Sabtu, 09 Februari 2013
Devil Goddes
Suzuma Ken, gadis remaja berusia 16 tahun, seorang dewi kegelapan. Tempat favoritnya adalah Aoi sōgen, padang rumput di taman perantara yang dingin. Pekerjaannya adalah membunuh manusia bumi yang tidak bisa bersikap baik. "Suzuma-sama, apa Yang Mulia memberimu tugas?", tanya seorang gadis berambut merah muda panjang bernama Shizuka. "Tidak... Yang Mulia memang sangat lambat... Membuatku naik darah saja!", balas Ken. "Ta...tapi Suzuma-sama tidak boleh berbicara lancang begitu!! Kalau Yang Mulia tahu, bisa-bisa Suzuma-sama dibunuh!", tegur Shizuka dengan nada panik. "Terserah saja... mau dibunuh, dicincang, dicabik-cabik, bahkan dikutukpun aku takkan mati...", balas Ken lagi. Shizuka hanya bisa terdiam dan terus memandang punggung Ken saja. "Ada apa, Shizuka?", tanya orang yang tiba-tiba muncul di belakang Ken dan Shizuka. "Kagami-sama?!", seru Shizuka. Ken yang tadinya tenang langsung menoleh ke belakang dengan tatapan tidak enak. "Apa maumu kemari, Kagami!?", tanya Ken dengan nada cetus. "Hah? Payah! Kamu kira ini taman milikmu?!", jawab gadis bernama Kagami itu. "Siapa juga yang bilang ini tamanku?", tanya Ken balik. Kagami jadi merasa semakin panas akan kata-kata Ken. "Beraninya kamu!! Dasar anak badung!!", seru Kagami dengan kesal. "Mau badung atau bodoh tidak masalah... yang penting aku mau kamu keluar dari sini!", seru Ken. Kagami menunduk dan mengarahkan tangannya ke depan. "Beraninya kamu menyuruhku! Dasar anak babi!", kata Kagami yang mulai mengumpulkan bola energi untuk membentuk senjata. "Kenapa harus takut?", kata Ken. "Rupanya kamu...berniat melawanku, ya?", lanjut Ken sambil mengarahkan tangannya ke samping. " Itu tujuanku sejak awal...", jawab Kagami. "Baiklah jika kamu memaksa... aku akan melayanimu...", balas Ken sambil menebaskan senjatanya yang sudah terbentuk. Shizuka melihat senjata Ken yang sudah jadi itu. "I... itukan... Dark Shadow Spear... Apakah Suzuma-sama serius?!", pikir Shizuka. "Shizuka... menjauhlah... atau kau akan kena serang.", kata Ken. Shizuka mengangguk dan berlari menjauh. "Hihihi... kalau Yang Mulia tahu ini... mereka pasti akan kena hukuman berat!".
"Tak kusangka, kamu jadi begini hebat... kalau kamu terus berlatih maka kamu akan jadi Dewa Kematian...", kata Kagami dengan nada sombong. "Jadi tak jadi, keinginanku hanyalah mati...", balas Ken. "Apa?! Jangan bercanda!! Kalau kamu mati, saat dilahirkan kembali kau akan jadi manusia biasa!", balas Kagami. "Itulah keinginanku...", kata Ken. "Huh, konyol! Karena itu menyerahlah padaku!! Dasar wanita tak berguna! Aku pasti membuatmu mati!!", seru Kagami sambil mengarahkan sabitnya ke kepala Ken. "Maaf saja, tapi itu mustahil! Kalau aku bilang mustahil ya mustahil!", balas Ken sambil mengarahkan senjatanya ke jantung Kagami. "Ha... haha... memangnya kenapa bisa mustahil!?", tanya Kagami. "Sejak kecil, ada seseorang yang sengaja menculikku dan memasukkan benih keabadian dalam tubuhku, walaupun disiksa atau dilukai, tapi aku akan segera pulih... oleh karena itulah aku sengaja menerima pekerjaan merepotkan ini. Mau protes?", tanya Ken. "Alasan konyol! 