiku. "Moriyama-kun... punya orang tua?", tanyaku karena Moriyama-kun tidak cemas soal apapun di sini. "Tidak, tak ada satupun orang yang peduli padaku, kecuali kakak. Kadang-kadang kakak juga tak mau memperhatikanku. Jadinya, aku membuat dunia virtual ini untuk menghilangkan rasa kesepianku...", jawab Moriyama-kun. Aku mengangguk, "Aku juga tidak punya orang tua, kakak atau adik. Jadi setiap hari aku selalu sendiri. Tapi sejak Moriyama-kun menyapaku, aku jadi tak sendirian lagi...", kataku sambil tersenyum. Moriyama-kun ikut tersenyum dan membalas, "Aku juga... aku tahu aku nggak sendiri, aku masih punya Inori. Makanya, aku selalu melihatmu mulai dari awal kamu datang. Sejak kamu datang, yang terbayang di pikiranku cuma kamu... kamu satu-satunya gadis yang kusukai...". Aku kembali berdebar dan mukaku kembali memerah. Baru kali ini aku mendengar ada yang suka padaku... "Moriyama-kun... terima kasih... sudah menyukaiku...", balasku sambil tersenyum ke arah Moriyama-kun. Aku sendiri bingung, mengapa rasanya aku senang sekali seperti saat keluargaku masih lengkap lima orang. "A...apa itu artinya....", pikir Moriyama-kun. "Sepertinya sejak kemarin.... aku juga jadi menyukai Moriyama-kun...", ucapku pelan. "Ah, be...begitu, ya... kalau begitu...", balas Moriyama-kun sambil menyentuh daguku. Muka Moriyama-kun semakin mendekati mukaku, mukaku kembali memerah. "Tutup matamu...", kata Moriyama-kun sambil makin mendekat. Angin yang dihembuskan saat Moriyama-kun bicara terkena bibirku. Aku menurut menutup mata saja. Dan tinggal 1 senti lagi bibir kami bersentuhan ada orang yang datang, karena kaget kami terjungkir ke bawah jurang. "Uwaa!!", seru Moriyama-kun sambil memelukku karena takut aku terjatuh duluan. Moriyama-kun melindungi kepalaku agar kepalaku tidak terluka. Bagaimana kalau Moriyama-kun yang terluka?!
Bersambung....
Caramel Girl-the dark side of the soul that has been cracked
Mayu Ishibashi, gadis berkepribadian ganda yang menjadi penyanyi terkenal dunia. Dia dibuang oleh ayahnya yang sudah kawin lagi dengan perempuan kaya yang sangat cantik, sekarang Mayu diasuh oleh manajernya sendiri. Manajernya sangat menyukai Mayu, ia mengasuh Mayu seperti mengasuh anaknya sendiri. Mayu juga menganggap manajernya adalah ibunya sendiri. Mayu juga sangat menyayangi manajernya dan bersikap baik dan lembut ketika bersama manajernya. Mayu memiliki sifat yandere yang ditampilkannya saat bersama orang lain, dan sifat baik saat berhadapan dengan manajernya. Tapi terkadang, Mayu menampilkan sifat yang benar-benar jahat sehingga membuat orang takut. Mayu sangat suka menyanyi sehingga suatu hari ia mendapat stress karena terlalu banyak berlatih. Mayu ambruk saat latihan vokal, ia terus memegangi kepalanya yang terasa sangat pusing. "Uuh..... Ada apa dengan kepalaku? Kenapa terasa pusing sekali? Tubuhku juga terasa sangat berat... apa yang terjadi?", pikir Mayu yang masih diangkut oleh para staff yang dipanggil oleh manajernya. Mayu yang tak kuat menahan rasa sakit itu langsung pingsan. Saat pingsan, ada seorang staff yang melihat bayangan Mayu yang tersenyum lebar sambil membawa kapak, dan di kapaknya, menetes darah yang banyak. Di dalam hati Mayu terdengar suara tawa yang seperti suaranya, "Hihihi...". Mayu membuka matanya dalam mimpi dan melihat ada cermin di depannya, Mayu berdiri dan menyentuh cermin itu, tiba-tiba muncul sosok seseorang yang membawa kapak berlumuran darah, dan orang itu sangat mirip dengan Mayu. Mayu menjadi terkejut dan langsung bertanya dengan ketakutan, "Si, siapa kamu?". Orang yang terpantul di cermin itu menjawab, "Akulah kamu, akulah sifat jahatmu yang selama ini sudah membuat orang sebanyak itu ketakutan. Mereka selalu merasa kamu menyebalkan, karena kesal maka muncullah aku, sifat jahatmu. Aku sengaja membebanimu sehingga kamu pingsan, dengan begitu kita bisa bicara di sini tanpa gangguan. Karena kesal akan kelambananmu, kesabaranku sudah habis sekarang... jadi....". Sosok itu keluar dari cermin dan Mayu semakin