Saat aku sadar, aku melihat sekelilingku. Hari sudah larut, tapi di luar masih ramai. Aku tak tahu mengapa mereka masih beramai-ramai dan... di mana aku? Apa yang terjadi aku juga tak mengerti... Tiba-tiba saja aku mendengar langkah kaki seseorang. "Eh... siapa?", pikirku saat mendengar langkah kaki yang semakin dekat dengan kamarku. "Mashiro!! Kamu sudah sadar!?", seru seorang anak laki-laki yang banyak keringatnya. "A... apa? Siapa kamu?", kataku dengan pelan. Laki-laki itu mendadak mukanya merah. Entah kesal atau apa. "Kamu hilang ingatan, Mashiro!?", seru laki-laki itu lagi. Dia mendekat dan memegang kedua pundakku. "Ja... jangan sentuh aku!", seruku. Tiba-tiba saja tubuhku mengeluarkan sinar putih yang terang sekali. "Apa ini?", tanya laki-laki itu, ia melepaskan kedua tangannya dengan terkaget-kaget. Entah apa yang terjadi... "Apa maumu datang kemari?", tanyaku. "Hmm... tentu saja untuk menemuimu, Mashiro!", jawabnya. Aku tak mengingat namaku Mashiro, namaku Arisu, kan? Kenapa dia memanggilku Mashiro? "Si... siapa itu Mashiro?", tanyaku dengan gugup. Laki-laki itu membelalakkan matanya. "Bukannya... itu kamu? Mashiro Himeyaru...", jawabnya. "Namaku Arisu. Arisu Lumiere," balasku. Laki-laki itu tiba-tiba menangis. "A... ada apa!? Kamu laki-laki kan! Kenapa menangis!?", seruku. "Aku tidak peduli... bagiku hanya Mashiro tujuanku hidup... tapi sekarang Mashiro yang kukenal sudah tidak ada...", kata laki-laki itu. Aku merasa sedikit kasihan, tapi nanti... "Maaf... aku tak kenal Mashiro-mu... jadi aku tak bisa membantumu...", kataku pelan. Dia menatapku dengan tajam. "Kenapa!? Kenapa kamu bilang begitu!! Padahal kamulah Mashiro!!", serunya. Aku menjadi ketakutan, tubuhku seperti disetrum aliran listrik. "Ma... maafkan aku!! Tapi aku tak tahu siapa Mashiro!", balasku. Aku kesal sekaligus takut, saking kesalnya air mataku juga mengalir. "Ukh...", bisikku. Tanpa disadari ada beberapa not musik mengelilingiku. "Apa ini...", tanya laki-laki itu. Aku hanya melihat ke arah tanganku. "Ini... kekuatan symphony nomor 99... "Music Symphony"...", kataku. Laki-laki itu hanya diam saja. "Lalu symphony milikmu... symphony nomor 81, "Thunder Symphony"...", lanjutku. Laki-laki itu tampak kaget. "Thunder Symphony katamu!? Yang benar saja!! Aku tak ingin punya symphony atau kekuatan macam ini!!", seru laki-laki itu. "Benarkah? Di ingatanmu tertulis... "Aku ingin memiliki Symphony seperti Mashiro!". Begitu kan?", tanyaku sambil memandang laki-laki itu dengan tajam. "Huh... jangan bercanda... mana mungkin aku ingin memiliki symphony!", balasnya sambil membelakangi aku. "Tapi mustahil kau membuangnya, Tuhan sudah mempercayakan bumi pada orang-orang yang diberi symphony. Termasuk KITA!", kataku lagi. Laki-laki itu tak membalasku, ia hanya diam tanpa bicara apa-apa lagi. "...". Akupun hanya diam saja, melihat punggung laki-laki tak punya malu itu. Akhirnya dia putuskan untuk pulang, sepertinya dia telah kalah... Tapi biarlah...
