Sabtu, 09 Februari 2013

The Off Memories

Saat aku sadar, aku melihat sekelilingku. Hari sudah larut, tapi di luar masih ramai. Aku tak tahu mengapa mereka masih beramai-ramai dan... di mana aku? Apa yang terjadi aku juga tak mengerti... Tiba-tiba saja aku mendengar langkah kaki seseorang. "Eh... siapa?", pikirku saat mendengar langkah kaki yang semakin dekat dengan kamarku. "Mashiro!! Kamu sudah sadar!?", seru seorang anak laki-laki yang banyak keringatnya. "A... apa? Siapa kamu?", kataku dengan pelan. Laki-laki itu mendadak mukanya merah. Entah kesal atau apa. "Kamu hilang ingatan, Mashiro!?", seru laki-laki itu lagi. Dia mendekat dan memegang kedua pundakku. "Ja... jangan sentuh aku!", seruku. Tiba-tiba saja tubuhku mengeluarkan sinar putih yang terang sekali. "Apa ini?", tanya laki-laki itu, ia melepaskan kedua tangannya dengan terkaget-kaget. Entah apa yang terjadi... "Apa maumu datang kemari?", tanyaku. "Hmm... tentu saja untuk menemuimu, Mashiro!", jawabnya. Aku tak mengingat namaku Mashiro, namaku Arisu, kan? Kenapa dia memanggilku Mashiro? "Si... siapa itu Mashiro?", tanyaku dengan gugup. Laki-laki itu membelalakkan matanya. "Bukannya... itu kamu? Mashiro Himeyaru...", jawabnya. "Namaku Arisu. Arisu Lumiere," balasku. Laki-laki itu tiba-tiba menangis. "A... ada apa!? Kamu laki-laki kan! Kenapa menangis!?", seruku. "Aku tidak peduli... bagiku hanya Mashiro tujuanku hidup... tapi sekarang Mashiro yang kukenal sudah tidak ada...", kata laki-laki itu. Aku merasa sedikit kasihan, tapi nanti... "Maaf... aku tak kenal Mashiro-mu... jadi aku tak bisa membantumu...", kataku pelan. Dia menatapku dengan tajam. "Kenapa!? Kenapa kamu bilang begitu!! Padahal kamulah Mashiro!!", serunya. Aku menjadi ketakutan, tubuhku seperti disetrum aliran listrik. "Ma... maafkan aku!! Tapi aku tak tahu siapa Mashiro!", balasku. Aku kesal sekaligus takut, saking kesalnya air mataku juga mengalir. "Ukh...", bisikku. Tanpa disadari ada beberapa not musik mengelilingiku. "Apa ini...", tanya laki-laki itu. Aku hanya melihat ke arah tanganku. "Ini... kekuatan symphony nomor 99... "Music Symphony"...", kataku. Laki-laki itu hanya diam saja. "Lalu symphony milikmu... symphony nomor 81, "Thunder Symphony"...", lanjutku. Laki-laki itu tampak kaget. "Thunder Symphony katamu!? Yang benar saja!! Aku tak ingin punya symphony atau kekuatan macam ini!!", seru laki-laki itu. "Benarkah? Di ingatanmu tertulis... "Aku ingin memiliki Symphony seperti Mashiro!". Begitu kan?", tanyaku sambil memandang laki-laki itu dengan tajam. "Huh... jangan bercanda... mana mungkin aku ingin memiliki symphony!", balasnya sambil membelakangi aku. "Tapi mustahil kau membuangnya, Tuhan sudah mempercayakan bumi pada orang-orang yang diberi symphony. Termasuk KITA!", kataku lagi. Laki-laki itu tak membalasku, ia hanya diam tanpa bicara apa-apa lagi. "...". Akupun hanya diam saja, melihat punggung laki-laki tak punya malu itu. Akhirnya dia putuskan untuk pulang, sepertinya dia telah kalah... Tapi biarlah...
Esoknya, aku keluar dari rumah sakit, tempatku kemarin dirawat. Aku masih tetap memandangi tanganku yang kemarin mengeluarkan Music Symphony. Bisa dibilang aku adalah orang ke 99 yang membuka symphony. Tapi aku penasaran akan suatu hal... mengapa setiap ada orang yang memiliki symphony mereka akan memiliki tanda di tangannya. "Not musik...", pikirku sambil terus berjalan memandangi tanganku yang sudah terlihat simbol bergambar not musik. "Lho? Tanda ini... tengkorak... maksudnya!?", pikirku lagi. Aku semakin pusing melihat dua simbol bertabrakan dalam tubuhku. "Mashiro...Himeyaru... sepertinya ini milikmu...", kataku pelan. Aku sengaja bersandar di pohon besar untuk merenungkan sedikit arti dari simbol-simbol ini. Tiba-tiba saja aku mendengar... 