100% konyol! Itu pasti cerita karanganmu!!", seru Kagami yang mulai menggila. "Aku tidak bohong!", balas Ken yang semakin panas. "Mati saja kau!", seru Kagami. "Kubilang mustahil!!", balas Ken. Mereka pun beradu senjata, senjata mereka berbenturan dengan keras. "A... aku nggak akan ka...kalah... dari orang sepertimu!!", kata Kagami. "Huh, aku juga takkan kalah darimu!", balas Ken. Senjata merekapun mulai bergetar karena ditekan dengan tenaga penuh. "Sword Guardian... Change!". "A... apa itu?!", seru Ken yang mundur karena kuatnya cahaya yang keluar dari senjata Kagami. "Dewi, ya...... kelemahanmu telah terbuka...", kata Kagami. "A... apa maksudmu?!", tanya Ken. "Makanya... kamu kusebut dewi bodoh...", balas Kagami dengan sombong. "Hah? Jangan bercanda!! Dragon Wings!!", seru Ken yang juga mulai meng-upgrade (...) senjatanya dan mengeluarkan warna hitam kelam dan aura naga. "U... uukh!!!", seru Kagami yang merasa matanya kemasukan sesuatu. "Benih kegelapan... bukalah jalanmu... tanamkan bibit beracun itu di dalamnya dan... ledakkan!!", seru Ken. Blaaaaaaarrrr!!!...
Kehebohan pun terjadi setelah ledakan itu. Ken terkena ledakan dari benih kegelapan yang ditanam di tubuh Kagami. "Huh... tak kusangka kamu bisa bertahan hidup...", ledek Ken yang tubuhnya penuh luka. "Hahaha... sebelum kau meledakkan benih aneh itu, aku membungkus benih itu dari dalam tubuhku lalu menahan ledakannya!", balas Kagami. "Huh, tapi keberuntungan takkan terjadi dua kali!", ledek Ken lagi. "Huh, tentu saja!!", balas Kagami. Senjata mereka kembali seperti semula dan mereka mengucapkan mantra lagi. "Dengarlah suara dari tuanmu yang berseru memanggilmu! Pancarkanlah kebencianmu! Ledakkan kebencianmu! Hajar musuhmu dengan api neraka! Ledakkan!! Hancurkan!!! Musnahkan!!!! Dan berubahlah sesuai kehendakku!!!", seru Ken dengan serius.
Kagami tak mau kalah, ia juga mengucapkan mantra. "Lakukan perintah dari tuanmu! Balaslah hutang budimu!! Janganlah larut dalam kebencian!! Buanglah!!! Lenyapkanlah! Hancurkanlah!! Berubahlah menjadi alat yang berguna!! Bantulah tuanmu!! Bayar tuanmu!! Bayar tuanmu dengan air suci surga!! Hancurkanlah segala kejahatan!!!", seru Kagami.
Senjata merekapun berubah menjadi sangat berbeda. "Berubahlah menjadi Dakness Flame!!". "Berubahlah menjadi Holy Water!!". Dan mereka kembali saling menyerang.
Trang...
"Senjatamu... payah!!", ledek Ken.
"Huh, beraninya kau mengejek senjataku!!", balas Kagami.
"Kita akhiri saja! Aku sudah malas berlama-lama denganmu!!", seru Ken geram.
"Baiklah! Aku juga sungkan melawanmu terus!!", balas Kagami.
"Dark... Flame!!!".
"Holy Water!!!".
Jurus itupun saling berbenturan dan menimbulkan warna tak jelas. Abu-abu.
Di saat dua jurus itu benturan, kedua gadis itupun maju untuk saling beradu senjata.
"Matilah kau!!", seru Kagami.
"Dasar keras kepala!!", balas Ken.
Dan kedua senjata itu pun berbenturan dengan amat sangat keras.
Kretek... Praaaaaaaang...
Kedua senjata itu patah dan kedua gadis itu terpental ke arah yang berlawanan. Ken terpental ke arah batu besar, sedangkan Kagami terpental ke arah pohon besar hingga pohon itu patah.
Kedua gadis itupun sama-sama tak sadar diri.
Bersambung...
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Gyaaaaa! Seru amat! lanjutiiiin!
BalasHapus