Esoknya, aku keluar dari rumah sakit, tempatku kemarin dirawat. Aku masih tetap memandangi tanganku yang kemarin mengeluarkan Music Symphony. Bisa dibilang aku adalah orang ke 99 yang membuka symphony. Tapi aku penasaran akan suatu hal... mengapa setiap ada orang yang memiliki symphony mereka akan memiliki tanda di tangannya. "Not musik...", pikirku sambil terus berjalan memandangi tanganku yang sudah terlihat simbol bergambar not musik. "Lho? Tanda ini... tengkorak... maksudnya!?", pikirku lagi. Aku semakin pusing melihat dua simbol bertabrakan dalam tubuhku. "Mashiro...Himeyaru... sepertinya ini milikmu...", kataku pelan. Aku sengaja bersandar di pohon besar untuk merenungkan sedikit arti dari simbol-simbol ini. Tiba-tiba saja aku mendengar... 'Mashiro Himeyaru adalah kamu...'. Siapa yang mengatakannya? Di sekelilingku kosong tak berpenghuni... Aku jadi sedikit... takut. "Kubilang kamulah Mashiro... kamu adalah...". "Tidaaaaaak!!!", seruku. Kepalaku terasa pusing sekali hingga aku ambruk. "Mustahil... aku bukan Mashiro! Aku tak mengenalnya!!", pikirku. Aku sudah sangat pusing, dan pusing yang berlebihan itu membuatku stres... Tapi karena keadaanku melemah dan aku sudah jauh dari rumah sakit aku tidak bisa berbuat apa-apa... sebentar lagi aku juga akan pingsan... Jadi aku terus berteriak dalam hati, "Tolong aku... siapapun... kumohon tolong aku!!". Berharap ada seseorang yang menolongku, aku hanya bisa terdiam dengan nafas yang tak beraturan ini. Dan sedikit lagi aku pasti memejamkan mataku... Tapi tiba-tiba saja, ada memori yang berputar dalam kepalaku. "Monster lemah! Pecundang! Kembalilah ke Perancis! Dasar monster lemah!!". "A...apa?! Aku nggak berbuat apa-apa!!". "Iiih... ucapannya kasar... sudah gitu sok pintar lagi! Kamu kan sudah anak emasnya guru-guru dan kepala sekolah... kalau mau ditolong lebih baik sama pak guru aja deehh!!". "Me...menyebalkan... Ingat saja! Suatu saat nanti, kalian pasti kumusnahkan!! Kalian takkan kuampuni!!". Dan saat itu juga... turunlah hujan badai yang menyebabkan banjir besar di kota itu... saat itulah aku mengenal...
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Kamu baik-baik saja?!". Aku segera terbangun dari mimpi buruk itu. "Kamu... yang kemarin...", kataku. "Ya! Tapi aku punya nama... namaku Aikawa Suzuma!". "A... Aikawa...", pikirku. Saat nama marga itu makin kuingat, munculah memori yang menggangguku. "Arisu, perkenalkan. Dia Aikawa Suzuhara. Mulai sekarang kalian pasti bisa berteman. Kau dan Mashiro...ya, kan!". "Iya mama!!". Senyum polos dan tawa anak kecil yang bersinar membuat kecemburuan di hati seseorang. "Namamu Arisu, ya? Nama yang bagus!". "Te... terima kasih!!". "Meskipun nama itu sebenarnya murahan...". Luka kecil yang timbul di hati seorang gadis lama-lama akan membesar dan menimbulkan kerusakan yang parah. Tapi demi ibu, aku akan mencoba berteman dengannya...
.
.
.
.
.
.
"Arisu... rumahmu...". "Ada apa Mashiro? Rumahku ke...". Mata yang mungil dan tenang langsung berubah menjadi mata amarah dendam akan pengkhianatan. "Ibu... ibumu masih di dalam, kan?". "Kak Suzuhara?". "Ka... kalau kamu sudah tahu ibu Arisu di dalam, mengapa kamu tidak menolongnya!?". Air mata yang mengalir dari kedua mata sang gadis pun semakin deras bercucuran. "Arisu! Kamu mau kemana!?". "Aku akan...menolong ibu!!". "Mustahil kau bisa menolongnya, ibumu kan sudah mati!". "Pasti...kebakaran...ini...ulah...kak Suzuma...". "Bicara apa kamu? Gadis kecil yang belagu!". "Arisu... Ja... jangan menangis! Kak Suzuma hanya...". "DIAM!! Seandainya dia nggak ada! Seandainya aku nggak dilahirkan! Seandainya Ibu nggak di rumah! Pasti semua nggak akan begini!!". Gadis di sebelahku hanya mendengar dan syok kembali, sepertinya kata-kataku berlebihan... benar... ini ulah Suzuhara... ulah keluarga Aikawa...
"Aku takkan memaafkan kalian!".