'Mashiro Himeyaru adalah kamu...'. Siapa yang mengatakannya? Di sekelilingku kosong tak berpenghuni... Aku jadi sedikit... takut. "Kubilang kamulah Mashiro... kamu adalah...". "Tidaaaaaak!!!", seruku. Kepalaku terasa pusing sekali hingga aku ambruk. "Mustahil... aku bukan Mashiro! Aku tak mengenalnya!!", pikirku. Aku sudah sangat pusing, dan pusing yang berlebihan itu membuatku stres... Tapi karena keadaanku melemah dan aku sudah jauh dari rumah sakit aku tidak bisa berbuat apa-apa... sebentar lagi aku juga akan pingsan... Jadi aku terus berteriak dalam hati, "Tolong aku... siapapun... kumohon tolong aku!!". Berharap ada seseorang yang menolongku, aku hanya bisa terdiam dengan nafas yang tak beraturan ini. Dan sedikit lagi aku pasti memejamkan mataku... Tapi tiba-tiba saja, ada memori yang berputar dalam kepalaku. "Monster lemah! Pecundang! Kembalilah ke Perancis! Dasar monster lemah!!". "A...apa?! Aku nggak berbuat apa-apa!!". "Iiih... ucapannya kasar... sudah gitu sok pintar lagi! Kamu kan sudah anak emasnya guru-guru dan kepala sekolah... kalau mau ditolong lebih baik sama pak guru aja deehh!!". "Me...menyebalkan... Ingat saja! Suatu saat nanti, kalian pasti kumusnahkan!! Kalian takkan kuampuni!!". Dan saat itu juga... turunlah hujan badai yang menyebabkan banjir besar di kota itu... saat itulah aku mengenal...
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Kamu baik-baik saja?!". Aku segera terbangun dari mimpi buruk itu. "Kamu... yang kemarin...", kataku. "Ya! Tapi aku punya nama... namaku Aikawa Suzuma!". "A... Aikawa...", pikirku. Saat nama marga itu makin kuingat, munculah memori yang menggangguku. "Arisu, perkenalkan. Dia Aikawa Suzuhara. Mulai sekarang kalian pasti bisa berteman. Kau dan Mashiro...ya, kan!". "Iya mama!!". Senyum polos dan tawa anak kecil yang bersinar membuat kecemburuan di hati seseorang. "Namamu Arisu, ya? Nama yang bagus!". "Te... terima kasih!!". "Meskipun nama itu sebenarnya murahan...". Luka kecil yang timbul di hati seorang gadis lama-lama akan membesar dan menimbulkan kerusakan yang parah. Tapi demi ibu, aku akan mencoba berteman dengannya...
.
.
.
.
.
.
"Arisu... rumahmu...". "Ada apa Mashiro? Rumahku ke...". Mata yang mungil dan tenang langsung berubah menjadi mata amarah dendam akan pengkhianatan. "Ibu... ibumu masih di dalam, kan?". "Kak Suzuhara?". "Ka... kalau kamu sudah tahu ibu Arisu di dalam, mengapa kamu tidak menolongnya!?". Air mata yang mengalir dari kedua mata sang gadis pun semakin deras bercucuran. "Arisu! Kamu mau kemana!?". "Aku akan...menolong ibu!!". "Mustahil kau bisa menolongnya, ibumu kan sudah mati!". "Pasti...kebakaran...ini...ulah...kak Suzuma...". "Bicara apa kamu? Gadis kecil yang belagu!". "Arisu... Ja... jangan menangis! Kak Suzuma hanya...". "DIAM!! Seandainya dia nggak ada! Seandainya aku nggak dilahirkan! Seandainya Ibu nggak di rumah! Pasti semua nggak akan begini!!". Gadis di sebelahku hanya mendengar dan syok kembali, sepertinya kata-kataku berlebihan... benar... ini ulah Suzuhara... ulah keluarga Aikawa...
"Aku takkan memaafkan kalian!".
"A... apa? Arisu?", tanya Suzuma. "Keluar dari sini!", kataku dengan pelan. "A... apa!? Suaramu terlalu pelan!", kata Suzuma lagi. "Kubilang, KELUAR DARI SINI! CEPAT!!", seruku dengan kesal. Suzuma berjalan keluar sambil berlari. Dan nafasku kembali tak beraturan. Mengapa memori itu terus menghantuiku? Aku tak tahu... aku akhirnya mengingat siapa itu Mashiro dan siapa diriku sebenarnya... Maaf Mashiro aku...
Aku akan...meminjam tubuhmu sebentar... hingga dendamku berhasil terbalaskan...

+++++++++++++++++

Tidak ada komentar:

Posting Komentar