ketakutan, gadis itu mengarahkan kapaknya yang berlumuran darah, darah dari kapak itu menetes hingga mengenai kepala Mayu. Tetesan darah itu mulai mengalir ke tangan Mayu, dan Mayu kembali melihat ke gadis itu. Gadis itu sudah mengarahkan kapak ke kepala Mayu. Karena takut, Mayu berteriak, "Kyaaaaa!!!". Tapi gadis itu tak menghentikan ayunan kapaknya, justru semakin cepat, Mayu menangis karena ketakutan, Mayu ingin berlari, tapi kakinya seperti dicengkram oleh tangan yang begitu kuat. Tapi Mayu terus menerus melangkah mundur dengan langkah berat, sehingga pada akhirnya ia kelelahan dan terjatuh, sementara gadis itu berlari dengan ringan dan cepat. Mayu semakin gemetaran, Mayu tidak ingin mati sebelum mensukseskan agency milik manajernya. "Tunggu! Sebelum kamu membunuhku, tolong beri aku kesempatan sekali saja untuk mensukseskan manajerku? Kumohon! Aku berjanji tak akan lama! Jadi tolonglah aku!", seru Mayu sambil menangis memohon, "Huh, keinginan kita sama karena kita adalah orang yang sama! Makanya itu, biar aku saja yang melakukannya! Biar kamu istirahat dengan tenang di sini!1", balas gadis itu sambil mengayunkan kapak ke kepala Mayu. Hanya 1 mili lagi saja Mayu sudah mati, tapi gadis itu sengaja menghentikannya. Mayu melihat gadis itu, dia mengangkat kapaknya kembali. Mayu bertanya, "A... ada apa? Ke, kenapa kamu berhenti?". Gadis itu menatap Mayu dengan tajam, Mayu menjadi kembali ketakutan. "Kalau aku yang melakukannya, semuanya pasti tidak suka, dan kalau kupikir balik...", balas gadis itu, tapi dia tidak mau meneruskan ucapannya. Mayupun ikut diam, Mayu merasa bersalah setelah mendengar itu. Mayu selalu berpikir bahwa, 'tidak ada satupun orang yang terluka karena aku, semuanya pasti menyukai aku'. Tapi sekarang Mayu sadar, ia sudah melukai banyak orang. Mayu berdiri dan mengambil boneka kecil yang selalu ada di kantung rok Mayu. "I...ini untukmu, aku minta maaf sudah melukaimu... aku sudah menyadari, aku sangat berdosa... dulu aku merasa membenci ayah dan membuatmu bangkit. Tapi akhirnya aku tahu, kamu tidak ingin terlahir sepertiku!", kata Mayu sambil menyerahkan boneka itu. Kapak yang dipegang gadis itu jatuh, gadis itu meneteskan air matanya yang tidak diperlihatkan sama sekali tadi. Mayu menjadi heran, boneka yang ia berikan tiba-tiba hilang seperti debu yang ditiup. "Hahaha, aku tak pernah mengira jalan ceritanya menjadi begini... Akulah Mayu, dirimu. Aku terlahir karena rasa dendammu pada ayah yang sudah membuangmu. Tapi aku tak menyesal terlahir sebagai dirimu, karena aku juga menyayangi manajer... dan kamu. Sebenarnya aku tak ingin membunuhmu, tapi demdammu yang mengarahkanku. Makanya aku menghentikan ayunan kapakku mati-matian. Terima kasih sudah membangkitkanku, aku tak akan muncul lagi..." kata gadis itu sambil mengambil pisau kecil di kantung rok-nya sambil mengarahkan ke jantungnya. Mata Mayu terbelalak, Mayu tidak mau gadis itu mati, tapi kaki Mayu masih terasa dipegang erat oleh makhluk aneh. "Tu....Tunggu! Tunggu!!!", seru Mayu sambil mengarahkan tangannya ke arah gadis yang sebentar lagi mati itu. "Selamat tinggal... diriku...", kata gadis itu lagi sambil tersenyum ramah. "Tidak! Jangaan!!", seru Mayu lagi, Mayu berusaha lari, tapi sudah terlambat pisau itu sudah menancap ke jantung gadis itu, gadis itu kembali tersenyum ke arah Mayu dan perlahan mendekat. Mayu menangis jadi-jadian, Mayu sangat menyesal. "Sudahlah... sekarang, kamu tak punya beban lagi, kan... berbahagialah...", kata gadis itu sambil menolong Mayu berdiri. Mayu segera memeluk gadis itu, "Walaupun berpisah, tetaplah ada dalam diriku... aku akan sangat merindukanmu...", kata Mayu sambil menangis dan tetap memeluk gadis itu. "Terima kasih sudah menerimaku... Mayu...", balas gadis itu sambil tetap tersenyum. Perlahan gadis itu menghilang dan terus menghilang. Hingga pada akhirnya, gadis itu hilang seluruhnya. Mayu menangis semakin menjadi-jadi, Mayu tak rela salah satu sisinya pergi. Sekarang Mayu sudah tidak dapat lagi berbuat jahat.