"A... apa? Arisu?", tanya Suzuma. "Keluar dari sini!", kataku dengan pelan. "A... apa!? Suaramu terlalu pelan!", kata Suzuma lagi. "Kubilang, KELUAR DARI SINI! CEPAT!!", seruku dengan kesal. Suzuma berjalan keluar sambil berlari. Dan nafasku kembali tak beraturan. Mengapa memori itu terus menghantuiku? Aku tak tahu... aku akhirnya mengingat siapa itu Mashiro dan siapa diriku sebenarnya... Maaf Mashiro aku...
Aku akan...meminjam tubuhmu sebentar... hingga dendamku berhasil terbalaskan...
+++++++++++++++++
Sabtu, 09 Februari 2013
Devil Goddes
Suzuma Ken, gadis remaja berusia 16 tahun, seorang dewi kegelapan. Tempat favoritnya adalah Aoi sōgen, padang rumput di taman perantara yang dingin. Pekerjaannya adalah membunuh manusia bumi yang tidak bisa bersikap baik. "Suzuma-sama, apa Yang Mulia memberimu tugas?", tanya seorang gadis berambut merah muda panjang bernama Shizuka. "Tidak... Yang Mulia memang sangat lambat... Membuatku naik darah saja!", balas Ken. "Ta...tapi Suzuma-sama tidak boleh berbicara lancang begitu!! Kalau Yang Mulia tahu, bisa-bisa Suzuma-sama dibunuh!", tegur Shizuka dengan nada panik. "Terserah saja... mau dibunuh, dicincang, dicabik-cabik, bahkan dikutukpun aku takkan mati...", balas Ken lagi. Shizuka hanya bisa terdiam dan terus memandang punggung Ken saja. "Ada apa, Shizuka?", tanya orang yang tiba-tiba muncul di belakang Ken dan Shizuka. "Kagami-sama?!", seru Shizuka. Ken yang tadinya tenang langsung menoleh ke belakang dengan tatapan tidak enak. "Apa maumu kemari, Kagami!?", tanya Ken dengan nada cetus. "Hah? Payah! Kamu kira ini taman milikmu?!", jawab gadis bernama Kagami itu. "Siapa juga yang bilang ini tamanku?", tanya Ken balik. Kagami jadi merasa semakin panas akan kata-kata Ken. "Beraninya kamu!! Dasar anak badung!!", seru Kagami dengan kesal. "Mau badung atau bodoh tidak masalah... yang penting aku mau kamu keluar dari sini!", seru Ken. Kagami menunduk dan mengarahkan tangannya ke depan. "Beraninya kamu menyuruhku! Dasar anak babi!", kata Kagami yang mulai mengumpulkan bola energi untuk membentuk senjata. "Kenapa harus takut?", kata Ken. "Rupanya kamu...berniat melawanku, ya?", lanjut Ken sambil mengarahkan tangannya ke samping. " Itu tujuanku sejak awal...", jawab Kagami. "Baiklah jika kamu memaksa... aku akan melayanimu...", balas Ken sambil menebaskan senjatanya yang sudah terbentuk. Shizuka melihat senjata Ken yang sudah jadi itu. "I... itukan... Dark Shadow Spear... Apakah Suzuma-sama serius?!", pikir Shizuka. "Shizuka... menjauhlah... atau kau akan kena serang.", kata Ken. Shizuka mengangguk dan berlari menjauh. "Hihihi... kalau Yang Mulia tahu ini... mereka pasti akan kena hukuman berat!".