"Mayu! Mayu! Ah!", panggil seseorang. Mayu mulai membuka matanya, dia melihat sekelilingnya. "Ini di mana?", tanya Mayu. "Ini di rumah sakit... syukurlah kamu sudah sadar...", jawab seseorang. Mayu melihat ke arah suara yang menjawabnya tadi. "Ma...manajer!", seru Mayu sambil bangun dari tempat tidurnya. "Iya... ini aku...", balas manajer sambil memeluk Mayu dengan lembut. Mayu jadi teringat akan sisi gelapnya, "Walaupun aku berbuat jahat, dia tak mungkin bisa kembali...". Waktu terus berputar dan tak mungkin bisa kembali... Semua yang sudah terjadi tak mungkin kembali selamanya meskipun satu kali saja. Oleh karena itu, penyesalan selalu datang terlambat untuk selamanya...
Caramel Girl-the dark side of the soul that has been cracked
*END*
Sabtu, 24 November 2012
Cacao Pop
Sudah 3 hari setelah hari sial itu, dan yang kupahami sekarang adalah... waktu benar-benar terulangi. Seharusnya aku bisa bebas dari kerja model, tapi gara-gara Aru-kun datang, segalanya jadi kacau balau, deh! Aru-kun betul-betul bawa sial. Hari ini ada pekerjaan menjadi aktris pengganti. Huh... sudah gitu mana lawan mainnya Aru-kun lagi. Apalagi dramanya rate Ecchi!! Aku nggak mau!! "Momo-chan, dramanya sudah mau dimulai, hari ini gladi resik, lho!", panggil Aru-kun sambil memukulkan naskah skenario yang digulung ke kepalaku. Jelas saja aku mengamuk dan menendang Aru-kun, nggak salah, kan?
Huh, gladi resik hari ini harus dianggap seperti saat drama betulan, habis di-shoot kamera, sih. Saat peran di mana aku menyatakan cinta pada Aru-kun adalah penyesalan seumur hidupku. "Aku suka padamu Hiro-kun.... sudah lama aku menyukaimu, tapi aku malu mengungkapkannya...", kataku, tapi ini dalam drama, ini skenario. Namaku adalah Motosuki Aruha, Aru-kun adalah Hiro Kagawa. "Aruha-san, sebenarnya aku juga... sejak lama suka padamu, tapi kukira kamu sudah mengerti", balas Hiro-kun alias Aru-kun. Di skenario berikutnya, aku menangis senang karena diterima, aku pakai obat air mata, deh... "Maukah kamu menjadi istriku Aruha-san?", tanya Hiro-kun. Aku terkejut, itu tak ada di skenario! Aru-kun hanya mengarang-ngarang cerita itu sendiri! Gi, gimana, nih! Produser juga nggak ada! Akhirnya aku kebingungan dan terus diam. Sementara Aru-kun mendekatiku sambil menyentuh pipiku. "Heii, Aru-kun! Mana ada skenario beginian hah!!?", bisikku dengan kesal. "Sst... kamu harus menghayati tiap peran dalam drama, kalau begini kamu tak perlu pakai obat air mata, kan!", balas Aru-kun dengan berbisik juga. Tapi aku tetap tak mau, aku menolak dengan keras dan membantah berkali-kali. Sampai akhirnya Aru-kun memelukku dengan erat sampai aku tak bisa bergerak. "Aruha-san, kalau kamu menyukaiku