"Tak kusangka, kamu jadi begini hebat... kalau kamu terus berlatih maka kamu akan jadi Dewa Kematian...", kata Kagami dengan nada sombong. "Jadi tak jadi, keinginanku hanyalah mati...", balas Ken. "Apa?! Jangan bercanda!! Kalau kamu mati, saat dilahirkan kembali kau akan jadi manusia biasa!", balas Kagami. "Itulah keinginanku...", kata Ken. "Huh, konyol! Karena itu menyerahlah padaku!! Dasar wanita tak berguna! Aku pasti membuatmu mati!!", seru Kagami sambil mengarahkan sabitnya ke kepala Ken. "Maaf saja, tapi itu mustahil! Kalau aku bilang mustahil ya mustahil!", balas Ken sambil mengarahkan senjatanya ke jantung Kagami. "Ha... haha... memangnya kenapa bisa mustahil!?", tanya Kagami. "Sejak kecil, ada seseorang yang sengaja menculikku dan memasukkan benih keabadian dalam tubuhku, walaupun disiksa atau dilukai, tapi aku akan segera pulih... oleh karena itulah aku sengaja menerima pekerjaan merepotkan ini. Mau protes?", tanya Ken. "Alasan konyol! 100% konyol! Itu pasti cerita karanganmu!!", seru Kagami yang mulai menggila. "Aku tidak bohong!", balas Ken yang semakin panas. "Mati saja kau!", seru Kagami. "Kubilang mustahil!!", balas Ken. Mereka pun beradu senjata, senjata mereka berbenturan dengan keras. "A... aku nggak akan ka...kalah... dari orang sepertimu!!", kata Kagami. "Huh, aku juga takkan kalah darimu!", balas Ken. Senjata merekapun mulai bergetar karena ditekan dengan tenaga penuh. "Sword Guardian... Change!". "A... apa itu?!", seru Ken yang mundur karena kuatnya cahaya yang keluar dari senjata Kagami. "Dewi, ya...... kelemahanmu telah terbuka...", kata Kagami. "A... apa maksudmu?!", tanya Ken. "Makanya... kamu kusebut dewi bodoh...", balas Kagami dengan sombong. "Hah? Jangan bercanda!! Dragon Wings!!", seru Ken yang juga mulai meng-upgrade (...) senjatanya dan mengeluarkan warna hitam kelam dan aura naga. "U... uukh!!!", seru Kagami yang merasa matanya kemasukan sesuatu. "Benih kegelapan... bukalah jalanmu... tanamkan bibit beracun itu di dalamnya dan... ledakkan!!", seru Ken. Blaaaaaaarrrr!!!...
Kehebohan pun terjadi setelah ledakan itu. Ken terkena ledakan dari benih kegelapan yang ditanam di tubuh Kagami. "Huh... tak kusangka kamu bisa bertahan hidup...", ledek Ken yang tubuhnya penuh luka. "Hahaha... sebelum kau meledakkan benih aneh itu, aku membungkus benih itu dari dalam tubuhku lalu menahan ledakannya!", balas Kagami. "Huh, tapi keberuntungan takkan terjadi dua kali!", ledek Ken lagi. "Huh, tentu saja!!", balas Kagami. Senjata mereka kembali seperti semula dan mereka mengucapkan mantra lagi. "Dengarlah suara dari tuanmu yang berseru memanggilmu! Pancarkanlah kebencianmu! Ledakkan kebencianmu! Hajar musuhmu dengan api neraka! Ledakkan!! Hancurkan!!! Musnahkan!!!! Dan berubahlah sesuai kehendakku!!!", seru Ken dengan serius.
Kagami tak mau kalah, ia juga mengucapkan mantra. "Lakukan perintah dari tuanmu! Balaslah hutang budimu!! Janganlah larut dalam kebencian!! Buanglah!!! Lenyapkanlah! Hancurkanlah!! Berubahlah menjadi alat yang berguna!! Bantulah tuanmu!! Bayar tuanmu!! Bayar tuanmu dengan air suci surga!! Hancurkanlah segala kejahatan!!!", seru Kagami.
Senjata merekapun berubah menjadi sangat berbeda. "Berubahlah menjadi Dakness Flame!!". "Berubahlah menjadi Holy Water!!". Dan mereka kembali saling menyerang.
Trang...
"Senjatamu... payah!!", ledek Ken.
"Huh, beraninya kau mengejek senjataku!!", balas Kagami.
"Kita akhiri saja! Aku sudah malas berlama-lama denganmu!!", seru Ken geram.
"Baiklah! Aku juga sungkan melawanmu terus!!", balas Kagami.
"Dark... Flame!!!".
"Holy Water!!!".
Jurus itupun saling berbenturan dan menimbulkan warna tak jelas. Abu-abu.
Di saat dua jurus itu benturan, kedua gadis itupun maju untuk saling beradu senjata.
"Matilah kau!!", seru Kagami.
"Dasar keras kepala!!", balas Ken.
Dan kedua senjata itu pun berbenturan dengan amat sangat keras.
Kretek... Praaaaaaaang...
Kedua senjata itu patah dan kedua gadis itu terpental ke arah yang berlawanan. Ken terpental ke arah batu besar, sedangkan Kagami terpental ke arah pohon besar hingga pohon itu patah.
Kedua gadis itupun sama-sama tak sadar diri.
Bersambung...
Langganan:
Komentar (Atom)