setulus hati, mengapa kamu tak mau ada di dekatku?", tanya Aru-kun dengan penuh penghayatan. "Ka, karena Hiro-kun terlalu cepat berkata ingin menikah, aku jadi gugup, kan!", balasku sambil menjauh sedikit-sedikit dari Aru-kun. Aru-kun kembali mendekatiku dengan cepat dan menggendongku ke kamar untuk Shoot drama. "Di sini kita hanya berduaan, kan... jangan malu, ya...", katanya lagi sambil membaringkan aku di tempat tidur. "Aru-kun, ini bagian akhir cerita!", bisikku lagi. "Lewatkan saja bagian membosankan itu oke... bagian klimaks adalah adegan yang paling seru.", balasnya sambil menyentuh pipiku lagi. "Aruha-san, di mana kamu membeli baju gothic yang manis ini? Sepertinya aku terpesona melihatnya...", kata Hiro-kun sambil memegang ujung rokku. "Ah, baju ini.... rahasia, dong! Hiro-kun nggak mungkin membeli ini, kan. Hahaha!", balasku sesuai skenario. "Ah, kamu benar, ya Aruha-san! Hahaha!! Aku kan bukan lolicon!", balas Hiro-kun sambil tertawa. Dalam hatiku aku berpikir 'Bukan Lolicon Apanya?!' saking kesalnya diriku padanya. "Aruha-san, boleh aku menciummu?", tanya Hiro-kun sambil menaikkan tubuhnya di atasku. Spontan aku berteriak, "Hyaaaaaaaa!!!!". Semuanya langsung melongo, mereka yang tadi menikmati drama ini (dasar mesum!) menjadi tercengang karena aku berteriak, termasuk Aru-kun. "Huh, sudah! Aku berhenti dari drama ini! Jadi, hush hush! Menyingkirlah Aru-kun mesum!", kataku dengan kesal sekali. "Tak bisa begitu, dong! Dramanya harus selesai sekarang! Kamu mau diganti siapa? Kamu mau aku sama cewek lain?", tanya Aru-kun sambil mencubit pipiku. "Eh, eeh! Biar saja, kok! Aku nggak peduli!", seruku sambil memukul tangan Aru-kun yang mencubitku. "Kalau kamu berhenti aku juga berhenti! Kenapa kamu nggak mengerti perasaanku?!", balas Aru-kun dengan muka agak kesal. Tiba-tiba jantungku berdebar dengan kencang, "A... apa yang harus kupahami?", tanyaku dengan muka sok cuek. "Aku... sebenarnya sudah menyukaimu sejak pertama bertemu! Tapi kenapa kamu masih begini juga!", seru Aru-kun. Mukaku menjadi merah padam dan aku menjadi gemetaran. Aru-kun menutup mataku dengan tangannya lalu menciumku dengan paksa. "Aru-kun... Aru-kun... ternyata... punya sifat liar begini, ya... baiklah...", pikirku sambil menikmati ciuman dari Aru-kun. Setelah beberapa menit diam Aru-kun melepaskan tangannya dan mendekati telingaku. "Momo-chan, maukah kamu menjadi pacarku?", bisiknya dengan pelan sekali. Aku hanya diam sambil memiringkan kepala ke arah yang berlawana dengan Aru-kun. Aru-kun melurusan kepalaku dan menggigit leherku dengan keras. "Uwaaaaaaaa!!!", jeritku karena kesakitan, dan spontan aku menampar Aru-kun. Gi, gimana, nih...
Bersambung...
Huh, gladi resik hari ini harus dianggap seperti saat drama betulan, habis di-shoot kamera, sih. Saat peran di mana aku menyatakan cinta pada Aru-kun adalah penyesalan seumur hidupku. "Aku suka padamu Hiro-kun.... sudah lama aku menyukaimu, tapi aku malu mengungkapkannya...", kataku, tapi ini dalam drama, ini skenario. Namaku adalah Motosuki Aruha, Aru-kun adalah Hiro Kagawa. "Aruha-san, sebenarnya aku juga... sejak lama suka padamu, tapi kukira kamu sudah mengerti", balas Hiro-kun alias Aru-kun. Di skenario berikutnya, aku menangis senang karena diterima, aku pakai obat air mata, deh... "Maukah kamu menjadi istriku Aruha-san?", tanya Hiro-kun. Aku terkejut, itu tak ada di skenario! Aru-kun hanya mengarang-ngarang cerita itu sendiri! Gi, gimana, nih! Produser juga nggak ada! Akhirnya aku kebingungan dan terus diam. Sementara Aru-kun mendekatiku sambil menyentuh pipiku. "Heii, Aru-kun! Mana ada skenario beginian hah!!?", bisikku dengan kesal. "Sst... kamu harus menghayati tiap peran dalam drama, kalau begini kamu tak perlu pakai obat air mata, kan!", balas Aru-kun dengan berbisik juga. Tapi aku tetap tak mau, aku menolak dengan keras dan membantah berkali-kali. Sampai akhirnya Aru-kun memelukku dengan erat sampai aku tak bisa bergerak. "Aruha-san, kalau kamu menyukaiku setulus hati, mengapa kamu tak mau ada di dekatku?", tanya Aru-kun dengan penuh penghayatan. "Ka, karena Hiro-kun terlalu cepat berkata ingin menikah, aku jadi gugup, kan!", balasku sambil menjauh sedikit-sedikit dari Aru-kun. Aru-kun kembali mendekatiku dengan cepat dan menggendongku ke kamar untuk Shoot drama. "Di sini kita hanya berduaan, kan... jangan malu, ya...", katanya lagi sambil membaringkan aku di tempat tidur. "Aru-kun, ini bagian akhir cerita!", bisikku lagi. "Lewatkan saja bagian membosankan itu oke... bagian klimaks adalah adegan yang paling seru.", balasnya sambil menyentuh pipiku lagi. "Aruha-san, di mana kamu membeli baju gothic yang manis ini? Sepertinya aku terpesona melihatnya...", kata Hiro-kun sambil memegang ujung rokku. "Ah, baju ini.... rahasia, dong! Hiro-kun nggak mungkin membeli ini, kan. Hahaha!", balasku sesuai skenario. "Ah, kamu benar, ya Aruha-san! Hahaha!! Aku kan bukan lolicon!", balas Hiro-kun sambil tertawa. Dalam hatiku aku berpikir 'Bukan Lolicon Apanya?!' saking kesalnya diriku padanya. "Aruha-san, boleh aku menciummu?", tanya Hiro-kun sambil menaikkan tubuhnya di atasku. Spontan aku berteriak, "Hyaaaaaaaa!!!!". Semuanya langsung melongo, mereka yang tadi menikmati drama ini (dasar mesum!) menjadi tercengang karena aku berteriak, termasuk Aru-kun. "Huh, sudah! Aku berhenti dari drama ini! Jadi, hush hush! Menyingkirlah Aru-kun mesum!", kataku dengan kesal sekali. "Tak bisa begitu, dong! Dramanya harus selesai sekarang! Kamu mau diganti siapa? Kamu mau aku sama cewek lain?", tanya Aru-kun sambil mencubit pipiku. "Eh, eeh! Biar saja, kok! Aku nggak peduli!", seruku sambil memukul tangan Aru-kun yang mencubitku. "Kalau kamu berhenti aku juga berhenti! Kenapa kamu nggak mengerti perasaanku?!", balas Aru-kun dengan muka agak kesal. Tiba-tiba jantungku berdebar dengan kencang, "A... apa yang harus kupahami?", tanyaku dengan muka sok cuek. "Aku... sebenarnya sudah menyukaimu sejak pertama bertemu! Tapi kenapa kamu masih begini juga!", seru Aru-kun. Mukaku menjadi merah padam dan aku menjadi gemetaran. Aru-kun menutup mataku dengan tangannya lalu menciumku dengan paksa. "Aru-kun... Aru-kun... ternyata... punya sifat liar begini, ya... baiklah...", pikirku sambil menikmati ciuman dari Aru-kun. Setelah beberapa menit diam Aru-kun melepaskan tangannya dan mendekati telingaku. "Momo-chan, maukah kamu menjadi pacarku?", bisiknya dengan pelan sekali. Aku hanya diam sambil memiringkan kepala ke arah yang berlawana dengan Aru-kun. Aru-kun melurusan kepalaku dan menggigit leherku dengan keras. "Uwaaaaaaaa!!!", jeritku karena kesakitan, dan spontan aku menampar Aru-kun. Gi, gimana, nih...
Bersambung...
Langganan:
Komentar (Atom)




